Shalat Berjama’ah dan Demokrasi

Pagi ini tanggal 24 Desember 2007 sekitar pukul 10.00 WITA, suara derum puluhan mungkin ratusan kendaraan bermotor mengagetkan saya yang masih di kamar sedang duduk di depan layar laptop dengan tumpukan buku-buku referansi kesayangan. Ada apa gerangan? saya tanyakan pada teman di kamar depan, “Lagi ada demo…”ujarnya. Ah mungkin saja, sebab di depan rumah kos kami berjajar beberapa gedung pemerintahan yaitu, gedung DPRD Provinsi, Pengadilan Tinggi, dan Departemen Keuangan. Mungkin ada yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah, sehingga mereka keluar memberontak dan mencaci-maki penguasa.

Kemudian saya sempatkan keluar sejenak untuk menengok apa yang terjadi sebenarnya. Ternyata yang mengadakan demo adalah para pendukung salah satu pasangan pemilihan kepala daerah provinsi Sulawesi Selatan yang beberapa waktu lalu dinyatakan menang. Mereka tidak puas atas keputusan Mahkamah Agung yang memenangkan gugatan dari pasangan lainnya untuk mengulang pilkada Sulsel karena dinilai telah terjadi kecurangan. Memang berita baru-baru ini cukup menghebohkan masyarakat Sulsel, tak terkecuali rekan-rekan kantor. Saya memang tidak mengetahui secara pasti apa duduk perkaranya, tapi sejauh yang saya tahu Mahkamah Agung memutuskan agar pemungutan suara di beberapa daerah yang dinilai terjadi kecurangan diulang karena perbedaan suaranya kecil sehingga indikasi kecurangan (penggelembungan suara) besar terjadi.

Suara riuh pendemo semakin gaduh, derum knalpot-knalpot bersahut-sahutan, suara orator dari corong mikrofon dan dipancarkan dari perangkat sound system ribuan watt menggema di sambut tepukan peserta yang lain di akhir orasinya. Terkadang, di sela-sela orasinya mereka bersama-sama koor meriakkan takbir dengan lantang…Allahu..Akbar..!! Allahu…Akbar…!!menandakan bahwa mereka muslim.

Suara adzan dzuhur sayup-sayup terdengar diantara sorak sorai peserta demo. Saya pun mengambil air wudhu, berganti pakaian dan berjalan keluar rumah. Saat pagar rumah saya buka, mata saya terbelalak melihat gelombang lautan manusia dan kendaraan bermotor yang saling berdesak-desakan. Jalan oerip soemohardjo di depan rumah kos kami memang terkenal macet, karena akan dibangun fly over di sana. Tapi kemacetan ini sungguh luar biasa, tidak seperti hari-hari biasanya. Kebanyakan kendaraan tidak bisa bergerak maju, motor-motor berjajar seperti sebuah parade, manusia dengan berbagai atribut saling bergerombol membentuk suatu pola yang tidak teratur. Tepat di tengah, di depan gedung DPRD provinsi sana berdiri megah kendaraan yang dilengkapi perangkat pengeras suara. Di atasnya berdiri orang-orang berpenampilan intelek, dengan semangat berapi-api berteriak tentang ketidak adilan dan matinya hukum di Republik ini.

Dan suara adzan pun beradu dengan teriakan sang pendemo, seruan untuk menegakkan shalat itu dijawab dengan sorakan dan takbir model mereka. Subhanallah……, pemandangan yang sangat aneh. Saya kemudian berpikir sejenak diam mematung, saya tidak akan berhasil menerobos barikade massa ini. Kalau toh berhasil mungkin jama’ah telah bubar setibanya saya nanti di masjid, karena jarak rumah dan masjid cukup lumayan. Pupus harapan, semoga ini bisa menjadi udzur bagi saya. Saya beringsut kembali ke rumah, setelah melontarkan senyum kepada seorang ibu-ibu dengan ikat kepala diatas sebuah truk, sepertinya dia juga salah satu simpatisan pendemo. Seutas senyum yang sama saya lontarkan kepada bapak-bapak polisi yang istirahat di teras rumah saat saya memasuki halaman.

Di dalam kamar pikiran saya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Di luar sana berbagai macam orang dari segala lapisan sedang mengadakan suatu ritual khusus, yang merupakan buah dari apa yang disebut sebagai reformasi dengan induknya yang bernama demokrasi. Tua-muda, laki-perempuan, besar-kecil, kaya-miskin, pintar-goblok, baik-jahat, semua bersatu untuk menuntut apa yang diinginkan oleh segelintir orang yang haus akan jabatan. Apakah anak-anak ingusan dengan ikat kepala dan bendera ditangan, sadar apa yang sedang mereka lakukan. Apakah petani tua, dan ibu-ibu diatas sebuah truk itu mengerti apa yang sedang diperjuangkan oleh bapak-bapak berseragam necis yang berteriak di depan sana. Apa yang sopir truk, tukang becak, preman pasar, pemuda-pemuda pengangguran tahu tentang demokrasi dan urusan pemerintahan?Silih berganti bapak-bapak itu berorasi, masih diiringi takbir dan malah ditambah dengan pembacaan surat al fatihah. Masih juga massa menarik gas motornya dan memukulkan kayu ke dinding pembatas pembangunan fly over disambut teriakan teman-temannya yang lain. Selesai  berorasi bapak itu tentu akan bergegas menuju mobil mewahnya untuk menikmati tiupan pendingin udara yang menyejukkan. Sedangkan pendukungnya dengan setia berdiri di tengah cuaca daerah pesisir yang lumayan panas di musim hujan ini.

Saya kemudian berpikir lagi, begitu hebatkah orang yang dibela ini? Begitu terpujikah akhlaknya hingga ratusan bahkan ribuan orang mencintainya? Apakah pemimpin ini setiap malamnya tidak tidur, kemudian berkeliling ke rumah-rumah untuk mencari rakyatnya yang kelaparan? Apakah saat mengantarkan istrinya arisan atau anaknya sekolah dia tidak memakai mobil plat merahnya? Timbul suatu pertanyaan sederhana, berapa kekayaan yang dimilikinya, kemudian berapa setiap kepala di upah untuk bersama-sama berteriak menyahut jawaban-jawaban orator dan berpanas-panas ria diluar sana? Lalu berapa yang akan dia ambil dari rakyat untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya? Ingat, ini Indonesia bung, Negara 5 besar terkorup di dunia. Pikiran semacam inilah yang masih logis dan diterima akal, jika menyangkut masalah berebut kekuasaan. Seperti inilah keadaan Negara kita, ingatlah firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Ra’du: 11)Jika keadaan masyarakat kita masih seperti ini tidak heran jika musibah terus melanda negeri ini.

Saya jadi teringat ceramah Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizhahullah tentang penyebab musibah yang terus melanda negeri ini beberapa waktu lalu. Beliau menyebutkan hadits yang panjang yang berbunyi,“Hai orang-orang muhajirin, lima perkara; jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah kamu tidak mendapatinya……. Sampai pada lafazh…. Dan selama pemimpin-pemimpin tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan pemusuhan diantara mereka.” (HR Ibnu Majah, Al Bazzar, Al Baihaqi; dari Ibnu Umar dishahihkan Syaikh Al Albani) *Dinukil dari Majalah Assunnah*

Demokrasi bukanlah dari Islam, tapi yang mengherankan kaum muslimin di negeri ini masih saja terbuai dengan sistem yang dibuat oleh kaum kuffar ini. Saya tidak bisa membahas masalah ini karena saya tidak mempunyai kapasitas untuk itu. Sebaiknya masalah demokrasi ini ditanyakan pada ulama yang paham ilmu agama. Tapi satu hal yang saya yakin bahwa demokrasi bukan syuro dan bukan dari Islam. Wallahu’alam…….

Pukul 02.00 siang, rombongan pendemo membubarkan diri. Jalan oerip kembali seperti semula, hilang sudah kecemasan pak polisi, kekesalan para penumpang angkot telah sirna, cacian dan makian tidak terdengar lagi. Di dalam kamarku tenang kembali, selesai sudah tulisan ini saya buat. Alhamdulillah tidur siang tanpa kebisingan……

  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: