
Judul Buku : Sandiwara Langit
Tebal Buku: 200 halaman
Penulis: Al Ustadz Abu Umar Basyier
Penerbit: Shofa Media Publika
Harga: Rp28.000,00
Cerita Saya dibalik buku ini
Saat itu saya sedang ada keperluan untuk berkunjung kembali ke Ibu Kota. Di sana saya memanfaatkan kesempatan untuk bertemu dengan beberapa ikhwan yang selama ini hanya saya kenal via internet (ana uhibbukum fillah). Dan bertemulah kami semua di tempat yang telah disepakati yaitu saat kajian ustadz Abdul Hakim di masjid Al Mubarak Gajah Mada. Setelah kajian usai, kebetulan saya juga berniat untuk pergi ke kwitang di bilangan senen untuk memenuhi kembali hasrat lama saya berbelanja buku di sana seperti dulu kala saat saya masih di kantor pusat. Dan secara kebetulan pula, salah satu ikhwan (abu yahya) bermaksud untuk menitipkan sebuah buku kepada saya untuk diberikan kepada rekannya (abu naufal) yang juga tinggal di Makassar.
Di kwitang kami bertemu kembali dengannya, setelah memberikan buku yang dimaksud ikhwan tadi berpamitan dengan saya, tak lupa saya ucapkan terimakasih atas pertemuannya dan iseng saya tanyakan dimana dia membeli buku tersebut. Kami segera bergegas mencari toko yang dimaksud, karena menurut penuturan ikhwan tadi, di toko ahlussunnah dan toko buyung (yang biasa saya sambangi) telah habis buku tersebut. Karena saya tertarik dengan cerita ikhwan tadi tentang buku ini dan juga di dukung oleh kegemaran saya menikmati tulisan sang ustadz di majalah nikah akhirnya saya putuskan untuk membeli juga.
Resensi Sederhana menurut musafir kecil
Saya akan mulai dengan pengantar dari penerbit yang bagi saya cukup mewakili untuk menggambarkan buku ini, dan berikutnya akan saya tuliskan beberapa sinopsis singkat dari paragraf-paragraf penting yang terdapat dalam bab-bab buku ini.
Adalah Rizqaan, tokoh utama dalam buku ini, salah satu contoh, dari segelintir umat manusia yang secara apik dianugerahi kekuatan dalam menjalani semua takdirnya, yang teramat berat dan sakit menyayat, namun begit penuh hikmah na harum dan indah memikat.
“Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperolah kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut istrinya.” (Riwayat Ahmad dan Abu dawud)
Ia adalah pemuda shalih, yang berjuang keras menyelamatkan diri dari fitnah membujang, dengan segera menikah dengan segala keterbatasan yang ada. Modal belum ada, pekerjaan pun tak punya. Dan Halimah pemudi yang juga shalihah, putri pak rozaq, seorang pengusaha kaya raya menjadi pilhannya. Meski dari keluarga apa adanya, sebagai muslim idealis, ia tak gentar menemui keluarga Halimah, untuk maju meminang. Terkesan nekat, tetapi begitulah, selama itu adalah kebenaran yang diyakin, pantang bagi rizqaan untuk bersurut langkah.
Keunikan kisah ini, dimulai ketika pak rozaq mau menikahkan mereka, namun dengan satu syarat. Bila dalam sepuluh tahu ia tidak bisa “sukses” (baca: kaya raya menurut barometernya) dan “membahagiakan” Halimah, maka ia harus menceraikannya.
Ah, hidup memang benar-benar penuh hal tak terduga, yang kadang begitu sulit dipercaya. Yang tak jarang memaksa kita untuk menerima realita, bahwa itu memang benar terjadi adanya. Selama sepuluh tahun itu, mereka makin menemukan cinta sejati, cinta hanya karena dan kepada Allah semata. Makin kuat, mengakar dan menghebat, lebih dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Mengokohkan jiwa mereka dan menhadapi segala badai yang menerpa, dari kematian ayah Rizqaan dala kebakaran pabrik, yang juga membangkrutkan usahanya, hingga berujung pada perceraian yang dipaksakan, demi menepati perjanjian. Atau kisah kematian Halimah yang begitu dramatis, sampai kebesaran hati Rizqaan memaafkan ‘dalang’ penyebab kebakaran sekaligus kematian ayahnya.
Yang istimewa, cerita yang tersaji dalam buku ini, adalah pemaparan kembali dari kisah nyata yang-insyaAllah- benar-benar terjadi, untuk bersama kita petik hikmahnya. Makin memikat, saat penyusun kisah, Ustadz kami Abu Umar Basyier Al-maedany, juga menyisipkan dalil-dalil Al Qur’an dan Assunnah untuk makin memperkuat bahasan.
Sangat berbeda dengan buku “sejenis” yang terlanjur meracuni umat, dengan kisah fiktif, sandiwara atau satra penuh rekayasa. “Racun” tersebut semakin kabur dan sulit dikenali, dengan pelabelan Islami yang sangat dipaksakan, entah itu pada novel maupun cerpen murahan dan kawan-kawannya. Bagaimanapun, secara umum Islam tidak pernah mengajarkan dusta untuk mencapai –semulia apapun- tujuannya.
Sinopsis singkat (bagian warna adalah kutipan dari buku)
Pria Muda yang ingin menikah
“Begini ustadz. Usia saya sekarang baru 18 tahun. Namun terus terang, saya sudah ingin sekali menikah. Saya khawatir terjebak dalam perzinaan, bila saya harus menunda menikah lebih lama lagi.” Tanpa sungkan pemuda itu menceritakan keinginannya. Cerita itu sendiri sejatinya sudah memuat pertanyaan. Namun saya ingin tahu lebih jauh. Saya biarkan dia terus bercerita.
“Saya sadar, saya masih terlalu hijau untuk menikah. Tapi saya lebih sadar, bahwa tanpa menikah, saat ini saya merasa tidak kuat menahan godaan syahwat. Saya telaten puasa dawud satu tahun ini, untuk menjalankan sunnah Rasul. Gejolak itu memang teredam sebagiannya. Namun yang masih tersisa begitu kuat. Dan saya merasa tersiksa. Apa saya sudah layak menikah ustadz?”
Berikutnya terjadi tanya jawab antara pemuda tersebut dan sang ustadz, seputar pernikahan, kondisi pemuda tersebut yang memang belum mapan, dan tidak mempunyai pekerjaan, dan kemauan dari calon mertuanya untuk menikahkan putrinya dengan pemuda yang sudah mapan. Sang ustadz pun menyarankan agar pemuda tersebut memusyawarahkan hal tersebut dengan orang tua sang calon.
Kesepakatan atau perjudian?
“Calon mertua saya itu ternyata orang yang berpendirian kuat, tapi ambisius. Ia bersedia menikahkan saya dengan putrinya, tapi dengan sebuah tantangan.”
“Tantangan”
“Ya. Ia menantang saya, dengan justru tidak akan membantu kami, bila kami menikah. Ia memang bukan konglomerat ustadz, tapi hidupnya sangat berkecukupan. Setidaknya ia bisa membantu kami bila suatu saat kami hidup kesusahan. Dan ia sesungguhnya tak ingin putrinya hidup serba kekurangan sepanjang hayat. Tapi bila sudah berkeluarga, ia ingin putrinya tidak lagi bergantung kepadanya. Ia menantang bahwa dalam sepuluh tahun saya harus dapat memberi penghidupan yang layak buat putrinya. Kami sudah harus memiliki kehidupan yang berkecukupan. Bila tidak, ia meminta saya menceraikannya. Dan uniknya ia meminta hal itu diucapkan saat akad nikah, sebagai syarat”
Pemuda dan sang ustadz kemudian berdialog tentang hukum adanya syarat seperti itu.
Sosok kedua tokoh utama (dalam 2 bab)
Pada bab berikutnya, digambarkan latar belakang kehidupan pemuda shalih bernama Rizqaan ini dan juga pemudi shalihah bernama Halimah, yang nampaknya mempunyai beberapa kesamaan dan idealisme yang membuat mereka cocok satu sama lain. Rizqaan adalah seorang penuntut ilmu yang gigih yang langka dimana dikala kalangan pemuda yang lainnya larut dalam kehidupan dunia muda dengan beragam fenomenanya. Halimah adalah sosok muslimah yang teguh menjalani fitrahnya menjadi seorang muslimah kaffah dilingkungan keluarga yang jauh dari nilai agama.
Lembar-lembar kehidupan (dalam beberapa bab)
Dan bab-bab selanjutnya adalah torehan tinta dari perjalanan panjang dan melelahkan dari babak-babak kehidupan dua orang muda-mudi dalam mengayuh dayung sebuah biduk kecil bernama rumah tangga yang mereka bangun dengan dasar ketaqwaan kepada Rabb mereka. Bermacam ujian dan cobaan yang digambarkan, namun senantiasa dihadapi oleh mereka dengan suatu sikap yang sudah selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Juga sampai pada masa-masa cobaan yang mereka sudah bukan dalam bentuk kesulitan namun justru suatu nikmat yang bisa saja menjerumuskan mereka ke jurang kenistaan.
Rizqaan memulai perjuangannya memberi nafkah kepada istrinya dengan mencoba berdagang menjajakan roti dari suatu pabrik dari sedikit modal yang dimilikinya. Kedua insan ini memulai hidup dalam keprihatinan, namun mereka tetap sabar dan yakin akan ketentuan yang diberikan Allah kepada mereka. Dari mulai diceritakan saat-saat mereka hanya makan nasi putih dengan garam dan bawang goreng, dan bermacam cobaan lainnya. Berkat kegigihan dan kejujuran Rizqaan dalam berdagang, juga kesabaran Halimah istrinya untuk menerima keadaan mereka dan keuletannya me-manage keuangan rumah tangga. Pelan tapi pasti kehidupan keduanya berangsur membaik. Rizqaan menjadi penjual roti keliling yang sukses, berkat kejujurannya dan teguhnya memegang prinsip agamanya untuk tidak berdekatan dengan segala hal yang berbau haram maupun syubhat yang melingkupi bidang pekerjaannya. Rizqaan adalah tipe pekerja keras, namun ia bukanlah hamba dunia. Ia bekerja keras untuk mendapatkan dunia, namun ia berniat menundukkan dunia itu agar menjadi ladang akhirat baginya. Kehidupan ruhaninya yang dulu pun tak menjadi rusak dikarenakan kesibukannya mencari harta, bahkan Rizqaan yang hanya lulusan SMA ini telah menjelma menjadi sosok yang layak menyandang gelar Al-Ustadz.
Kebahagiaan keduanya lengkap tatkala mereka mendapatkan keturunan dari Allah Ta’ala. Bisnis Rizqaan semakin maju, hingga kini Rizqaan sudah bukan lagi penjaja roti keliling tapi sudah menjadi seorang pengusaha roti yang mempekerjakan beberapa karyawan. Omzetnya pun bukan lagi puluhan ribu seperti ketika awal-awal ia merintis usahanya, namun sudah menjadi puluhan juta. Kerikil-kerikil tajam sudah barang tentu menjadi selingan dalam kehidupannya.
Gemuruh prahara
Pada bulan keenam tahun kesepuluh pernikahan mereka adalh puncak kebahagiaan yang mereka rasakan, tidak ada lagi kesusahan dalam hidup mereka. Rizqaan sudah menjadi seorang pengusaha sukses. Rumah mereka bukanlah rumah petak kontrakan ala kadarnya, namun sudah menjadi rumah mewah dengan pabrik roti di belakangnya. Akhirnya memasuki bulan kesebelas kehidupan yang mereka jalani terasa begitu lambat ketika mereka berusaha untuk mempertahankan kehidupan mereka dan menunggu hingga saat tiba bagi Rizqaan untuk membuktikan janjinya kepada mertuanya. Hingga suatu malam tiba, dimana malam itu pada bulan kedua belas dan hari “H” tinggal hanya dua hari lagi terjadi musibah besar yang memporak-porandakan kehidupan yang selama ini mereka bagun dengan susah payah. Kebakaran melanda pabrik dan rumah mereka, hingga menjadikan ayah Rizqaan meninggal dunia. Belakangan di akhir cerita diceritakan, bahwa kebakaran tersebut merupakan ulah dari saudara jahat Halimah yang bernama Asyraf agar ayahnya memenangkan perjanjian dan Halimah menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya.
Badai Susulan
Baru beberapa dua hari berselang dari musibah kebakaran tersebut, musibah lain datang menyapa. Hari itu adalah hari final dari perjanjian yang diucapkan Rizqaan saat akad nikah sepuluh tahun yang lalu. Sang mertua (Bapak Halimah) dengan kejamnya menagih janji dari Rizqaan dan menyatakan bahwa Rizqaan tidak dapat memenuhi janjinya, karena saat ini Rizqaan telah menjadi seorang yang bangkrut. Akhirnya dalam pergulatan batin yang hebat sebagai seorang muslim dan muslimah yang menaati Allah dan Rasulnya. Mau tak mau mereka harus menepati janji mereka.
“Halimah istriku……..” ujar Rizqaan, dengan napas tercekat.
“Ya, abuya. Kakanda. Suamiku.” Balas Halimah, tak kalah pedihnya.
“Dihadapan Allah. Atas Dasar ketaatan kita kepada-Nya. Dengan harapan Allah akan memperjumpakan kita di Surga kelak dalam sejuta keindahan yang melebihi segala yang pernah kita rasakan berdua. Atas dasar cinta kasih kita yang suci. Atas dasar kepedihan hati yang mendalam, yang hanya Allah yang mengatahuinya: SAYA MENALAQMU ADINDA.”
Meski tabah, tapi mau tidak mau tangisan Halimah meledak, tak terbendung lagi. Ia menagis terisak-isak. Ia tak pernah membayangkan, bahwa kesetiaannya kepada suami akan berujung pada kepedihan seperti ini. Ya Allah Ya Rabbi. Kami yakin, berkah sesungguhnya adalah pada cinta-Mu kepada kami. Kami merindukan cinta-Mu. Hati Rizqaan dan Halimah berbisik lirih.
Lembaran-lembaran baru kehidupan Rizqaan, Halimah dan Nabhaan anak mereka
Pada bab-bab selanjutnya dikisahkan bagaimana Rizqaan merintis kembali usahanya yang telah hancur dengan sekuat tenaga dan ketabahannya menghadapi cobaan. Juga dikisahkan bagaimana kehidupan Halimah selanjutnya selepas menyandang predikat sebagai seorang janda yang sangat tidak dia harapkan. Tak lupa bagaimana rintihan putra mereka Nabhaan yang saat itu berusia delapan tahun ketika menanyakan kenapa kehidupannya tidak bisa bahagia seperti dulu lagi. Sampai pada suatu saat, ketika ada seorang duda kaya raya anak seorang pejabat yang mengutarakan keinginan untuk menikahi Halimah. Dikisahkan inilah sebab mengapa Asyraf, abang Halimah, melakukan perbuatan keji merusak kehidupan rumah tangga Rizqaan dan Halimah. Namun entah apa yang dibicarakan oleh Halimah, duda tersebut dan ayahnya, ketika mereka berniat melamar Halimah, sehingga menjadikan mererka mengurungkan niat untuk melamarnya. Saat diceraikan oleh Rizqaan, halimah sedang mengandung anak kedua mereka, dan saat menjadi janda kondisi kesehatan Halimah menjadi memburuk dan ternya Halimah telah divonis menderita leukimia (kanker darah) dengan diagnosa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Hari-hari berlalu sampai suatu ketika Ayah Halimah menyadari bahwa Halimah tidak akan bisa menikah dengan lelaki lain selain Rizqaan.
Ending yang mengharukan
Suatu ketika Halimah dan kedua orang tuanya berkunjung ke rumah Rizqaan yang kini telah mapan kembali.
**************************************
“Kami datang, untuk sebuah keperluan yang mungkin tak pernah kamu duga ananda. Setelah perdebatan panjang, dan banyak kisah-kisah di sekitarnya, kami berniat, akan menikahkanmu kembali dengan putri kami, Halimah…..”
“A….pa…? menikahkanku kembali dengan Halimah” Rizqaan tergagap. Ia tak mampu berbicara. Ada kelebatan sinar menyapu otaknya. Sehingga ia nyaris hanya bisa terpaku karena kegembiraan yang tidak terkira.
*************************************
“Abuya….”
“Maaf, aku belum menjadi suamimu lagi….” sela Rizqaan
“Izinkan aku tetap memanggilmu Abuya. Aku tak terbiasa dengan panggilan lain.”
“Baiklah. Ada apa Adinda?”
“Abuya. Apakah abuya siap menikahiku lagi?”
“Adinda Halimah, kenapa aku tidak siap? Dari dulu aku tak pernah berniat menceraikanmu. Aku senantiasa mencintaimu. Hanya karena kita bukan suami istri lagi, aku selalu menindih rasa cintaku itu sekuat mungkin. Tapi bila diberi kesempatan menikahimu lagi, aku tak mungkin menolak.”
“Meskipun misalnya aku memiliki kekurangan yang tidak kumiliki sebelumnya?”
“Kekurangan apa Adinda?”
“Jawab dulu pertanyaanku.”
“Ya. Aku akan menikahimu dengan segala kekuranganmu yang ada. Selama itu bukanlah cacat dalam agamamu yang tidak dapat diperbaiki.” Ujar Rizqaan tegas.
“Abuya. Aku ingin Abuya menikahiku. Karena aku ingin mati dalam keridhaan seorang suami shalih…..” Halimah berhenti sejenak. Ada keharuan yang membuatnya tercekat, sehingga sulit bicara.
“Abuya bisa segera menikahiku. Tapi aku tak tahu, apakah keinginan itu akan tetap ada, setelah Abuya mengetahui kekuranganku sekarang. Abuya, aku baru saja satu minggu yang lalu melakukan check up. Dan aku terbukti mengidap leukimia…” sampai disitu, Halimah terisak. Ia tak mapu melanjutkan bicaranya.
Rizqaan merasa tersentak. Tapi demi Allah, ia tak sedikit pun merasa sedih. Kegembiraan bisa kembali bersama istrinya, tak bisa terkalahkan oleh kesedihan atas kondisi Halimah tersebut.
“Dokter mengklain bahwa usiaku tak akan lebih dari 3-4 bulan saja….” kembali Halimah menangis.
“Aku tidak peduli. Umur ada di tangan Allah. Manusia hanya mapu mengira-ngira. Nyawaku, bisa saja lebih dahulu terenggut daripada nyawamu. Aku akan segera menikahimu. Biarlah Allah yang menentukan akhir perjalanan hidup kita. Bagiku, hidup atau mati bersamamu, dalam “kecintaan” Allah adalah sebuah kenyataan yang paling penuh berkah”. Rizqaan berbicara dengan kayakinan kokoh membelit jiwanya.
*******************************************
Rizqaan dan Halimah kembali hidup berbahagia. Mereka kembali mengulang masa-masa penuh keceriaan di antara mereka. Satu bulan kemudian, anak mereka yang kedua lahir. Ia seorang bayi perempuan yang cantik. Mirip ibunya, Halimah. Bayi itu dilahirkan dengan cara normal. Bayi maupun ibunya sama-sama selamat.
*******************************************
Kebahagiaan mereka berlanjut, sampai suatu ketika datang berita bahwa abang Halimah, Asyraf menjadi buronan polisi dikarenakan kasus narkoba, dan juga berita tentang dalang penyebab kebakaran yang menewaskan ayah Rizqaan. Karuan berita itu membuat kegembiraan mereka semua hilang. Ayah Halimah yang kini menjelma menjadi orang baik hati marah besar kepada anaknya tersebut. Dan Halimah seketika jatuh pingsan dan sakit.
******************************************
Sore menjelang Maghrib, Halimah terbangun. Disampingnya duduk Rizqaan. Sementara di depannya, Ayah dan ibunya duduk diatas kursi plastik. Mereka semua cemas menantikan kesadarannya. Seorang dokter perempuan –yang sengaja diundang ke rumah- mendekatinya. Memeriksa nadinya, lalu memberikan suntikan di bagian lengannya.
“A…..Abuya….” Halimah berkata lirih.
“Aku disini Adinda”
“Alhamdulillah. Apakah sudah maghrib? “tanya Halimah.
“Belum. Masih kira-kira sepuluh menit lagi.”
“Abuya…”sapa Halimah pelan.
“Ada apa Adinda.”
“Apakah Abuya masih mencintaiku?”
“Tentu Adinda. Aku selalu mencintaimu karena Allah.”
“Aku juga mencintaimu karena Allah, Abuya.” Halimah diam sejenak lalu ia bertanya lirih.
“Apakah engkau akan tetap bersabar atas segala yang menimpa kita, Abuya?”
“Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar, Adinda….”
“Abuya. Jawablah pertanyaanku.”
“Ya. Apa Adinda?”
“Apakah engkau meridhaiku sebagai Istri?”
“Sudah tentu Adinda. Suami mana pun akan meridhai istri seshaliha dirimu. Setaat dirimu. Sepatuh dirimu. Kamu bukanlah wanita yang tak memiliki kekurangan atau kesalahan. Tapi dengan keshalihanmu, ketaatanmu, kepatuhanmu, aku senantiasa ridha terhadapmu…..”
“Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shaalihaat. Aku ingin termasuk di antara wanita yang disebutkan dalam Hadits.”
“Bagaimana itu Adinda?”
أًَيُّمَا امْرَ أًَ ة مَا تَتْ وَ زَ جُهَا عَنْهَا رَا ض د خَلَت الْجَنَّهَ
“Wanita mana pun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk surga.”
Halimah mengucapkan Hadits itu sedemikian fasihnya. Arab, berikut terjemahannya.
“Semua wanita shalihah, mengidamkan hal itu Adinda, dengan izin Allah, Adinda akan termasuk di dalamnya.”
“Allahumma amien. Abuya, sekarang aku puas. Apaun yang terjadi atas diriku, kini aku sudah kembali menjadi istrimu. Aku telah berdo’a setiap malam, agar aku bisa berdampingan dengan suami yang shalih. Sehingga kalaupun mati, aku akan mati dengan keridhaan Allah kemudian dengan keridhaan suamiku…..” Halimah berhenti sejenak.
“Abuya, betapa indahnya bila Allah betul-betul mencintai kita. Aku ingin dengan cinta-Nya, kita berdua menuai bahagia seutuhnya. Kebahagiaan yang bukan Cuma di dunia, tapi juga di akhirat.”
Halimah menghela nafasnya yang terasa begitu berat.
“Abuya bila aku sudah tiada, berjanjilah untuk senantiasa berjalan di atas ajaran Allah. Didiklah anak kita, dan berbaktilah kepada orang tua….”
“Jangan berkata begitu Adinda….” Rizqaan menyela.
Halimah memberikan isyarat dengan tangannya, agar Rizqaan tidak bertanya apa-apa.
“Berjanjilah Abuya…..”
“Aku berjanji Adinda. Tanpa berjanji pun, ketaatan kepada Allah adalah janji seluruh manusia saat mereka berada dalam perut ibu mereka….” ujar Rizqaan.
“Alhamdulillah…….”
“Abuya….tabir itu mulai terbuka…..Aku mencintaimu, Abuya. Abuya tak perlu meragukan cintaku. Tapi aku lebih merindukan Allah. Bila ini kesempatanku bersua dengan-Nya. Aku tidak akan menyia-nyiakannya sedikit pun…….”
“Adinda….”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
“Adinda….”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
Suara tahlil itu semakin lembut dan syahdu dari mulut Halimah. Terus menerus. Semakin lama, semakin lemah. Namun semakin syahdu. Sampai akhirnya suara terakhir terdengar, masih sama, “Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
Usai berakhirnya suara itu, nafas Halimah terhenti. Di tengah keheningan kamar di rumah mereka, yang masih tercium bau catnya. Karena belum lama dibangun Halimah mengehembuskan nafas terakhirnya. Sang ibu menjerit. Sang bapak menangis. Rizqaan juga tak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba mengalir deras. Pernikahannya dengan Halimah yang merupakan masa kembalinya kebahagiaannya yang beberapa saat nyaris lenyap, kini nyaris terenggut kembali. Tapi kepergian Halimah dengan kondisi yang menyemburatkan aurat Surga, membuat hatinya terasa nyaman. Ia bersedih, tapi juga berbangga dengan istrinya. Kesedihannya pupus perlahan karena rasa bangga bercampur rasa iri yang menyejukkan jiwanya. Betapa berbahagia Halimah.
Tak lama kemudian, adzan maghrib terdengar. Mereka mendengarkannya dengan khusyu’. Saat lantunan adzan berhenti, Ayah Halimah mendekati Rizqaan. Ia manatap menantunya yang sekian lama ia kecewakan. Sekian lama ia perangkap dalam kesukaran dan penderitaan. Pria yang –dengan seizin Allah- telah mengubah wujud putrinya, sehingga menjelma menjadi wanita shalihah begitu setia pada kebenaran. Ia menatap pemuda itu. Air matanya menetes tak terbendung. Penyesalan membuncah sehingga nyaris membakar otak. Ia nyaris bisu dalam suasana hati yang kuyup penyesalan.
“Duhai, seandainya aku masih memilki putri yang lain. Pasti aku akan menikahkannya denganmu, ananda.” Ujar ayah Halimah kepada Rizqaan.
“Halimah sudah cukup bagiku pak. Nikahkanlah aku kembali dengan putrimu itu pak.”
“Aku sudah melakukannya dua kali ananda…..”
“Cobalah untuk yang ketiga kalinya pak…”ujar Rizqaan lirih.
“Itu bukan lagi hakku ananda. Biarlah Allah yang akan menikahkanmu dengannya di Surga kelak. Relakanlah kepergiannya saat ini. Semua kita toh pasti akan mati juga. Gapailah Surga dengan amal ibadahmu. Dengan ketulusan hatimu. Hanya dengan itu Allah akan berkenan mempertemukanmu kembali dengannya…..”
Rizqaan tersenyum.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي
Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,
masuklah ke dalam syurga-Ku.
****************************************
Buku ini saya baca ba’da zhuhur dan selesai menamatkan lembar demi lembar halaman penuh hikmahnya selepas ashar. Sungguh saya berarti telah membohongi diri sendiri bila tidak menitikkan air mata terhanyut dalam episode perjalanan kehidupan anak manusia yang subhanallah sangat layak dijadikan bahan pelajaran ini.
Wahai saudara-saudariku seiman, saya tidak akan mengingkari bahwa novel, cerpen, dan cerita berlabel Islami lainnya dapat diambil hikmahnya. Bahkan menurut kalian hal itu bisa dijadikan sarana dakwah kepada orang-orang yang belum mengenal Islam dengan sekelumit kaidah-kaidah syar’iyah di dalamnya. Tidak wahai saudara-saudariku, saya juga pernah terlarut di dalam menikmati beragam karya sastra tersebut, bahkan dari pengarang kafir dan atheis sekalipun saya pernah menikmatinya. Tetapi sekali lagi, tujuan tidaklah menghalalkan cara, dan kebaikan tidak akan diperoleh dengan jalan yang bathil. Maafkan saya, dalam hal ini saya tidak sependapat dengan kalian, karena hal ini telah jelas seperti layaknya sinar mentari yang terang benderang yang menerangi suatu jalan yang lurus.
Resensi selesai dibuat selepas Isya’ 22 Rajab 1429 H





















July 26, 2008 at 4:15 pm |
gk mau baca resensinya
saya tunggu sahabat saya baca dulu, stlh dia slesai sy baca..
pgnnya sih baca duluan…tp sptnya sahabtku itu lbih membutuhkan..insyaAllah
July 26, 2008 at 4:53 pm |
subhanallah…memang sungguh mulia insyaAllah…an baru mau baca niy akh…punya temen..hehe…

an minta tmen an ceritain tadinya, dianya gak mau…. sedih…
alhamdulillah….nemuin resensinya niy…syukron ya….
July 27, 2008 at 2:50 pm |
Saya akan segera ke toko buku progressif Surabaya untuk mencari buku ini sepulang dari Denpasar kelak…
Barakallahu fiykum …
July 28, 2008 at 4:49 am |
Assalamu’alaikum
akhi ana arif yang punya situs http://www.arifardiyansah.wordpress.com. Kami dari penerbit Shofa Media Publika mengucapkan jazakumullahu khairan atas resensi buku tersebut. Semoga buku tersebut bisa diambil hikmahnya oleh yang membacanya. Untuk saran dan kritik tentang buku tersebut silahkan sms ke 0852 2840 2723.
Editor Shofa Media Publika
Arif Ardiyansah
July 28, 2008 at 4:51 am |
Oiya Jika Anda kesulitan mencari Buku “sandiwara Langit” tersebut, silahkan sms kami di no. 0852 2840 2723
July 28, 2008 at 10:05 am |
wah bonusnya apaan yach. gimana kalau jual 20 buku gratis 1 buku mau?hehehe
July 28, 2008 at 10:08 am |
wah jadi pengen euyy.. ♥
July 29, 2008 at 1:10 am |
buku yg bagus akh…
kalo di buyung habis, bisa mampir aja ke mesjid Al Amin, di jln wahidin, komplek depkeu
di kios-nya ucok, harganya bisa diskon s.d. 35%
ana waktu beli dulu dapetnya Rp 20 rebu.
no telp ucok 0813-1909-0645 atau 021-682-55469
July 30, 2008 at 2:03 am |
hhe..nama saya disebut-sebut euy…itu buku langsung ludes di jakarta pas release pertama hebat bangeeet
July 30, 2008 at 4:55 am |
Dah liat bukunya. Hmm..syukron referensinya. tar deh. bentar lagi ada jogja islamic bookfair. bisa juga nih tuk dibei
July 31, 2008 at 2:35 am |
Subhanallah … bener2 penuh hikmah…
semoga apa yang dicita-citakan oleh wanita shalihah bisa terwujud sebagaimana
yang dirasakan halimah dalam cerita tersebut… termasuk cita2 ane…ammiinn…
jazakillah…
July 31, 2008 at 4:39 am |
assalamu’alaikum
oom yang namanya sinopsis itu jangan di ceritain bagian2 pentingnya, ntar orang2 jadi kehilangan “taste” untuk membacanya (hayah sok banget bahasa gw)
ane aja agak kesel waktu baca “pengantar penerbit” eh udah diceritain akhir cerita dari kisah ini—meski cuma sepenggal aje (‘afwan akh Arif Ardiyansah tapi jujur ini dateng dari lubuk hati yg terdalam, #_#a)
tapi bener deh oom, IMO yg di atas itu lebih merupakan INTI dari kisah ini, kunci ceritanya, orang bakalan males baca cerita lengkapnya kalau udah tahu alurnya seperti apa bahkan endingnya pun antum cantumkan dengan detail di situ, makin males deh (untung gw udah baca bukunya sampe tamat sebelum ketemu page ini
), tapi sekali lagi ini IMO lho om, IMO, In My Opinion
busway, ana meng-apresiasi jerih payah kakak aulia di atas, mungkin aja ada orang yg belum mampu beli jadi bisa dapet hikmahnya dari sinopsis (baca: inti) cerita Sandiwara Langit
namun ada satu pernyataan mas kaspo yg mengganggu pikiran saya:
[QUOTE MAS KASPO]Wahai saudara-saudariku seiman, saya tidak akan mengingkari bahwa novel, cerpen, dan cerita berlabel Islami lainnya dapat diambil hikmahnya… …Wahai saudara-saudariku seiman, saya tidak akan mengingkari bahwa novel, cerpen, dan cerita berlabel Islami lainnya dapat diambil hikmahnya….
…Maafkan saya, dalam hal ini saya tidak sependapat dengan kalian, karena hal ini telah jelas seperti layaknya sinar mentari yang terang benderang yang menerangi suatu jalan yang lurus.[END OF QUOTE]
entu maksudnya mas kaspo teteup ga setuju sama Sandiwara Langit???
atawa ditujukan buat nopel2 cintrong piktip “islami” ???
aku menunggu jawabanmu
atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih
akhir kata
mengutip salah satu perkataan ‘SAYA’:
“Semakin baik jalan yang kau pilih, anak muda, akan semakin banyak rintangan dan godaannya. Semakin tinggi bukit yang kamu daki, akan semakin hebat kepenatan yang kamu rasakan. Namun hanya orang berjiwa kerdil yang memilih hidup tanpa pendakian.”
mari ikut STAPALA biar bisa mendaki (lho?)
wassalamu’alaikum
king regrads
-abu asy-syaj’an-
July 31, 2008 at 4:42 am |
maaf ada kesalahan saat meng-quote perkataan mas kaspo
ini yg benar
[QUOTE MAS KASPO]Wahai saudara-saudariku seiman, saya tidak akan mengingkari bahwa novel, cerpen, dan cerita berlabel Islami lainnya dapat diambil hikmahnya…
…Tetapi sekali lagi, tujuan tidaklah menghalalkan cara, dan kebaikan tidak akan diperoleh dengan jalan yang bathil…
…Maafkan saya, dalam hal ini saya tidak sependapat dengan kalian, karena hal ini telah jelas seperti layaknya sinar mentari yang terang benderang yang menerangi suatu jalan yang lurus.[END OF QUOTE]
August 4, 2008 at 1:56 am |
Assalamu’alaikum
Akh, bukunya memang dahsyat…!!!!!!!!!!
Ana baru baca beberapa halaman aja, udah gregetan gt..
Hmm… cocok buat antum akh, sosok pemuda tangguh yg mencari seorang bidadari dunia.
Smg antum cpt bertemu dg yg diimpikan.
Barokallahu Fiik
August 11, 2008 at 2:38 am |
Assalamu’alaykum
Masya Allah, indah sekali. Ana udah beli bukunya beberapa waktu lalu, tapi belum sempat bacanya. Setelah baca resensi dari antum, ana jadi ingin cepat-cepat pulang dan membaca bukunya.
Btw, antum tinggal di makasar akhi? Kenal sama akhi Ahmad Sholeh dong ya. Yang koment diatas ana tuh. Salam kenal aja dari ana akhi.
August 20, 2008 at 7:23 am |
Insya Alloh akan diadakan bedah bukunya di masjid Almustaqiem Sendowo Yogyakarta bersama penulisnya pada 13 September 2008 mendatang……….
August 27, 2008 at 2:05 am |
Assalamu’alaikum
Info buat ikhwah sekalian :
Insya Alloh akan ada bedah bukunya di Masjid Al MUstaqiem Sendowo, Jogjakarta
bersama Ust. Abu Umar Basyier
tgl 13 September 2008
pukul 07.30 s/d 11.30 WIB
Info selengkapnya: Sahrul – 0813 920 40 299
smoga bermanfaat
September 13, 2008 at 3:30 pm |
bagi pecinta buku, telah terbit 3 buku baru dari FATAMEDIA PUBLISHER lini majalah ELFATA. salah satunya, SEINDAH CINTA KETIKA BERLABUH kumpulan kisah nyata majalah elfata…ada lagi TA’ARUF dulu BARU MENIKAH..penulisnya ustadz Abu Umar Basyir.
September 16, 2008 at 3:19 am |
Ustadz Abu Umar Basyir juga baru merilis buku terbarunya, panduan untuk berta’aruf bagi yang pengin menikah, Ta’aruf Dulu Baru Menikah. Yang baru ta’aruf, akan ta’aruf, dan sudah ta’aruf-ta’aruf tapi nggak goal-goal, silakan simak buku yang satu ini.
September 26, 2008 at 10:14 am |
assalamualaikum……..akhi datang pertanyaan kpd ana……..knp ust.Abu Umar Basyier menulis bukunya dg judul “SANDIWARA LANGIT”, apakah langit bersandiwara, alasan apa yg membuat penulis memilih judul buku dg itu?barangkali antum bs menanyakan kpd penerbitx?ana tgg jawaban antum…sukran
September 29, 2008 at 2:32 am |
kok kenapa judulnya sandiwara langit?? apakah yang di langit bersandiwara???..
September 30, 2008 at 12:06 am |
om, bagus om… syukron. izin ngasih tw ke orang lain
September 30, 2008 at 12:07 am |
[...] malah seneng banget kalo lebaran udah dateng (dodol, baru nyadar!). btw, ada resensi buku bagus disini. tapi diriku amat suka dengan bagian [...]
October 3, 2008 at 6:02 am |
assalamu ‘alaikum warahamtullahi wabarakatuh..
subhanallah ..
maha suci allah yang telah membuat sebuah jalan hidup yang indah tersebut..
seorang yang shalih dan shalihah..
semoga allah memberikan hikmah kepada kita semua
bahwa hidup dengan sunnah itu tidaklah merupakan sebuah kesengsaraan..
tapi sebuah nikmat…
–
arient
October 4, 2008 at 10:17 am |
Hmm.. Sandiwara Langit ya.. Judul yang menarik.. Kalo gak baca isinya, sulit menduga kenapa judulnya seperti itu..
October 20, 2008 at 3:23 am |
Baru juga baca posting ini… saya udah nangis… (maaf emang suka cengeng…) ingat pengalaman pribadi…
Mesti buru-buru cari yah…..
Jazakallahu khairan katsiran informasinya….
October 20, 2008 at 3:30 am |
baru sempet baca buku ini kemaren. waktu ada bedah bukunya di jogja, juga ga bisa dateng
November 6, 2008 at 7:50 am |
[...] yawda.. akhirnya saya browsing mencari resensi tentang buku ini… eh ketemu… dapetnya di blog-nya mas Kaspo… mas Kaspo juga bikin sinopsis ceritanya… Pas dilihat pengarangnya saya [...]
November 8, 2008 at 4:11 pm |
BAGUS SEKALI semoga bermanfaat bagi kaum muslimin khususnya pemuda untuk segera walimah
November 14, 2008 at 1:47 pm |
ebooknya yang free udah ada blm kalo udah ada cara dpatkanya g mana malum blm mampu untk beli bukunya wasssalamualaykum
November 18, 2008 at 5:16 am |
Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh.
Subhanallah….
1001 jalan untuk ber-Da’wah,
Abu Umar Basyier Al-maedany telah membuktikannya.
Baru baca resensinya aja dah g bs nahan air mata,
Ana jadi ingin memiliki bukunya,
Sungguh ana akan menajdi orang yg munafik jika ana tidak mengakui semua hal itu.
bagus banget dah…
Wassalamu’alaykum.
November 24, 2008 at 3:44 am |
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..
Subhanallah… bener2 menyentuh hati…
Baru baca sinopsisnya aja udah terharu biru…
bangus banget…
maksih atas sinopsisnya….
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
November 28, 2008 at 5:52 am |
subhanallah bener2 bagus ini buku
ada yg bisa ngasih info disemarang cari buku ini dimana y???
mas kaspo yg anak STAN bukan y??
December 16, 2008 at 4:19 am |
assalamu alaikum wr.wb..
subhanallah yang telah menjadikan hambanya menjadi orang yang penuh dengan ketaatan, sungguh kisah ini membuat air mata menetes tanpa terasa. sungguh begitu banyak pelajaran yang bisa kita petik..
December 27, 2008 at 3:48 am |
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..
Subhanallah…
Sinosisnya sudah membuat saya meneteskan airmata d akir cerita,,
alhamdulillah….makasih bwt pk guru yg uda mmberi bacaan in
wlkmslm
December 27, 2008 at 9:49 am |
assalamualaikum,
subhannallah walhamdulillahwalaillahaillallahhuwallahuakbar…….
ya ALlah,jadikanlahkami insan yg sellau ihsan dalam ibadah kami,dan novel ini alhamdulillah cukup kita jadikan bahan untuk instropeksi diri,dimana kita temapti sekarang ini,yaitu adalh dunia fana,dimana semua ini akan kembalia padaNYA,dan kita diciptalkanNYA tdk lain hanya untuk menyembah dan mematuhi segala perintahNYA dan menjauhi segala laranganNYA….,Allah maha BESAR dan maha TAHu akan kemauan dan usha kita semoga kita semua dipertemukan dalam syurgaNYA kelak,amin…
wassalamualaikum,
December 31, 2008 at 12:42 am |
subhanallah…saya yang penikmat kisah2 nyata
sangat antusias mengambil hikmah dari tiap kisah yang tertulis sangat
dramatis.. (yang ini beneran bukan drama)
January 6, 2009 at 12:02 am |
[...] Saya ambil dari blog Musafir kecil(klik) [...]
January 7, 2009 at 8:30 am |
[...] Resensi Sederhana menurut musafir kecil [...]
January 12, 2009 at 9:26 pm |
jayyid jiddan resensinya, baru dapat buku ini sebagai hadiah dari seseorang, isinya subhanallah….
January 21, 2009 at 7:02 am |
Sedih….sekali
semoga membawa manfaat bagi pembacanya
Syukron AKh
February 2, 2009 at 3:51 am |
Subhanallooh… minggu lalu ana baru download mp3 bedah buku ini, penasaran terus search digoogle dan ketemu resensinya disini. Sekarang jadi kepengen bgt. beli bukunya…hehe.
Jazakumulloohu Khoeron Katsiiron atas resensinya.
February 3, 2009 at 10:46 am |
MasyaAllah!!
February 17, 2009 at 3:41 am |
Subhanallah ………..
Kisah yang sangat menyentuh ,,,, dan membuat terenyuk
dan Insya ALLAH banyk hikmah didalamnya bagi ikhwan dan akhwat yang ingin mengarungi biduk rumah tangga….
Salam Buat ikhwan-ikhwan jakarta dan yogya /..
–Imam–
February 18, 2009 at 1:59 am |
waaaahhh…. spoiller ….
pingin beli bukunya, tapi kehabisan…
kata temanku (yang gak ngaji): “Ayat-ayat cinta… lewat…!”
March 2, 2009 at 2:00 am |
wah…..,aku jadi pengen baca.DAri dulu nyari tapi ga pernah ketemu bukunya.Jauh dari tokom buku siich…
March 19, 2009 at 1:33 pm |
alhamdullillah,
semoga semua yang membaca bisa ngerti maksud dan hikmah, bagai mana hakikatnya kita hidup.
amin.
March 20, 2009 at 6:28 am |
pengin beli bukunya kunjungi http://www.tokoislam.info
March 22, 2009 at 4:57 pm |
baru saja selesai baca bukunya …
mampir di kost teman dan disodori buku ini
selesai baca dalam 1.5 jam…
sungguh mengharukan…
recommended untuk segera dibaca
March 23, 2009 at 7:34 am |
duh… critanya tuch bikin bulu aku merinding tau…
sumpah kren banget..!!! T O P B E G E T E Deck pokonya…
tapisayangnya… smpai saat ini aku blon nemuin bukunya… ngedownload juga susah bgt./..
yah…tapi, aku bakaln cari buku itu sampe dpet…
pkoknya buku SANDIWARA LANGIT ini bener-bener menyentuh buat aku..
March 27, 2009 at 3:53 am |
Assalamu’laykum
Alhamdulillah sudah baca,,
Ana percaya ini kisah nyata dulu ada akhowat malang mau kirim di elfata sampe ditanya detail banget sama ustadz abu umar,,
An seneng kak asyrof dah bertaubat,,
An suka pas surat al fajr nya pake ditampilin ihh merinding jadinya
April 4, 2009 at 6:27 am |
Wah ceritanya bagus,,,,,,,,,, Ane dah pernah baca
April 10, 2009 at 7:43 am |
aQ suka bget ma crita bku ini,
kisahnya ngena bget….
kalau g karena dikirimi ma temen mgkin aq g baca ni buku…
ma kasih y bwt akhi Hendra…
April 10, 2009 at 7:46 am |
aku suka bget buku ini,
makasih y akhi hendra yg dah ngirimi buku sandiwara jauh2 ke kotaku….
April 12, 2009 at 1:26 pm |
mendengarkan ceritnya saja sudah mau menangis apalagi membacanya
April 16, 2009 at 5:52 am |
Assalamu’alaikum….
alhamdulillah sudah baca buku ini walau dipinjami teman…pertama dengar sinopsis dari teman,langsug tertarik buat baca… dalam waktu 2,5jam langsung tamat…baca mulai jam 10 malem,pake nangis pula….Subhanallah….cerita ini sungguh membuat saya merinding, takjub akan keimanan seseorang,ketaqwaan terhadap Allah yang sangat saya sendiri belum bisa seperti tokoh dalam kisah di buku tersebut…
May 1, 2009 at 3:47 pm |
Saya bersyukur bisa mengetahui ada kisah nyata ini, semoga bisa mengokohkan keimanan, Saya dan Istri..
May 1, 2009 at 7:03 pm |
Aduch…jadi pingin nangis nih diriQ ngebaca ni cerita.
(-_-)…
May 14, 2009 at 8:03 am |
Kata kawan-kawan klo baca buku ini cuma dua jam….
May 28, 2009 at 5:43 am |
Informasi Pembahasan
“HIKMAH DARI KISAH SANDIWARA LANGIT”
Oleh : Abu Umar Basyier (Penulis)
Waktu : Ahad, 31 Mei 2009, Jam 09.00 s.d. selesai
Tempat Masjid Nurul Iman
Jl. Pos Pengumben Raya No.21, srengseng, Jak-Bar
CP. Fuji Gozali 021-958 551 32
June 21, 2009 at 7:57 am |
assalamualaikum,
akhi menulis ending yang menurut “pencernaan” ana, antum menyampaikan bahwa antum tidak setuju dengan dakwah melalu media novel, benarkah pemahaman ana terhadap tulisan antum tersebut?
June 22, 2009 at 2:51 am |
wah….subhanallah bgd cRita na…
py kmRn” caRi d gRamed dah abizZ.. T,T
ty caRi d tko bku laEn deh..,do’akn yaPh.. ^^
July 1, 2009 at 6:56 am |
Jazakallahu khoir akhi atas resensinya… ana copy-paste sebagian dari tulisan antum ke group yang ana buat di facebook “SANDIWARA-LANGIT”
July 1, 2009 at 6:57 am |
thanks
July 2, 2009 at 2:39 am |
buku bagus ^^
July 5, 2009 at 12:09 pm |
Subhanallah….
luar biasa novel yg baru saya baca, demi Allah entah apa yg mendorongku membaca sepenggal cerita novel ini yg sejak lama entah bertahun2 lamanya sdh lama meninggalkan “bacaan” (:Novel).
ingin juga memiliki nya…amin
July 31, 2009 at 7:04 am |
Subhanallah!!! Membaca resensinya pun aku terhanyut. Apalagi nanti jika membaca bukunya.
August 3, 2009 at 6:04 am |
subhanallah… nda pernah nisa baca yg seperti ini … jadi pengen baca novelnya…
August 8, 2009 at 3:56 pm |
buruan beli neng… hehehe,,, 2 thumbs up deh pokoknya
August 12, 2009 at 3:16 am |
Subhanalloh, bukunya bagus…
Ini Pak Aulia sendiri yang buat resensinya ya?
Bagus pak tata bahasanya..
Salam buat istri ya…
September 2, 2009 at 7:47 am |
yakin kah xlo yang nulis ust. abu umar baasyir??? sudah pernah konfirm langsung ke beliau??? tolong ti2p pesen ma beliau nama tokohna yang sebenarna Ghazali pa Rizqaan??? thank u…
September 5, 2009 at 1:04 am |
Subhanallah…Ana membaca buku ini tahun lalu…tadinya sih suami ana yang mau mbaca, karena memang dasarnya ana yang suka membaca,jadi ana duluanlah yang membacanya…benar rasanya gak bisa berhenti ana membacanya (sampai begadang) karena penasaran…Dan benar “bohong kalau tidak menitikkan air mata”. Sedangkan suami ana tidak jadi membacanya…karena gak sempat
September 17, 2009 at 8:20 am |
subhanallah..
September 21, 2009 at 9:34 am |
Sy sudah baca bukunya… subhanallah….
betul-betul meneteskan air mata…
dan z tidak bosan2 membacanya, dan setiap kali membacanya, rasanya ingin menangis… Subhanallah…
September 22, 2009 at 7:09 am |
Subhanallah .. sebentara lagi saya pasti akan membacanya,
October 6, 2009 at 6:47 am |
alhamdulillah.. luar biasa dah buku ini…
saya baca berulang kali kadang.. sampai nangis..
Touch