Pijakan Menuju Pelaminan

 

“Bisa-bisa kamu sudah jadi kakek nenek sedang anakmu belum lulus SD, jika kamu tidak segera mendapatkan jodoh?!”. Demikian kira-kira cermin kegundahan orang tua yang memikirkan anaknya yang sudah berumur namun belum juga mendapatkan pasangan hidupnya. Walau kegundahan sperti itu di kalangan keluarga perkotaan (baca: terpelajar dan kebarat-baratan) sudah berkurang atau bahkan cenderung menghilang. Bagi mereka kesiapan ekonomi lebih diutamakan daripada umur berapa ia nanti ketika anak-anaknya sudah lepas dari tanggung jawabnya. Atau daripada anak-anaknya nanti lahir sedangkan ia belum mampu untuk menghidupi mereka. Sehingga kegundahan-kegundahan tersebut hilang dengan sendirinya guna meraih idealism yang lebih besar menurut persepsi mereka.

Lalu saat mereka ingin mendapatkan pasangan, sedang usia mereka sudah berkepala tiga atau empat, merekapun berpaling ke cara yang instan dengan mendaftarkan diri ke biro jodoh yang banyak diiklankan di berbagai media. Sedangkan kalau mereka masih berusia muda, mereka ingin berpetualang dengan mencari pasangan melalui pacaran. Menurut mereka, kalau bias mendapatkan pasangan yang dirasa pas, siapa tahu bias berlanjut dengan meniti ke pelaminan.

Di pihak lain, orang tua yang berkewajiban mencarikan pasangan hidup yang baik dan shalih bagi anakkesayangannya, mengelak dari dari tanggung jawab ini dengan alas an tidak tahu bagaimana pasangan yang diinginkan anaknya. Atau karena anak masa sekarang lain dengan remaja semas dirinya yang dijodohkan orang tuanya, atau bahkan sang anak tidak ingin orang tua ikut campur dalam masalah ini. Mereka berdalih bahwa yang menjalani kehidupan rumah tangga tersebut adalah dirinya bukan orang tuanya. Adanya persepsi demikian, menambah keruwetan kancah perjodohan masa kini yang tak berujung pangkal seperti lingkaran setan.

Di sisi lain, orang yang tahu adanya kesulitan ini (yang tidak sembarang orang bias mengatasi), mencoba untuk menawarkan jasa guna mengatasinya. Sungguh luar biasa, karena persaingan jas ini cukup ketat. Diciptakanlah beberapa kiat yang tadinya hanya sekedar mengenalkan jati diri dan gambaran umum pengguna jasa ini. Dibuat pula bermacam simulasi dan permainan guna menarik konsumen dan pengguna jasa ini. Bahkan banyak yang dipertontonkan khalayak yang tidak berkepentingan melalui televisi.

Demikianlah gambaran umum jasa perjodohan yang berkembang hingga saat ini, yang banyak menimbulkan pertanyaan bagi pihak-pihak yang sensitive terhadap perkembangan masalah ini. Lalu bagaimana kita bermualamalah dalam masalah ini?

Kalau kita menyimak ke masa Rasulullah shallahu’alaihi wassalam dan generai awal yang utama, tampak bila perjodohan terkesan lebih sederhana dan tidak berbeli-belit. Disamping yang mereka jadikan ukuran sangatlah jelas, kecenderungan dan kebersihan hati mereka tidak seorang pun dapat meragukannya. Sehingga, dengan mudah dijadikan kaidah dan pedoman bagi generasi-generasi berikutnya.

Ada beberapa petunjuk dari Beliau shallahu’alaihi wassalam kepada umatnya dalam masalah perjodohan. Antara lain sebagai berikut:

1. 1. Wali mempunyai tanggung jawab utama dalam perjodohan

Berdasarkan sabda Beliau shallahu’alaihi wassalam,

“Perempuan mana saja yang menikahkan dirinya sendiri tanpa izin walinya, maka penikahannya bathil, pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika lelaki tersebut telah mencampurinya, maka maharnya tetap menjadi miliknya dikarenakan ia telah mencampurinya. Dan jika mereka berdua berselisih, maka pemerintah menjadi wali terhadap perempuan yang tidak memilki wali.” (riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah; disahihkan Ibnu Hibban dan Hakim)

 

Juga sabda Beliau shallahu’alaihi wassalam,

“Tidak sah pernikahan, kecuali dengan wali” (riwayat Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, sahih dengan banyak penguatnya)

 

Dan firman-Nya,

ﻓﻼ تَعْضُلُو هُنََّ أَن يَنْكِحْنَ أزْوَاخَهُنَّ

“Dan janganlah (para wali permpuan) menghalang-halangi mereka untuk menikah dengan (calon) suami mereka..” (Al Baqarah:232)

Ini semua menegaskan akan besarnya hak wali terhadap seorang perempuan yang akan menikah. Oleh karena itu Imam Bukhari menyebutkan, “Seandainya para wali tersebut tidak mempunyai hak dalam pernikahan seorang perempuan, tentu tidak ada larangan bagi mereka untuk menghalang-halanginya”. Dan yang disebut wali adalah seorang yang telah baligh, berakal sehat dan merupakan kerabat dekatnya (‘ushbah), seperti bapak, kakek dari sisi ayah, anak, cucu, dan terus kebawah, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah dan anak-anak mereka, dan lebih dekat maka lebih berhak. Dan tidak termasuk wali saudara dari ibu dan anak-anak mereka, ayah dari ibu, atau saudara laki-laki ibu, karena mereka tidak termasuk dalam hitungan ‘ushbah.

Oleh karenanya, banyak riwayat yang menyebutkan tentang dinikahkannya seorang perempuan dengan walinya, dalam artian sang walilah yang mencarikan calon suami bagi seorang perempuan. Kalaupun dalam beberapa kasus pernikahan tersebut akhirnya dibatalkan, namun bukan karena wali tidak mempunyai hak untuk mencarikan jodoh, tetapi karena tidak terpenuhinya syarat pernikahan yang lain yaitu kerelaan dari pengantin perempuan. Akan tetapi hal ini tidak menunjukkan gugurnya hak seorang wali untuk mencarikan jodoh bagi seorang wanita yang berada di bawh pengampuannya tersebut.

Secara meyakinkan disebutkan dari beliau shallahu’alaihi wassalam dalam kitab “sahihain” bahwa Khansa’ binti Khidam dinikahkan bapaknya namun ia merasa tidak cocok )dengan pria pilihan bapaknya itu). Ketika itu ia seorang janda. Lalu ia menghadap Rasullah shallahu’alaihi wassalam, lantas beliau pun membatalkan pernikahannya. Pernah pula seorang gadis menghadap Nabi shallahu’alaihi wassalam, lantas mengadu bahwa ia dinikahkan oleh bapaknya dengan seseorang yang tidak disukainya, maka beliaupun memberinya hak untuk memilih untuknya (untuk meneruskan pernikahannya atau membatalkannya). Demikian diriwayatkan dalam beberpa kitab sunan dari Ibnu Abbas radhiyyallahu’anhu.

2. 2. Pernikahan termasuk ibadah dan berpahala

Seperti telah dimaklumi bahwa di antara maksud pernikahan adalah untuk menyalurkan dorongan seksual di jalan yang dihalalkan, dan tetap menjaga kesucian diri. Hal ini tidak diragukan merupakan bentuk praktis penetrasi ibadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لاَيَجِدُو نَ نِكَا حًا حَتّي يُغْنِيَةُمُ اللّةُ مِن فَضْلِةِ…

“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya hingga Alllah menjadikannya mampu dengan karuniaNya.” (An Nur:33)

Oleh karena itu Rasulullah shalalhu’alaihi wassalam bersabda,

“Dan dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Mereka para sahabat bertanya. ‘Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala atas perbuatan kita menggauli istri?’ Rasulullah menjawab, ‘bukankah bila kalian salurkan nafsumu dijalan haram kalian berdosa? Maka begitu juga bila dia salurkan dijalan halal, maka kalian mendapat pahala’” (Riwayat Muslim)

Dan Beliau shallahu’alaihi wassalam bersabda,

“Akan tetapi akau menegakkan sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, bukanlah termasuk golonganku.” (Mutafaq’alaihi)

Dengan demikian tidak selayaknya seseorang bermain-main dalam masalah ini, sehingga mengakibatkan rusaknya citra ibadah dan mengesankan pernikahan hanya sebagai “membuang tahi macan” (penyaluran libido) dan tidak berkonsekuensi apapun.

3. 3. Menutup Aurat

Seorang muslimah diperintahkan untuk menutupi perhiasan tubuhnya terhadap laki-laki yang bukan mahramnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepada mereka maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagimu dan hati mereka.” (Al Ahzab:53)

Dan firmanNya,

يَاۤ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاخِكَوَبَنَاتِكَ وَنِسَاۤ ءِالْمُؤمِنِينَ يُدْ نِينَ ءَليهِنَّ مِن خَلاَ بِيبِهِنَّ

“Wahai Nabi katakana kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Al Ahzab:59)

Dan Rasulullah shallahu’alaihi wassalam bersabda,

“Dan jika salah seorang diantara kalian melamar seorang perempuan, maka jika ia mampu hendaklah ia melihat keadaannya yang dapat mendorong untuk menikahinya, maka hendaklah ia lakukan.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud).

4. 4. Tidak boleh melamar perempuan yang telah dilamar sesama muslim

Rasulullah shallahu’alaihi wassalam bersabda,

“janganlah salah seorang diantara kalian melamar (perempuan) yang sedang dilamar saudara muslimnya yang lain, hingga ditinggalkan pelamar sebelumnya atau atas izin saudaranya yang melamar tersebut.” (Mutafaq’alaihi)

Dari keempat bimbingan syariat yang merupakan pedoman bermuamalah dalam mencari jodoh tersebut, kita dapat menimbang langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk meraih cita cinta. Kalaupun seseorang harus menggunakan biro jodoh dalam usahanya, maka ia dapat memilah dan memilih biro jodoh yang hendak digunakannya. Apakah telah memenuhi syarat-syarat tersebut diatas atau hanya menawarkan permainan dan simulasi semu yang berakhir dengan kisah sendu. Karena itu berhati-hatilah agar tidak terjerumus dalam kubangan kemungkaran dan kemaksiatan. Untuk itu waspadalah wahai calon pencari cinta!!

Oleh Abu Hawari

Disalin dari Buku “Pelangi Indah Diatap Rumahku”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: