Menolak Kemungkaran dan Bid’ah

bidah.jpg

Menolak Kemungkaran dan Bid’ah

Oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

 عَنْ أُمّ الْمُؤْ مِنِيْنَ أُمّ عَبْدِ الله عَا ئِشَة رَضِي الله عَنْهاَ قَالَتْ : قَالَ رَ سُوْلُ الله صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلّم : مَنْ أَحْدَ ثَ فِي أَمْرِ نَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَرَدٌّ. (رواه البخا ر ي ومسلم) وَفِيْ رِوَايةٍ لِمٌسْلِم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَرَدٌّ.

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiyaallahu’anha ia berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menciptakan hal baru dalam perkara (ibadah) yang tidak ada dasar hukumnya, maka ia ditolak”. (HR Al Bukhari dan Muslim)Dalam hadits riwayat Muslim: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan, yang tidak didasari perintah kami, maka ia ditolak”.

 

Biografi Perawi Hadits

Beliau adalah Ummul Mukminin, ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhuma, istri Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam yang dinikahi di Mekkah pada saat berusia enam tahun. Nabi shallahu’alaihi wa sallam hidup bersama beliau di Madinah ketika beliau berusia sembilan tahun, yaitu pada tahun kedua Hijriyyah dan beliau tidak menikah dengan gadis selainnya.Beliau adalah istri yang paling dicintai di antara istri-istri beliau yang lain. Beliau adalah wanita yang dibebaskan oleh Allah dari berita bohong yang menimpanya dengan wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallahu’alaihi wa sallam. Beliau banyak menghafal hadits, dan termasuk wanita paling pandai. Pada suatu hari Rasulullah mengabarkan kepadanya, bahwa malaikat Jibril ‘alaihissalam menitip salam kepadanya.Pada saat Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam meninggal dunia, beliau berusia delapan belas tahun. Dikabarkan bahwa beliau adalah wanita termulia dan akan menjadi istri Rasulullah shallahu’alihi wa sallam di surga. ‘Aisyah wafat pada tahun 58 hijriyyah dalam usia 67 tahun, dan dikuburkan di pemakaman Baqi’.

Takhrijul Hadits

1.      Shahih Al Bukhari, kitab ash-Shulhi, bab idzas Tholahu ‘ala Shulhi Jaurin, no. 2550.

2.      Shahih Muslim, kitab al Aqhdiyah, bab Naqdhil-Ahkamil Bathilah wa Raddi Muhdatsatil-Umur (no.1718).

3.      Sunan Abi Dawud, kitab as-Sunnah, bab Fi Luzumis-Sunnah, no. 4606.

4.      Sunan Ibni Majah dalam al Muqaddimah, no. 14.

5.      Musnad Imam Ahmad (VI/73, 146, 180, 240, 256, 270).

6.      Shahih Ibni Hibban, no. 26 dan 27. 

Ahammiyatul Hadits (Urgensi Hadits)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini perlu dihafal dan dijadikan dalil untuk menolak segala kemungkaran.” Ibnu Daqiqil-‘Id rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah salah satu pedoman penting dalam agama Islam, yang merupakan jawami’ul kalim (kalimat pendek namun penuh arti) yang dikaruniakan kepada Nabi shallahu’alaihi wa sallam. Hadits ini dengan tegas menolak setiap perkara (dalam urusan agama) yang direkayasa. Sebagian ahli ushul fiqih menjadikan hadits ini sebagai dasar kaidah, bahwa setiap yang terlarang dinyatakan sebagai hal yang merusak.”Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata.”Hadits ini adalah salah satu prinsip dasar yang agung dari prinsip-prinsip dasar Islam, dan menjadi barometer dari setiap amal perbuatan yang zhahir. Sebagaimana hadits, ‘Innamal-a’malu biniyyat…. (sesungguhnya seluruh amal perbuatan tergantung dengan niatnya…) . merupakan barometer dari setiap perbuatan dari segi batin (niat)”.Sesungguhnya setiap amal perbuatan yang tidak ditujukan untuk mencari ridha Allah, maka amal tersebut tidak berpahala. Demikian pula halnya dengan segala amal perbuatan yang tidak ada dasar perintah dari Allah dan Rasul-Nya juga tertolak dari pelakunya. Siapa saja yang menciptakan hal-hal baru dalam agama yang tidak diizinkan Allah dan Rasul-Nya, maka bukanlah termasuk perkara agama sedikitpun.Al Hafizh Ibnu Hajar al’Asqalani rahimahullah berkata,”Hadits ini termasuk bagian dari prinsip-prinsip dasar Islam dan merupakan satu kaidah dalam kaidah-kaidah Islam.”

Fiqhul Hadits (Kandungan Hadits)

1.      Pelaksanaan syari’at Islam harus dilakukan denga cara ittiba’ (mengikuti), bukan ibtida’ (mengada-ada).Melalui hadits ini Rasulullah shallahu’alahi wa sallam menjaga kemurnian Islam dari orang-orang yang melampaui batas. Hadits ini merupakan jawami’ul kalim yang mengacu pada berbagai nash al Qur’an yang menyatakan, bahwa keselamatan seseorang hanya akan diraih dengan mengikuti petunjuk Rasulullah shallahu’alahi wa sallam, tanpa menambahkan ataupun mengurangi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla:

قُلْ إِ ن كُنتُمْ تُحِبُّو نَ اۤللَّه فاۤ تَّبِعُو نِى يُحْبِبْكُمُ اۤللَّه وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُو بَكُمْ وَاۤللَّهُ غَفُو رُ رَّحِيمٌ 

Katakanlah (wahai Muhammad):”Jika kalian semua mencintai Allah, maka ikutilah aku; tentu Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. (Ali Imran: 31)

Juga firman-Nya:

 وَمَن يَبْتَغِ غَيرَ اۤﻹسْلَم دينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فى اۤﻷَ خِرَ ةمِنَ اۤلْخَۤسِرِ ينَ 

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (Ali Imran: 85)

Juga dalam friman-Nya:

وَأَنَّ هَۤذَا صِرَٰ طِى مُسْتَقِيمًا فَاۤتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوأ اۤلسُّبُلَ فَتَفَرَّ قَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ “Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang sesat) karena dapat mencerai-beraikan kalian dari jalan-Ku”. (Al An’am: 153)

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa dalam khutbahnya, Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

فَإِ نَّ أصْدَ قَ الْحَدِيثِ كِتَا بُ اللهِ وَخَيرَ الهَدْ يِ هَدْيُ مُحَمّدٍ صَلىَ اللهُ عَلَيهِ وَسلم وَشَرَاﻷُ مُو رِ مُحْد ثَا تُهَا وَ كُلَّ مُحْدَ ثَةٍ بِدْ عَةٌ وَكُلَّ بِدْ عَةٍ ضَلاَلَةٌ 

 Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (al Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallahu’alahi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat, dan semua yang dibuat-buat adalah bid’ah, sedangkan semua bid’ah adalah sesat.

Dalam riwayat al Baihaqi dan an Nasa’i terdapat tambahan:

وَكُلَّ ضَلاَ لَةٍ فِي النّا رِ

Dan semua kesesatan masuk neraka. 

2.      Hadits ini merupakan dasar yang jelas, bahwa semua perbuatan (ibadah) yang tidak didasari oleh perintah syari’at adalah tertolak. Hadits ini juga menunjukkan, bahwa semua perbuatan—baik yang berhubungan dengan perintah maupun larangan—terikat dengan hukum syari’at. Karenanya, sungguh sangat sesat perbuatan yang keluar dari syari’at; seolah-olah perbuatanlah yang menghukumi syari’at, dan bukan syari’at yang menghukumi perbuatan. Oleh karena itu, setiap muslim wajib menyatakan, ibadah-ibadah yang ada di luar ketentuan syari’at adalah bathil dan tertolak.para Ulama membagi perbuatan-perbuatan dalam ketentuan syari’at terbagi menjadi dua. Pertama, dalam masalah ibadah. Kedua, dalam masalah mu’amalah. 

Pertama, dalam masalah ibadah.

Hukum asal ibadah, pada asalnya adalah dilarang, kecuali yang dicontohkan oleh syari’at. Setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan suatu ibadah, maka harus ada dalil shahih yang menunjukkan disyari’atkannya ibadah tersebut. Jika ibadah yang dilakukan sesorang keluar dari hukum syari’at, maka perbuatan tersebut tertolak. Ini masuk dalam firman Allah Azza wa Jalla:   Apakah mereka mempunyai sekutu selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak dizinkan (diridhai) Allah? (As-Syura: 21)Contohnya, mendekatkan diri kepada Allah dengan mendengar nyanyian, menari, melihat wanita, atau berbagai perbuatan lainnya yang tidak didasarkan pada syari’at. Mereka inilah orang-orang yang dibutakan hatinya oleh Allah, sehingga tidak bisa melihat kebenaran; bahkan kemudian selalu mengikuti langkah-langkah setan. Mereka mengklaim, bahwa mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah melalui kesesatan yang mereka ada-adakan.Mereka ini, tidak jauh berbeda dengan orang-orang Arab Jahiliyah yang menciptakan satu bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah, sedangkan Allah tidak menurunkan hujjah (ilmu) atasnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:  Dan shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan karena kekafiran itu. (al Anfal: 35)Terkadang suatu perbuatan disyari’atkan dalam suatu ibadah, tetapi tidak menjadi ibadah yang benar pada waktu dan tempat yang lain. Sebagai contoh, berdiri dalam shalat adalah amal (perbuatan) ketaan yang disyari’atkan. Akan tetapi, sengaja berdiri dibawah sengatan terik matahari ketika melakukan puasa adalah tidak disyari’atkan. Pernah, pada masa Nabi ada orang yang berpuasa sambil beridiri dibawah sengatan terik matahari. Ia tidak duduk dan berteduh. Lalu Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam menyuruhnya untuk duduk dan berteduh sambil terus menyempurnakan puasanya.Para ulama telah sepakat, suatu ibadah tidaklah sah, kecuali apabila terkumpul dua syarat. Yaitu ikhlas karena Allah dan mutaba’ah (mengikuti contoh Nabi). Hendaknya diketahui, bahwasanya mutaba’ah (ittiba’) tidak akan terwujud, melainkan bila amal itu sesuai dengan syari’at Islam dalam enam perkara (a) sebab, (b) jenisnya, (c) kadar bilangannya, (d) kaifiyat, (e) waktunya (f) tempatnya.

a.     Sebabnya.

Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyariatkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima. Misalnya, ada orang yang melakukan shalat tahajjud pada malam 27 bulan Rajab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam mi’raj Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam. Shalat tahajjud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut, maka ia menjadi sebab yang tidak ditetapkan dalam syari’at. Syarat ini sangat penting, karena dengan demikian akan dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah, namun sebenarnya adalah bid’ah.

b.     Jenisnya.

Maksudnya, ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima. Misalnya, seorang yang menyembelih kuda untuk kurban. Maka penyembelihan ini tidak sah, karena menyalahi ketentuan syar’i dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi, dan kambing.

c.     Kadar (bilangan/ukuran).

Jika ada seseorang yang menambah bilangan raka’at shalat, yang menurutnya penambahan itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan syari’at dalam hal bilangan raka’atnya. Jadi apabila aa orang shalat dzuhur lima raka’at, umpamanya, maka shalatnya tidak sah.

d.     Kaifiyat (cara)nya.

Seandainya ada orang yang shalat, dia sujud terlebih dahulu sebelum ruku. Maka shalatnya tidak sah dan tertolak, karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syari’at.

e.     Waktunya.

Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban atau hadyu pada hari pertama bulan dzulhijjah, maka sembelihan (kurban)nya tidak sah, karena waktu pelaksanaannya di luar ketentuan ajaran Islam. Contoh lain, orang yang shalat sebelum masuk waktunya, maka shalat tidak diterima.

f.        Tempatnya.

Andaikata ada orang yang beri’tikaf di tempat selain masjid, maka i’tikafnya tidak sah. Sebab, tempat i’tikaf hanyalah di masjid.

Kedua, dalam masalah mu’amalah.

Hukum asal dalam mu’amalah adalah dihalalkan, kecuali mu’amalah yang diada-adakan; yang memang ada keterangan dari syari’at yang menunjukkan diharamkannya mu’amalah tersebut.Keterangan sebagai berikut:

a.     Berbagai akad yang dilakukan manusia yang dilakukan sebagai ganti dari akad syari’at yang sah.Contohnya, kejadian pada masa Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, suatu saat ada orang yang bertanya kepad Rasulullah dan menginginkan agar hukuman zina diubah dengan denda, maka Rasulullah menolaknya. Lebih lengkapnya kejadian tersebut diriawyatkan oleh Al Bukhari dan Imam Muslim dalam seuah hadits yang menyatakan, bahwa Nabi Shallahu’alaihi wa sallam didatangi seorang. Orang itu berkata: “Anakku bekerja pada si Fulan, lau ia berzina dengan istrinya. Saya telah membayar denda sebanyak seratus kambing dan seorang pembantu.” Mendengar penuturannya Rasulullah bersabda:” seratus kambing dan pembantu dikembalikan kepadamu, dan hukuman bagi anakmu seratus kali cambukan dan diasingkan selama satu tahun”.

b.     Akad yang dilarang menurut syari’at, seperti:-Pernikahan yang diharamkan oleh Allah dengan sebab kerabat, atau nasab, atau menggabungkan dua saudara. Maka akadnya adalah bathil (tidak sah).-Hilangnya salah satu syarat dalam akad, seperti nikah tanpa wali, baik gadis maupun janda, maka akad nikahnya tidak sah.-Akad yang diharamkan Allah Ta’ala, seperti jual-beli khamr, bangkai, babi, patung, anjing, riba, dan semua jual-beli yang dilarang menurut syari’at, maka akadnya bathil atau tertolak.-Akad yang didalamnya ada kedzaliman atau penipuan, maka dikembalikan kepada yang didzalimi, dan lainnya.

Demikian juga semua akad (transaksi) yang dilarang oleh syara’ , atau dua orang yang melakukan akad mengabaikan salah satu rukun atau syarat akad, maka akad tersebut bisa batal dan tertolak. Permaslahan ini, tentang sah dan tidaknya serta tertolak dan tidaknya, secra lebih terperinci bisa dibaca di kitab-kitab fiqih.

3.      Dalam Kehidupan, ada perkara-perkara yang sifatnya baru dan tidak bertentangan dengan syari’at, bahkan sesuai atau cenderung didukun dasar-dasar syari’at. Maka perkara-perkara tersebut diterima. Hal inilah yang disebut maslahat mursalah. Para shahabat banyak mencontohkan hal ini. Seperti menghimpun al Qur’an pada masa Abu Bakar, penyeragaman (bacaan) al Qur’an pada masa Utsman  bin Affan dengan mengirimkan salinan-salinan mushaf ke berbagai penjuru disertai para qari’.

Contoh lainnya, penulisan ilmu nahwu, tafsir, sanad hadits dan berbagai ilmu lainnya, baik teori maupun yang bersifat empiris yang bermanfaat bagi manusia, dan dapat mendorong pelaksanaannya hokum Allah di muka bumi ini.

Dari uraian di atas bisa disimpulkan, bahwa perkara-perkara yang sifatnya baru dan bertentangan dengan syari’at, maka perkara tersebut tergolong bid’ah yang tercela dan sesat. Namun perkara yang sifatnya baru dan tidak bertentangan dengan syari’at, maka perkara tersebut baik dan diterima. Dari perkara-perkara itu ada yang sunnah, ada juga yang bersifat fardhu kifayah.

Dosa bid’ah yang sesat pun bervariasi, tergantung bahaya yang ditimbulkan dan ketidaksesuaiannya dengan nilai-nilai Islam. Bahkan dalam melakukan perbuatan bid’ah tersebut, seseorang bisa terjerumus pada kekufuran dan kesesatan. Misalnya, orang yang bergabung dengan aliran sesat, yang mengingkari wahyu dan syari’at Allah, mengajak untuk menerapkan hukum buatan manusia, menuduh penerapan hukum Allah merupakan keterbelakangan. Atau orang yang bergabung dengan jama’ah-jama’ah sufi yang meremehkan berbagai kewajiban, atau mempunyai paham wihdatul wujud ataupun hulul (manunggaling kawula gusti) dan berbagai perilaku sesat lainnya; maka perbuatan ini jelas-jelas kufur, dan dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam; tentunya setelah terpenuhi syarat dan tidak ada penghalang yang membuat dia keluar dari Islam.

Yang juga termasuk bid’ah sayyi’ah atau sesat, yaitu pengagungan terhadap suatu benda dan minta keberkahan kepada benda tersebut dengan kayakinan, bahwa benda  yang ia agungkan  bisa member manfaat (atau sebagai perantara-red). Misalnya mengagungkan pohon, batu, atau lainnya. Pernah suatu saat para shahabat lewat di samping pohon bidara yang diagung-agungkan orang-orang musyrik.

Diriwayatkan dari Abu Waqid al Laitsi radhiyallahu’anhu, ia berkata:

Kami keluar bersama Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam ke hunain, dan kami adalah orang-orang yang baru masuk Islam. Ketika itu orang-orang musyrik memilki sebatang pohon bidara yang disebut dzatu anwath. Mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon itu, kami pun berkata: “Ya Rasulullah. Buatkanlah kami dzatu anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) mempunyai dzatu anwath.”

Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

  

Subhanallah, hal ini seperti perkataan kaum Nabi Musa (Bani Israil kepada Musa), ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan, sebagaimana mereka mmemilki sesembahan’. (Al A’raf: 138) –Demi Rabb yang diriku berada di tangan-Nya, kamu benar-benar mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu”. (HR Tirmidzi no. 1281. Beliau berkata,”Hadits ini hasan shahih”).

 Dalam hal ini mereka tidak kafir, karena mereka baru masuk Islam. Dan perkataan tersebut mereka ucapkan karena ketidaktahuan.

Hadits kedua, “Barangsiapa melakukan amalan, yang tidak didasari perintah kami, maka ia (amalan tersebut) tertolak”, karena sebagian ahli bid’ah hadits pertama. Mereka berargumen, kami tidak pernah menciptakan hal baru. Apa yang kami lakukan telah kami dapatkan ari orang-orang sebelum kami. Maka dengan menyebutkan hadits yang kedua ini argumen mereka tidak bernilai.

1.      Dari hadits di atas bisa kita pahami bahwa barangsiapa yang mereka-reka satu amalan maka dosanya ia sendiri yang menanggung dan amalan tersebut tertolak.

2.      Setiap orang yang mengadakan sesuatu yang baru dalam ibadah, seperti do’a dan dzikir tertentu yang tidak ada Sunnahnya dari Nabi shallahu’alahi wa sallam, maka ia telah berdosa dari empat segi.

a.     Meninggalkan doa dan dzikir yang disyari’atkan.

b.     Menambah-nambah syari’at Islam.

c.     Mensunnahkan seusatu yang tidak disyari’atkan.

d.     Mengelabui orang awam, yang menurut mereka bahwa hal itu boleh dikerjakan.

 Kesimpulan

Wajib atas setiap penuntut ilmu untuk berhati-hati, dan tidak terburu-buru dalam menghukumi suatu amal ditolak (tidak diterima) berdalil dengan hadits ini. Wajib baginya untuk melihat dan mencari pendapat ulama tentang hukum dalam suatu masalah. Dia harus memahami kaidah dan prinsip yang dipakai para ulama dalam menentukan suatu amalan diterima atau ditolak. Wallahu’alam.

Fawaidul Hadits (Manfaat Hadits)

1.      Hadits sebagai barometer (timbangan) amal yang zahir.

2.      Perbuatan bid’ah adalah diharamkan dalam agama.

3.      Amal perbuatan yang dibangun diatas bid’ah, maka ia tertolak.

4.      Bahwasanya larangan terhadap sesuatu, cenderung karena adanya dampak kerusakan sesuatu tersebut.

5.      Semua perbuatan yang diada-adakan dalam Islam yang tidak ada tuntunan dari syari’at maka perbuatan itu tertolak, meskipun dilakukan dengan niat yang baik.

6.      Amal shalih yang dilakukan tidak mengikuti ketentuan syari’at, seperti enam perkara diatas (yaitu sebab, jenis, kadar, kaifiyat, waktu, dan tempat) maka amalnya bathil dan tidak sah.

7.      Bahwasanya agama Islam adalah agama yang sempurna dan tidak ada kekurangan padanya.

8.      Kewajiban umat Islam adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan ittiba’ kepada Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam.

9.      Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam).

  Maraji’:

1.       Syarah al Arba’in li Ibni Daqqil ‘Id, cet, Th 1427 H, Dar Ibni Hazm.

2.       Jami’ul- ‘Ulum wal-Hikam, tahqiq Syaikh Syu’aib al-Arnauth dan Ibrahim Baajis.

3.       Al Wafi fi Syarhil-Arbain an-Nawawiyah, karya  Dr. Mustafa al Bugha dan Muhyiddin Mostu, Cet.VIII, Th. 1413 H, Maktabah Dar at-Turats.

4.       Qawa-id wa Fawa-id minal-Arbain an-Nawawiyah, karya Nazhim Muhammad Sulthan Cet. I, Th. 1408 H. Dar as-Salafiyyah.

5.       Syarah al Arbain, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al’Utsaimin, Cet.III, Th.1425 H, Dar Tsurayya lin-Nasyr.

6.       Fathul Qowiyyil Matin fi Syarh al Arba’in wa Tatimmatul-Khamsin, karya syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al’Abbad al Badr, Cet. I, Th.1424 H, Dar Ibni “Affan.

7.       Tash-hihud-Du’a, karya Syaikh Bakr Abu Zaid.  

Disalin dari majalah as-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428 H Hal 15-21.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: