Hari pertama di Makassar

Setelah beristirahat sejenak di Guest House, kami bersiap-siap untuk Initial Entry di Kantor kami yang baru. Pejabat pertama yang harus kami temui adalah Kepala Sekretariat Perwakilan (Kasetlan) Makassar, beliau adalah bapak Drs. Andi Hasyim. Orangnya ramah dan sangat kental logat makassarnya, selama beberapa menit kita berbincang-bincang mengenai segala hal yang terkait dengan tugas maupun suasana disini.

Seharusnya kami juga akan dibawa menghadap Kepala Perwakilan, namun berhubung beliau tidak ada maka kami langsung menghadap kepala seksi Sulbar dimana kami nantinya akan berada dibawahnya. Kepala seksi kami bernama Rahmat Wibowo S.E, Ak, MM beliau juga orang yang ramah dan masih muda.

Selanjutnya tur “kulonuwun” kami lanjutkan ke Kepala Subauditorat (atasan Kepala Seksi) beliau bernama Nurdiah Sikong (belakangan namanya diplesetkan oleh mbah soerip dengan sebutan anak singkong) orang yang satu ini dari tampangnya sudah bisa ditebak bagaimana sifatnya, saya sendiri mengira beliau agak keras, tegas, dan mungkin pemarah, selalu perfeksionis (dilihat dari bicaranya) dan belakangan berdasarkan cerita  orang-orang ternyata memang begitulah karakternya, mungkin itulah yang menyebabkan mengapa sampai sekarang beliau belum menikah.

Diruangan yang nantinya akan menjadi tempat kerja, kami berkenalan dengan para staf yang lain. Otomatis hari ini adalah hari dimana kami harus tebar senyum ramah dan mulai bersosialisasi dengan para pegawai disini.

Setelah selesai kami meminta ijin untuk kembali ke guest house untuk beristirahat. Kami lupa bahwa dari pagi tadi perut kami belum terisi apa-apa, akhirnya kita keluar mencari makan. Tepat didepan kantor ada sebuah warung kecil bertuliskan “coto ranggong”, saya pikir tidak ada salahnya mencicipi masakan khas Makassar ini.

Coto adalah sebuah masakan yang menurut saya perpaduan antara rawon, gulai, dan soto betawi yang rasanya agak sedikit aneh, karena mungkin lidah saya tidak cocok dengan makanan ini. Biasanya disajikan dengan ketupat, dan tentu saja banyak kolesterol karena isinya adalah jeroan. Saya sendiri heran apakah orang-orang Makassar tidak takut terkena stroke.

Malam harinya sebenarnya saya sangat ingin untuk beristirahat dengan tenang dikarenakan kelelahan yang melanda. Tetapi entah kenapa saya sangat sulit untuk memejamkan mata. Pikiran ini terasa sangat berat, sangat kalut, dengan bermacam-macam permasalahan dan kekhawatiran yang berlebihan.

Saat dikantor pusat dulu, saya sudah berniat untuk ikhlas menerima bahwa inilah jalan hidup yang terbaik yang telah diberikan Allah pada saya. Akan tetapi entah kenapa malam ini muncul banyak kekhawatiran yang aneh dan terlalu berlebihan sehingga membuat saya sangat takut.

Ditambah lagi permasalahan pribadi yang baru saja saya alami yang semakin menambah berat pikiran saya. Selama berjam-jam saya hanya tergolek dan berguling-guling merubah posisi tidur agar bisa memejamkan mata, tapi tidak berhasil. Hati saya terlalu gundah, seakan-akan masih tertinggal di Jakarta sana.

Bermacam-macam kenangan yang masih terekam jelas diingatan kembali terputar di otak saya. Canda tawa kami stanbpk angkatan 2006 di baitul hasib selepas sholat dzuhur, asyiknya bercengkrama dengan teman-teman kos melepaskan penat setelah seharian bekerja dikantor, nikmatnya berdesak-desakan di kereta saat pulang-pergi kekantor yang selalu kami iringi dengan gurauan khas anak stan. Kenangan bersama orang-orang seruangan dikantor yang sudah terlalu baik kepada saya, kenangan bersama ikhwan-ikhwan yang sama-sama duduk dimajelis ilmu di masjid-masjid Bintaro sana. Dan tentu saja secuil kisah asmara yang pernah saya alami disana.

Ah… semuanya berputar kembali di otak saya dengan sangat jelas, seolah-olah saya sedang menonton sebuah film dokumenter dari sepenggal kisah hidup saya di Jakarta. Semua memori itu secara bertubi-tubi menghantam ke pikiran saya. Membuatku lelah secara psikologis.Seandainya tidak adak dua makhluk lain disamping saya, mungkin saya sudah terisak-isak dengan kekacauan saya saat itu. Seperti ketika saya menerima sebuah MMS perpisahan yang dikirim oleh teh Dian yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri.

Sungguh saat itu mungkin hanya dengan menangis, perasaan saya bisa sedikit lega. Menumpahkan segala beban yang menyerbu, biarkan saja saya disebut laki-laki cengeng “boys do cry…” (saya setuju dengan sahabat roid yang menangis untuk hal-hal yang wajar dan perlu *kisahnya bisa dibaca disini*). Saat itu entah mengapa saya begitu sangat ingin untuk pulang kerumah, meletakkan kepala ini di pangkuan ibu seperti kebiasaan yang begitu dihapal ibuku dari kecil hingga sekarang saat bercengkerama dengan seluruh anggota keluarga membicarakan segala hal.

Saya yang dikenal jarang pulang dibandingkan teman-teman yang lain saat di Jakarta dulu bahkan ada yang menyebut saya sebagai anak hilang karena lebih memilih hutan belantara sebagai pelarian saat terdapat waktu libur begitu sangat sangat ingin pulang. Memang hanya rumah yang bisa membuatku tenang, no place like home betapapun sederhananya rumahmu kamu pasti ingin kembali kesana.

Homesick seperti ini mungkin juga sedang dialami oleh sahabat-sahabat BPK yang lain dibelahan bumi nusantara ini. Saya hanya bisa berdo’a semoga hari-hari saya disini bisa membuat saya nyaman dan melepaskan semua kekacauan yang saya alami. Inilah saatnya membuktikan bahwa memang benar inilah jalan yang terbaik bagi kita.

Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hambaNya yang sabar dan ridha terhadap ketentuanNya. Dan bukankah sesungguhnya setelah kesulitan terdapat kemudahan? Mari bersama-sama menjadi hambaNya yang sabar.

One Response to Hari pertama di Makassar

  1. […] Untuk sementara hanya itu cerita dari Makassar yang bisa saya bagi dengan sahabat. Untuk kisah Makassar yang lain bisa sahabat baca di sini, di sini dan di sini […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: