Kisah ini terjadi pada salah seorang teman saya, ketika shalat berjama’ah di masjid dekat rumah kos. Saat itu selesai shalat maghrib berjama’ah, teman saya melanjutkan dengan shalat sunnah rawatib. Tampaknya teman saya ini tidak menyadari kalau ternyata dia dari tadi diawasi oleh sang imam masjid. Begitu selesai sang imam mendekatinya, teman saya lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman tapi apa mau dikata sang imam menolak untuk bersalaman. Lalu sang imam meminta teman saya untuk tidak pulang dulu dan berbincang dengannya sebentar. Kemudian dengan nada interogasi, keluarlah kalimat itu, “Kamu tarekat apa?”, tanyanya gusar. Dengan nada polos dan kaget teman saya menjawab, “Tidak tahu…”. “Saya sudah selesai shalat sunnah kok kamu belum selesai, lama sekali….jangan-jangan kamu artikan ya bacaannya.…” tanyanya lebih lanjut. “Iya…pak, tapi dalam hati”, balas temanku polos. Lalu terjadilah dialog lebih lanjut yang tentunya masih dengan nada layaknya suatu interogasi atau sidang skripsi, dengan tujuan tentu mengorek keterangan jangan-jangan teman saya ini ikut aliran sesat yang memang sedang marak di bahas di berbagai media massa.
Sedemikian paranoid-kah masyarakat kita, sehingga orang asing yang shalat di masjid lalu kita curigai sebagai penganut aliran sesat. Lalu dengan penampilan atau cara beragama dari masyarakat umumnya yang belum tentu ibadah yang dilaksanakan kebanyakan orang sudah sesuai syari’at, sedangkan belum tentu yang di lakukan minoritas itu ajaran sesat. Tentu diperlukan ilmu untuk menilai suatu perbuatan itu sesat atau bid’ah, dengan membandingkan ada tidaknya contoh dari Nabi shallahu’alaihi wasallam. Untung saja hal ini tidak terjadi pada saya, padahal saya kadang-kadang memakai gamis ala timur tengah saat shalat di sana dan saya juga mengerak-gerakkan jari telunjuk saat duduk tahiyyat yang tidak dilakukan kebanyakan jama’ah.
Mungkin yang bertanya-tanya seperti itu adalah masyarakat sekitar kampung saya disana ketika saya pulang akhir Ramadhan lalu. Saat saya shalat menggunakan gamis kesayangan saya itu, mungkin tetangga-tetangga saya bertanya-tanya ikut aliran apakah anak ini. Lalu ditambah pula dengan cara shalat menggerak-gerakkan jari telunjuk, tidak mengusap wajah ketika salam, bersalam-salaman seusai shalat, dzikir berjama’ah keras-keras, atau melantunkan pujian-pujian antara adzan dan iqomah yang tentu dianggap aneh oleh jama’ah yang lain. Ini membuktikan benarnya sabda Nabi shallahu’alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya Islam pada permulaannya asing dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka beruntunglah bagi al-ghuraba’ (oran-orang yang asing) (HR. Muslim)
Saya toh tidak mengambil pusing, selama mereka tidak menuduh saya macam-macam secara terang-terangan di depan saya. Saya akan diam saja, saya tidak atau belum berani menjelaskan dan berdakwah bahwa apa yang mereka lakukan adalah bid’ah yang sesat. Karena seperti diketahui bahwa kebanyakan masyarakat pedesaan di jawa umumnya awwam dan hanya taqlid pada kyiai-nya atau yang lebih parah yang beraliran syirik kejawen dan pengikut tasawwuf. Berbagai ritual bid’ah, khurafat dan syirik masih berkembang subur di kampung saya. Bahkan perilaku Quburiyyun sangat digemari disana, karena banyaknya makam orang yang dianggap shalih dan bahkan makam salah satu walisongo pun ada. Padahal terdapat banyak hadits yang melarang menjadikan kubur-kubur itu sesembahan dan tempat ibadah, salah satunya sabda Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam ketika beliau hendak meninggal dunia,
“Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhary-Muslim)
Sangat menyedihkan memang gambaran keadaan disana, belum ada dakwah tauhid yang benar. Orang-orang yang menegakkan sunnah dan memberantas bid’ah masih jarang dan bahkan tidak ada. Yang menjadikan saya bahagia adalah tanggapan orang tua saya yang tidak mempermasalahkan penampilan saya yang berubah. Saya harus menunjukkan sikap yang lebih baik daripada saya yang dulu karena dakwah yang bisa saya lakukan sementara hanya berupa perilaku, saya belum berani melarang dengan terang-terangan kepada ayah saya untuk tidak ikut tahlilan maupun acara-acara kenduri yang bersifat bid’ah. Bukankah dakwah kepada orang tua yang belum paham harus diimbangi dengan kewajiban birrul walidain dahulu. Mereka tetap mempercayai bahwa saya masih berada dalam jalur yang benar, bahkan kakak perempuan saya pun memahami apa yang saya lakukan sudah sesuai sunnah. Kami pun jadi sering berdiskusi, saya juga membelikan majalah-majalah dan buku-buku bermanhaj salaf untuk kakak saya dengan harapan beliau bisa lebih memahami manhaj ini.
Namun keluarga dan kerabat yang lain masih belum memahami apa yang saya lakukan. Sebagai contoh saat silaturahmi ketika lebaran tiba, saya tidak mau berjabatan tangan dengan yang bukan mahram saya. Berbagai sindiran pun dilontarkan, namun saya berusaha menjelaskan dengan pelan-pelan masalah ini. Sedikit demi sedikit saya pun menjelaskan berbagai permasalahan yang saya ketahui hal tersebut sebagai bid’ah yang tidak ada contohnya dari nabi Shallahu’alaihi wa sallam.
Namun untuk menjelaskan permasalahan ini kepada orang yang lebih tua memang harus sabar dan dengan cara yang baik, sebab mereka sudah terlanjur yakin bahwa amalan yang diberikan kyiai-nya itu benar dari Islam. Saat saya mengundang teman-teman SMP saya berkumpul dirumah, saya juga sedikit berdiskusi dengn teman-teman lama saya dari yang ngaji di pesantren orang-orang NU (Jawa Timur apalagi Tuban merupakan markas besar NU yaitu di Ponpes Langitan) sampai yang kuliah dan ikut tarbiyah hizby. Masih dengan gamis kesayangan saya, mereka mengira saya adalah karkun (jama’ah tabligh), saya baru sadar bahwa nama jama’ah tabligh sudah terkenal kalau di kampung. Itulah sekelumit cerita dari kampung saya, suatu saat saya bercita-cita untuk berdakwah menegakkan sunnah memberantas bid’ah disana jika Allah membei saya ilmu dan kesempatan insyaallah.
Lain lagi cerita sewaktu saya bertugas melakukan audit di daerah Blitar saat bulan Ramadhan lalu. Saat tim saya melakukan exit briefing (istilah pamitan bahwa audit telah selesai) di Pemerintah Kota Blitar, yang saat itu juga harus bertemu dengan aparat Bawasda (Badan Pengawas Daerah). Kepala Bawasda ini tidak isbal, begitu dia mengetahui saya juga tidak isbal dia seperti ingin tahu apakah saya dan dia berada pada satu aliran yang sama. Kemudian dia bertanya kepada saya dimana saya tinggal di Jakarta, lalu mengaji pada siapa. Sejurus kemudian dia menunjukkan suatu kode-kode dengan tangannya, dan berkata kalau kamu tahu artinya ini berarti kita sedulur (saudara). Saya yang saat itu tidak mengetahui apa maksud bapak ini, dengan polos hanya mengelengkan kepala. Tampaknya waktu kami pamitan pun bapak ini masih penasaran dengan aliran saya, saya pun demikian masih bertanya-tanya maksud bapak ini.
Selang waktu beberapa lama, saat saya di Jakarta setelah membaca beberapa buku dan secara tidak sengaja menemukan suatu artikel di internet. Saya baru mengetahui bahwa bapak kepala Bawasda Provinsi itu adalah salah seorang jama’ah LDII sesat. Kuat dugaan saya karena samar-samar saya ingat kode tangannya dulu adalah bilangan 354, kode orang-orang LDII. Ditambah lagi cerita dia tentang keinginannya membuat pesantren di dekat rumahnya di Kediri yang notabene merupakan sarang LDII takfiri sesat menyesatkan ini.
Sungguh saya sangat bersyukur, bisa berkenalan dengan manhaj yang haq ini tanpa terkena syubhat-syubhat paham sesat yang banyak tersebut. Saya senantiasa berdoa agar berada tetap dalam jalan hidayah, jalan golongan yang selamat. Walaupun, telah banyak tuduhan dusta di lontarkan kepada salafiyyin, saya akan selalu ingat perkataan syaikhul Islam Ibnu taimiyah dalam majmu fatawanya, “Tidak tercela orang yang menunjukkan manhaj salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib untuk menerimanya. Karena manhaj salaf tidak lain adalah kebenaran”.
Pengikut-pengikut bid’ah, khurafat dan quburiyyun yang antipati terhadap dakwah salaf yang penuh hikmah ini dengan hawa nafsunya menuduh salafiyyin wahabi sesat. Saya tentu akan membalas dengan berkata,”Bila pengikut Nabi Muhammad shallahu’alaihi wa sallam adalah wahhabi, maka saksikanlah bahwa aku seorang wahhabi..!!!”





















January 2, 2008 at 11:49 am |
Wah… nggak enak ya… selesai shalat kok diinterogasi… tapi mungkin juga pertanyaan biasa saja… hanya memastikan… hanya tampangnya sangar, jadi pertanyaan biasa dirasa paranoid….
Namun, memang seeh, kadang saya juga ngerasa (ngebatin), kok imam mimpin sholat, kayak kebelet pipis… apalagi pengalaman lalu shalat taraweh yang totalnya 23 rakaat. Ngebut benar.. kayak mau buru-buru ke surga….
————————
Hehe iya mas, untung bukan saya yg ngalamin
sekarang udah clear kok urusannya…
January 7, 2008 at 7:10 am |
alhamdulillah sejak kecil aku dah ngaji
meski agak malas2an, tapi ya tau dikit2lah.
dan aku sangat bersyukur bisa mengaji qur’an hadits
meski kadang menyesal kenapa dulu malas2an mengaji
ya terserahlah klo mo anggap sesat
gue sih nyaman2 aja
bgku pribadi, perbedaan itu kadang bs membuatku tersenyum
January 9, 2008 at 8:30 am |
hehehe
eh tengkyu ya bukan jazakalloh?
gw seh ga yakin ma kabawas tadi, not like that
pgn tau knp dikira jamaah tabligh
dan juga pgn tau kejadian2 apa yg mbuat perkiraan mu berubah
sorry ga tau alamat emailmu,
email me @
rizqieky@yahoo.com and
di tembusin ke kiwi.354@yahoo.com
jazakalloh
January 20, 2008 at 10:38 am |
wah,,wah,, wah,,
aku tersanjung..
sekedar bwt ngirim email bwt njwb pertanyaanku aja harus mengumpulkan tenaga dan waktu luang yang cukup
makasih ya, honest
sekedar saran, klo ada waktu coba studi lapangan, tidak cuma studi pustaka
cz sejarah tidak selalu tertulis seperti apa yang sebenarnya terjadi,
oh ya, ins.a semester 2 nanti ada asrama hadist ibnu majah jilid 2
August 5, 2008 at 7:31 am |
Assalamu’alaikum Wr Wb
nuwun sewu…
semoga kedamaian merasuk dlm ruhmu,
sehingga jiwamu akan mampu memandang dengan pandangan hakiki…
bukan dengan pandangan mata koyor,
jgn2 setiap statement yang kita publikasikan bukan lahir dari jiwa yg tenang,melainkan melalui nafsu dan amarah karena tidak sesuai dengan cara berfikir kita, kalo agama hanya dilandasi “hanya” dengan akal fikiran yg sangat terbatas, maka hancurlah agama itu…
jangan2 tuduhan kafir kita, tuduhan bid’ah kita, tuduhan sesat kita kpd org lain justru berbalik kpd diri kita sendiri
kita akan mengenal diri kita hanya dengan melalui jalan ma’rifat ilallah…
maka carilah sosok Mursyid yang kamil mukamil, yang ilmunya nyambung, dan sanadnya jelas kpd Rosulullah, SAW…sang pemberi syafaat, kekasih hati kita, penghias mata kita
engkau akan menenggak samudra kedamaian di sana…
Man ‘arofa nafsahu faqod arofa robbahu…
kenalilah dirimu sendiri!!!
beristikhorohlah setiap kita akan mengambil keputusan
termasuk dalam berkeyakinan tentang pemahaman islam kita,
bertafakurlah dengan lubuk hatimu yang terdalam…
sudah benarkah islam kita??!!
jgn sibukkan diri kita dengan banyak mengoreksi orang lain,sementara kita tidak pernah menghisab diri kita sendiri…
jgn pernah memvonis golongan lain, karena itu adalah Hak Prerogatif Gusti Allah Ta’ala!!!!!
Wallaahu a’alam bishshowaab…
yaa Allah ampunilah kealpaan kami….
astaghfirullaahal’adziim….
Allahumma anta Robbi laa ilaaha illa anta kholaqtanii, wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wawa’dika mastatho’ tu, a’uudzubika min syarri maa shona’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfirudzdzunuuba illa anta…
semoga kita dipertemukan di dalam surga-Nya kelak, Amiin yaa Allaah ya Robbal’aalamiin…..
mohon maaf akhi…
Wassalamu’alaikum Wr Wb
August 5, 2008 at 8:25 am |
Saya bukan orang bodoh pak….
Maap-maap saja kalo mau membodohi orang laen….
Gak usah sok banyak ceramah pak….
Cukup bagi saya data dan fakta yang ada atas kesesatan Jama’ah Kalian….
Berbicaralah dengan ilmu, jangan Anda kedepankan ritual Bithonah kalian para pendusta!!!
August 6, 2008 at 6:32 am |
….alhamdulillah
masih ada yang mengingatkan, nek aku wong bodoh…
maturnuwun nggih mas, samudraning maturnuwun
KAMI TIDAK BERANI MENGKAFIRKAN SAUDARA KAMI SESAMA ISLAM!!!!
INSYAALLAH ANDA SAUDARA KAMI!!
SURGA ATAU NERAKA ITU HAQ PREROGATIF GUSTI ALLAH SWT, BUKAN URUSAN KITA!!!
tapi….
na’udzubillaahi min dzaalik
masih ada to orang yang katanya islam tapi nggak mau di ajak beristikhoroh untuk menanyakan kepada Gusti Allah Swt, ya hanya kepada Allah Robbul ‘Aalamiin tentang kebenaran menurut Dia SWT bukan menurut kita…
banyak istighfar ya mas ben atimu ga garang koyo ngono
nek kowe ngaku umate kanjeng Rosul SAW, mestine atimu yo nyontoh atine kanjeng Rosul to?!…
zawiyyah kami (saya salik yang berminat ngaji Thoriqoh yang Mu’tabaroh bukan orang LDII) sesat atau tidak hanya Gusti Allah yang mengetahuinya, bukan anda…
August 6, 2008 at 6:39 am |
MANA SMILENYA MUSAFIR KECILKU??
SENYUM ITU IBADAH LHO….
MAAF YA KALO SAYA SALAH, AND SOK CERAMAH
AFWAN AFWAN AFWAN……
SAYA MOHON DIRI YA
WASSALAAMU’ALAIKUM WAROHMATULLAAHI WABAROKAATUH
August 6, 2008 at 6:57 am |
Panjenengan cah Tuban to…
Sering2lah sowan ke ulama di sana
Saya usulkan coba Panjenengan sowan ke KH. Asrori Ishaqi, Kedinding Lor, Surabaya, atau ke Gus Mus di Rembang, atau ke PONPES Langitan Tuban, atau ke al-Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan atau ke KH. Sholahuddin Abdul Jalil Mustaqiem,Ponpes PETA tulungagung…
August 7, 2008 at 5:54 am |
hehe…mesa’ke….
Rahasia hidayah Gusti Allah memang luar biasa, ane tidak tahu opo kowe kebagian po ora….
S3,S4 atau S5 itu sanes jaminan mas!!
Semoga Gusti Allah mengampuni kesombongan dan kecongkakan anda…
coba Al-Qur’an-nya dibaca lagi, plus hadits-nya jangan ditinggal,
nek kowe ora mampu coba ente baca literatur di bawah ini :
coba tanyakan ke ustadz anda (syukur kalo ente yang ngakunya salaf, bisa baca kitab2 ulama Salaf…Sudah bisa???),tentang isi kitab Ad-Durr al-Mukhtar Vol ! P. 3 (pendapat IMAM HANAFI)), atau Kashf al Khafa & Muzid al-albas (pendapat IMAM SYAFI’I)),Maqasid at-Tauhid P.20 (IMAM NAWAWI), Majmu Fatawa,dar-ar Rahmat, cairo Vol 11 hal 497,599,510 Vol 10 (IBNU TAIMIYYAH), atau yang anda ngaku pengikut (Katanya anda WAHABI to?!)ABDULLAH Ibn MUHAMMAD Ibn ABDUL WAHHAB dalam ar-Rasa’il ash-shakhsiyya, hal 11,12,61 dan 64
ini tukar fikiran nggih mas, jangan jadikan saya musuh sampeyan
Semoga cinta dan kedamaian senantiasa merasuk jiwa kita dan umat muslim dan mu’min di timur dan di barat, yang sudah wafat maupun yg masih hidup
Aamiin ya Robbal ‘aalamiin…
August 7, 2008 at 6:21 am |
nb : coba dibuka juga ar-Rasail as-Sakhsiyya-nya MUHAMMAD ibnu ABDUL WAHHAB Vol I Hal 11 kalo belum mampu baca yang orisinil (katanya anda bukan orang bodoh to?!, so muga2 bisa baca yang orisinil) baca yang terjemahnya ya bos…
…
and selamat mjd musafir, smg anda, saya, saudara2 kita muslimin/at dan mu’minin/at bisa meniru langkah teladan kita Rosulullah SAW, kemudian juga para Sahabat (Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, Ali Rodliyallaahu ‘Anhum, karromallahu wajhah dan sahabat yang lainnya), para Tabi’in, Tabi’ut tabiin, and jalan para salafushsholih yang sebenarnya sehingga dapat mengantarkan kita bisa sampai kepada “Tujuan” yang diidam2kan oleh segenap hamba Allah yang beriman.
ngapurane y mas….
Amiin ya Robbal ‘alamiin
August 8, 2008 at 2:44 am |
Nah itu kan…masuk juga pendapatnya Ibnul Qoyyim al Jauzi…
itu sepercik dari makna “ulama”..ya hanya sepercik, sayangnya anda tidak memaknai kalimat mulia itu secara substansial, tidak mentafakuri dengan hati, tapi dgn logika semata…sehingga membanding2kan antara ulama dengan berbagai jenis “DEWA-DEWA GELAR”
boleh to saya tambahi sedikit pendapat Al-Jauzi….
Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawwuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh by Sufyan ath-Thawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen). Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh”
yang kayak gitu (Ulama sebagai Warotsatul anbiya’) di Indonesia, bahkan yang menyandang gelar predikat kekasih Allah (Laa ya’riful waliy illal waliy..tak ada yang mengetahui seorang wali kecuali sesama wali Allah) insyaAllah jumlahnya tidak sedikit
…seharusnya fikiran yang mengikuti hati, bukan hati yang menuruti fikiran, setuju ngga?!mudah-mudahan kita tidak seperti ikan yang keluar dari samudera kehidupannya…..
August 8, 2008 at 2:51 am |
oiya…kenalkan ane punya nama asli Harjo santoso, asli jawa tengah, sekarang lagi menjaring rezeki di kalBar, dapat amanat sebagai PNS juga….
Smile ya sobat….;)
August 8, 2008 at 2:56 am |
nah kena to pernyataanya Ibnu Qoyyim al Jauzi…..
August 9, 2008 at 5:48 am |
-deleted-