Kamu Tarekat Apa…???

Kisah ini terjadi pada salah seorang teman saya, ketika shalat berjama’ah di masjid dekat rumah kos. Saat itu selesai shalat maghrib berjama’ah, teman saya melanjutkan dengan shalat sunnah rawatib. Tampaknya teman saya ini tidak menyadari kalau ternyata dia dari tadi diawasi oleh sang imam masjid. Begitu selesai sang imam mendekatinya, teman saya lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman tapi apa mau dikata sang imam menolak untuk bersalaman. Lalu sang imam meminta teman saya untuk tidak pulang dulu dan berbincang dengannya sebentar. Kemudian dengan nada interogasi, keluarlah kalimat itu, “Kamu tarekat apa?”, tanyanya gusar. Dengan nada polos dan kaget teman saya menjawab, “Tidak tahu…”. “Saya sudah selesai shalat sunnah kok kamu belum selesai, lama sekali….jangan-jangan kamu artikan ya bacaannya.…” tanyanya lebih lanjut. “Iya…pak, tapi dalam hati”, balas temanku polos. Lalu terjadilah dialog lebih lanjut yang tentunya masih dengan nada layaknya suatu interogasi atau sidang skripsi, dengan tujuan tentu mengorek keterangan jangan-jangan teman saya ini ikut aliran sesat yang memang sedang marak di bahas di berbagai media massa.

Sedemikian paranoid-kah masyarakat kita, sehingga orang asing yang shalat di masjid lalu kita curigai sebagai penganut aliran sesat. Lalu dengan penampilan atau cara beragama dari masyarakat umumnya yang belum tentu ibadah yang dilaksanakan kebanyakan orang sudah sesuai syari’at, sedangkan belum tentu yang di lakukan minoritas itu ajaran sesat. Tentu diperlukan ilmu untuk menilai suatu perbuatan itu sesat atau bid’ah, dengan membandingkan ada tidaknya contoh dari Nabi shallahu’alaihi wasallam. Untung saja hal ini tidak terjadi pada saya, padahal saya kadang-kadang memakai gamis ala timur tengah saat shalat di sana dan saya juga mengerak-gerakkan jari telunjuk saat duduk tahiyyat yang tidak dilakukan kebanyakan jama’ah.

Mungkin yang bertanya-tanya seperti itu adalah masyarakat sekitar kampung saya disana ketika saya pulang akhir Ramadhan lalu. Saat saya shalat menggunakan gamis kesayangan saya itu, mungkin tetangga-tetangga saya bertanya-tanya ikut aliran apakah anak ini. Lalu ditambah pula dengan cara shalat menggerak-gerakkan jari telunjuk, tidak mengusap wajah ketika salam, bersalam-salaman seusai shalat, dzikir berjama’ah keras-keras, atau melantunkan pujian-pujian antara adzan dan iqomah yang tentu dianggap aneh oleh jama’ah yang lain. Ini membuktikan benarnya sabda Nabi shallahu’alaihi wa sallam,

 “Sesungguhnya Islam pada permulaannya asing dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka beruntunglah bagi al-ghuraba’ (oran-orang yang asing) (HR. Muslim)

Saya toh tidak mengambil pusing, selama mereka tidak menuduh saya macam-macam secara terang-terangan di depan saya. Saya akan diam saja, saya tidak atau belum berani menjelaskan dan berdakwah bahwa apa yang mereka lakukan adalah bid’ah yang sesat. Karena seperti diketahui bahwa kebanyakan masyarakat pedesaan di jawa umumnya awwam dan hanya taqlid pada kyiai-nya atau yang lebih parah yang beraliran syirik kejawen dan pengikut tasawwuf. Berbagai ritual bid’ah, khurafat dan syirik masih berkembang subur di kampung saya. Bahkan perilaku Quburiyyun sangat digemari disana, karena banyaknya makam orang yang dianggap shalih dan bahkan makam salah satu walisongo pun ada. Padahal  terdapat banyak hadits yang melarang menjadikan kubur-kubur itu sesembahan dan tempat ibadah, salah satunya sabda Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam ketika beliau hendak meninggal dunia,

“Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhary-Muslim)

Sangat menyedihkan memang gambaran keadaan disana, belum ada dakwah tauhid yang benar. Orang-orang yang menegakkan sunnah dan memberantas bid’ah masih jarang dan bahkan tidak ada. Yang menjadikan saya bahagia adalah tanggapan orang tua saya yang tidak mempermasalahkan penampilan saya yang berubah. Saya harus menunjukkan sikap yang lebih baik daripada saya yang dulu karena dakwah yang bisa saya lakukan sementara hanya berupa perilaku, saya belum berani melarang dengan terang-terangan kepada ayah saya untuk tidak ikut tahlilan maupun acara-acara kenduri yang bersifat bid’ah. Bukankah dakwah kepada orang tua yang belum paham harus diimbangi dengan kewajiban birrul walidain dahulu. Mereka tetap mempercayai bahwa saya masih berada dalam jalur yang benar, bahkan kakak perempuan saya pun memahami apa yang saya lakukan sudah sesuai sunnah. Kami pun jadi sering berdiskusi, saya juga membelikan majalah-majalah dan buku-buku bermanhaj salaf untuk kakak saya dengan harapan beliau bisa lebih memahami manhaj ini.

Namun keluarga dan kerabat yang lain masih belum memahami apa yang saya lakukan. Sebagai contoh saat silaturahmi ketika lebaran tiba, saya tidak mau berjabatan tangan dengan yang bukan mahram saya. Berbagai sindiran pun dilontarkan, namun saya berusaha menjelaskan dengan pelan-pelan masalah ini. Sedikit demi sedikit saya pun menjelaskan berbagai permasalahan yang saya ketahui hal tersebut sebagai bid’ah yang tidak ada contohnya dari nabi Shallahu’alaihi wa sallam.

Namun untuk menjelaskan permasalahan ini kepada orang yang lebih tua memang harus sabar dan dengan cara yang baik, sebab mereka sudah terlanjur yakin bahwa amalan yang diberikan kyiai-nya itu benar dari Islam. Saat saya mengundang teman-teman SMP saya berkumpul dirumah, saya juga sedikit berdiskusi dengn teman-teman lama saya dari yang ngaji di pesantren orang-orang NU (Jawa Timur apalagi Tuban merupakan markas besar NU yaitu di Ponpes Langitan) sampai yang kuliah dan ikut tarbiyah hizby. Masih dengan gamis kesayangan saya, mereka mengira saya adalah karkun (jama’ah tabligh), saya baru sadar bahwa nama jama’ah tabligh sudah terkenal kalau di kampung. Itulah sekelumit cerita dari kampung saya, suatu saat saya bercita-cita untuk berdakwah menegakkan sunnah memberantas bid’ah disana jika Allah membei saya ilmu dan kesempatan insyaallah.

Lain lagi cerita sewaktu saya bertugas melakukan audit di daerah Blitar saat bulan Ramadhan lalu. Saat tim saya melakukan exit briefing (istilah pamitan bahwa audit telah selesai) di Pemerintah Kota Blitar, yang saat itu juga harus bertemu dengan aparat Bawasda (Badan Pengawas Daerah). Kepala Bawasda ini tidak isbal, begitu dia mengetahui saya juga tidak isbal dia seperti ingin tahu apakah saya dan dia berada pada satu aliran yang sama. Kemudian dia bertanya kepada saya dimana saya tinggal di Jakarta, lalu mengaji pada siapa. Sejurus kemudian dia menunjukkan suatu kode-kode dengan tangannya, dan berkata kalau kamu tahu artinya ini berarti kita sedulur (saudara). Saya yang saat itu tidak mengetahui apa maksud bapak ini, dengan polos hanya mengelengkan kepala. Tampaknya waktu kami pamitan pun bapak ini masih penasaran dengan aliran saya, saya pun demikian masih bertanya-tanya maksud bapak ini.

Selang waktu beberapa lama, saat saya di Jakarta setelah membaca beberapa buku dan secara tidak sengaja menemukan suatu artikel di internet. Saya baru mengetahui bahwa bapak kepala Bawasda Provinsi itu adalah salah seorang jama’ah LDII sesat. Kuat dugaan saya karena samar-samar saya ingat kode tangannya dulu adalah bilangan 354, kode orang-orang LDII. Ditambah lagi cerita dia tentang keinginannya membuat pesantren di dekat rumahnya di Kediri yang notabene merupakan sarang LDII takfiri sesat menyesatkan ini.

Sungguh saya sangat bersyukur, bisa berkenalan dengan manhaj yang haq ini tanpa terkena syubhat-syubhat paham sesat yang banyak tersebut. Saya senantiasa berdoa agar berada tetap dalam jalan hidayah, jalan golongan yang selamat. Walaupun, telah banyak tuduhan dusta di lontarkan kepada salafiyyin, saya akan selalu ingat perkataan syaikhul Islam Ibnu taimiyah dalam majmu fatawanya, “Tidak tercela orang yang menunjukkan manhaj salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib untuk menerimanya. Karena manhaj salaf tidak lain adalah kebenaran”.

Pengikut-pengikut bid’ah, khurafat dan quburiyyun yang antipati terhadap dakwah salaf yang penuh hikmah ini dengan hawa nafsunya menuduh salafiyyin wahabi sesat. Saya tentu akan membalas dengan berkata,”Bila pengikut Nabi Muhammad shallahu’alaihi wa sallam adalah wahhabi, maka saksikanlah bahwa aku seorang wahhabi..!!!”   

15 Responses to Kamu Tarekat Apa…???

  1. agorsiloku says:

    Wah… nggak enak ya… selesai shalat kok diinterogasi… tapi mungkin juga pertanyaan biasa saja… hanya memastikan… hanya tampangnya sangar, jadi pertanyaan biasa dirasa paranoid….

    Namun, memang seeh, kadang saya juga ngerasa (ngebatin), kok imam mimpin sholat, kayak kebelet pipis… apalagi pengalaman lalu shalat taraweh yang totalnya 23 rakaat. Ngebut benar.. kayak mau buru-buru ke surga….
    ————————

    Hehe iya mas, untung bukan saya yg ngalamin
    sekarang udah clear kok urusannya…

  2. kiwi.354 says:

    alhamdulillah sejak kecil aku dah ngaji
    meski agak malas2an, tapi ya tau dikit2lah.
    dan aku sangat bersyukur bisa mengaji qur’an hadits
    meski kadang menyesal kenapa dulu malas2an mengaji

    ya terserahlah klo mo anggap sesat
    gue sih nyaman2 aja
    bgku pribadi, perbedaan itu kadang bs membuatku tersenyum

    yah… Udah saya prediksi kamu bakal kasih komentar,
    dulu saya ga tau kalo kamu ma azhar ikut LDII (kirain kalian ikut jama’ah tabligh),
    setelah beberapa kejadian saya baru tau akhir2 di Jakarta
    kita lanjutin via e-mail aja ya, kalo sempet n ada waktu luang
    tengkyu uda berkunjung

  3. kiwi says:

    hehehe

    eh tengkyu ya bukan jazakalloh?🙂

    gw seh ga yakin ma kabawas tadi, not like that
    pgn tau knp dikira jamaah tabligh
    dan juga pgn tau kejadian2 apa yg mbuat perkiraan mu berubah

    sorry ga tau alamat emailmu,

    email me @
    rizqieky@yahoo.com and
    di tembusin ke kiwi.354@yahoo.com

    jazakalloh

    tengkyu, suwun, syukron, bukannya artinya sama??
    Lagian ga ada kewajiban berbahasa syar’i kan…?
    soal kabawas, kalo ga yakin juga gapapa, soale kalian yg lbh tau seluk-beluknya…
    Kalo saya yakin karena beberapa hal yg saya alami sendiri termasuk indikasi2 yg saya dapat dari sang asisten
    coba aja ditanyakan ya…Saya juga pgn tau…
    Email-emailan nanti kalo saya agak luang ya… Disini masih disuruh belajar buat persiapan tugas, ga enak tiap kali ditanya ga bisa jawab, padahal ngakunya “lulusan stan”
    satu hal lagi mudah2an nanti bukan menjadi jidal, yang malah ga bermanfaat sama sekali…

  4. kiwi.354 says:

    wah,,wah,, wah,,
    aku tersanjung..
    sekedar bwt ngirim email bwt njwb pertanyaanku aja harus mengumpulkan tenaga dan waktu luang yang cukup
    makasih ya, honest

    sekedar saran, klo ada waktu coba studi lapangan, tidak cuma studi pustaka
    cz sejarah tidak selalu tertulis seperti apa yang sebenarnya terjadi,
    oh ya, ins.a semester 2 nanti ada asrama hadist ibnu majah jilid 2

    ah, apalah artinya saya ini…
    Saya ini hanya hamba yang dhoif, masih berandalan, dan baru mengenal manhaj salaf yang haq ini belakangan (alhamdulillah….)

    Tapi saya yakin bahwa jalan inilah yang benar, bukan jalan firqoh-firqoh lain, termasuk jama’ah kalian

    Memang saya masih tahap pembelajar, tidak layak untuk berkecimpung dalam masah rudud. Ilmu yang saya miliki sangat minim

    Tapi, karena saya yakin apa yang saya katakan adalah benar berdasarkan apa yang saya ketahui. Maka saya harus mengatakannya

    Adapun studi kepustakaan bagi saya sudah cukup, karena dalam materi rujukan saya sudah mencakup pengalaman lapangan orang-orang yang telah mengalaminya

    Saya hanya berharap kamu bisa rujuk dalam kebenaran

    Sesungguhnya Hidayah adalah milik Allah Azza wa Jalla semata

    wallahu’alam

  5. al-fakir.... says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    nuwun sewu…
    semoga kedamaian merasuk dlm ruhmu,
    sehingga jiwamu akan mampu memandang dengan pandangan hakiki…
    bukan dengan pandangan mata koyor,

    jgn2 setiap statement yang kita publikasikan bukan lahir dari jiwa yg tenang,melainkan melalui nafsu dan amarah karena tidak sesuai dengan cara berfikir kita, kalo agama hanya dilandasi “hanya” dengan akal fikiran yg sangat terbatas, maka hancurlah agama itu…

    jangan2 tuduhan kafir kita, tuduhan bid’ah kita, tuduhan sesat kita kpd org lain justru berbalik kpd diri kita sendiri

    kita akan mengenal diri kita hanya dengan melalui jalan ma’rifat ilallah…
    maka carilah sosok Mursyid yang kamil mukamil, yang ilmunya nyambung, dan sanadnya jelas kpd Rosulullah, SAW…sang pemberi syafaat, kekasih hati kita, penghias mata kita

    engkau akan menenggak samudra kedamaian di sana…
    Man ‘arofa nafsahu faqod arofa robbahu…
    kenalilah dirimu sendiri!!!
    beristikhorohlah setiap kita akan mengambil keputusan
    termasuk dalam berkeyakinan tentang pemahaman islam kita,
    bertafakurlah dengan lubuk hatimu yang terdalam…
    sudah benarkah islam kita??!!
    jgn sibukkan diri kita dengan banyak mengoreksi orang lain,sementara kita tidak pernah menghisab diri kita sendiri…
    jgn pernah memvonis golongan lain, karena itu adalah Hak Prerogatif Gusti Allah Ta’ala!!!!!
    Wallaahu a’alam bishshowaab…
    yaa Allah ampunilah kealpaan kami….
    astaghfirullaahal’adziim….
    Allahumma anta Robbi laa ilaaha illa anta kholaqtanii, wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wawa’dika mastatho’ tu, a’uudzubika min syarri maa shona’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfirudzdzunuuba illa anta…
    semoga kita dipertemukan di dalam surga-Nya kelak, Amiin yaa Allaah ya Robbal’aalamiin…..
    mohon maaf akhi…
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    wa’alaykumussalam…..
    cuma satu kata buat anda
    semoga cepat bertobat dari aliran sesat LDII itu….
    dan satu juga pertanyaan saya,
    apa saya yang gak ikut golongane sampeyan kafir?ahli neraka?
    walya’udzubillah…..

  6. Saya bukan orang bodoh pak….
    Maap-maap saja kalo mau membodohi orang laen….

    Gak usah sok banyak ceramah pak….
    Cukup bagi saya data dan fakta yang ada atas kesesatan Jama’ah Kalian….
    Berbicaralah dengan ilmu, jangan Anda kedepankan ritual Bithonah kalian para pendusta!!!

  7. al-fakir.... says:

    ….alhamdulillah
    masih ada yang mengingatkan, nek aku wong bodoh…
    maturnuwun nggih mas, samudraning maturnuwun
    KAMI TIDAK BERANI MENGKAFIRKAN SAUDARA KAMI SESAMA ISLAM!!!!
    INSYAALLAH ANDA SAUDARA KAMI!!
    SURGA ATAU NERAKA ITU HAQ PREROGATIF GUSTI ALLAH SWT, BUKAN URUSAN KITA!!!
    tapi….
    na’udzubillaahi min dzaalik
    masih ada to orang yang katanya islam tapi nggak mau di ajak beristikhoroh untuk menanyakan kepada Gusti Allah Swt, ya hanya kepada Allah Robbul ‘Aalamiin tentang kebenaran menurut Dia SWT bukan menurut kita…
    banyak istighfar ya mas ben atimu ga garang koyo ngono
    nek kowe ngaku umate kanjeng Rosul SAW, mestine atimu yo nyontoh atine kanjeng Rosul to?!…
    zawiyyah kami (saya salik yang berminat ngaji Thoriqoh yang Mu’tabaroh bukan orang LDII) sesat atau tidak hanya Gusti Allah yang mengetahuinya, bukan anda…

    sudah jelas jalan ke surga dan ke neraka…
    kenapa harus ragu…???
    sudah jelas mana yang bathil dan mana yang haq…
    mana tauhid mana syirik…
    mana sunnah mana bid’ah…
    ‘afwan saya tidak akan meladeni omongan orang-orang seperti kalian ini…
    hanya buang-buang waktu saya untuk menuntut ilmu…

  8. al-fakir.... says:

    MANA SMILENYA MUSAFIR KECILKU?? 🙂
    SENYUM ITU IBADAH LHO….
    MAAF YA KALO SAYA SALAH, AND SOK CERAMAH
    AFWAN AFWAN AFWAN……
    SAYA MOHON DIRI YA
    WASSALAAMU’ALAIKUM WAROHMATULLAAHI WABAROKAATUH

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh…

  9. al-fakir.... says:

    Panjenengan cah Tuban to…
    Sering2lah sowan ke ulama di sana
    Saya usulkan coba Panjenengan sowan ke KH. Asrori Ishaqi, Kedinding Lor, Surabaya, atau ke Gus Mus di Rembang, atau ke PONPES Langitan Tuban, atau ke al-Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan atau ke KH. Sholahuddin Abdul Jalil Mustaqiem,Ponpes PETA tulungagung…

    Alhamdulillah….saya asal Tuban…
    dan Alhamdulillah saya telah mendapatkan hidayah untuk mempelajari Islam secara benar melalui manhaj yang lurus
    Dimana jalan ini insyaAllah adalah jalan para generasi terbaik ummat ini yaitu para salafusshalih….
    Kalo sampeyan dari Jawa Timur juga, silahkan ikut ta’lim dengan Asatidz Salafiyyin insyaAllah lebih bermanfaat….
    Wallahu’alam…
    NB: Oh di Indonesia ada toh Ulama? wallahu’alam saya kurang tahu apakah orang-orang yang sampeyan sebut itu bisa disebut Ulama…Lha wong S3 Universitas Madinah aja belum bisa disebut Ulama kok, baru disebut “mundub-mundub” di pintunya para Ulama (saya lupa ini perkataan Syaikh siapa)

  10. al-fakir.... says:

    hehe…mesa’ke….
    Rahasia hidayah Gusti Allah memang luar biasa, ane tidak tahu opo kowe kebagian po ora….
    S3,S4 atau S5 itu sanes jaminan mas!!
    Semoga Gusti Allah mengampuni kesombongan dan kecongkakan anda…
    coba Al-Qur’an-nya dibaca lagi, plus hadits-nya jangan ditinggal,
    nek kowe ora mampu coba ente baca literatur di bawah ini :
    coba tanyakan ke ustadz anda (syukur kalo ente yang ngakunya salaf, bisa baca kitab2 ulama Salaf…Sudah bisa???),tentang isi kitab Ad-Durr al-Mukhtar Vol ! P. 3 (pendapat IMAM HANAFI)), atau Kashf al Khafa & Muzid al-albas (pendapat IMAM SYAFI’I)),Maqasid at-Tauhid P.20 (IMAM NAWAWI), Majmu Fatawa,dar-ar Rahmat, cairo Vol 11 hal 497,599,510 Vol 10 (IBNU TAIMIYYAH), atau yang anda ngaku pengikut (Katanya anda WAHABI to?!)ABDULLAH Ibn MUHAMMAD Ibn ABDUL WAHHAB dalam ar-Rasa’il ash-shakhsiyya, hal 11,12,61 dan 64

    ini tukar fikiran nggih mas, jangan jadikan saya musuh sampeyan
    Semoga cinta dan kedamaian senantiasa merasuk jiwa kita dan umat muslim dan mu’min di timur dan di barat, yang sudah wafat maupun yg masih hidup
    Aamiin ya Robbal ‘aalamiin…

    sampeyan bener, Hidayah hanya milik Allah ta’ala semata
    dan mudah-mudahan saya mendapatkan hidayah yang lurus diatas Al-Qur’an dan Assunnah, dengan pemahaman para salafushshalih….
    dan saya berlindung dari amal jelek yang anda tuduhkan….

    saya sudah membaca syubhat yang sampeyan lemparkan itu, (kebetulan saya dapet dari internet dan bukan baca kitabnya langsung karena memang belum pandai baca kitab)
    lalu saya sempat bertanya dengan beberapa ikhwan, dan saya mendapatkan nasehat yang cukup bagus dari mereka alhamdulillah…

    silahkan anda menempuh jalan “hidayah” yang anda maksud sendiri dengan tarikat sufiyah dan pemikiran filsafat yang anda geluti, dan saya akan meniti jalan “hidayah” saya sendiri dengan manhaj yang saya yakini sebagai manhaj yang haq…

    sebagai penutup saya kutipkan perkataan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah,
    “Hendaknya kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan. Bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan. Bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi tak putus yang kita jalani. Tapi…dari amal yang keluar dari setiap desah nafas kita”.
    wallahu’alam….

  11. al-fakir.... says:

    nb : coba dibuka juga ar-Rasail as-Sakhsiyya-nya MUHAMMAD ibnu ABDUL WAHHAB Vol I Hal 11 kalo belum mampu baca yang orisinil (katanya anda bukan orang bodoh to?!, so muga2 bisa baca yang orisinil) baca yang terjemahnya ya bos…

    and selamat mjd musafir, smg anda, saya, saudara2 kita muslimin/at dan mu’minin/at bisa meniru langkah teladan kita Rosulullah SAW, kemudian juga para Sahabat (Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, Ali Rodliyallaahu ‘Anhum, karromallahu wajhah dan sahabat yang lainnya), para Tabi’in, Tabi’ut tabiin, and jalan para salafushsholih yang sebenarnya sehingga dapat mengantarkan kita bisa sampai kepada “Tujuan” yang diidam2kan oleh segenap hamba Allah yang beriman.
    ngapurane y mas….
    Amiin ya Robbal ‘alamiin

  12. Nah itu kan…masuk juga pendapatnya Ibnul Qoyyim al Jauzi…
    itu sepercik dari makna “ulama”..ya hanya sepercik, sayangnya anda tidak memaknai kalimat mulia itu secara substansial, tidak mentafakuri dengan hati, tapi dgn logika semata…sehingga membanding2kan antara ulama dengan berbagai jenis “DEWA-DEWA GELAR”
    boleh to saya tambahi sedikit pendapat Al-Jauzi….
    Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawwuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh by Sufyan ath-Thawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen). Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh”
    yang kayak gitu (Ulama sebagai Warotsatul anbiya’) di Indonesia, bahkan yang menyandang gelar predikat kekasih Allah (Laa ya’riful waliy illal waliy..tak ada yang mengetahui seorang wali kecuali sesama wali Allah) insyaAllah jumlahnya tidak sedikit
    …seharusnya fikiran yang mengikuti hati, bukan hati yang menuruti fikiran, setuju ngga?!mudah-mudahan kita tidak seperti ikan yang keluar dari samudera kehidupannya…..

    wallahu’alam….
    telah datang nasehat yang sangat baik dari ustadz dan ikhwan-ikhwan yang insyaAllah saya mencintai mereka karena Allah
    untuk meninggalkan hal-hal semacam ini dan menyibukkan diri dengan menuntut ilmu

    saya jadi teringat akan cerita Al Imam Ghozali, ketika berdebat dengan aqlaniyyun akhirnya beliau sendiri juga terjerumus, walaupun di akhir hayatnya beliau rujuk ke manhaj ahlussunnah wal jama’ah

  13. al-fakir.... says:

    oiya…kenalkan ane punya nama asli Harjo santoso, asli jawa tengah, sekarang lagi menjaring rezeki di kalBar, dapat amanat sebagai PNS juga….
    Smile ya sobat….;)

  14. al-fakir.... says:

    nah kena to pernyataanya Ibnu Qoyyim al Jauzi…..

    insyaAllah perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah adalah nasehat yang sangat bagus untuk dicermati, dan siapapun yang menolak untuk menerima nasehat seperti ini akan merasa hina
    dan nasehat ini tidak ada kaitannya dengan sebutan Ulama harus melalui gelar apapun, seperti halnya Syaikh Al Albani rahimahullah yang telah diketahui tidak ada gelar satupun yang beliau peroleh akan tetapi beliau termasuk Ulama yang paling dihormati di kalangan Ulama dan Ahlul ‘Ilmy
    Akan tetapi perkataan di Indonesia ada Wali-wali ataupun kekasih-kekasih Allah, wallahu’alam saya tidak bisa menjawabnya, silahkan anda bertanya kepada ustadz tentang perkataan seperti itu (sesungguhnya hati maupun pikiran tunduk pada dalil/nash bukan pikiran mengikuti hati)

    Adapun yang saya tulis bukanlah harus dipahami bahwa untuk disebut sebagai Ulama haruslah memakai gelar, akan tetapi saya hanya menukil kesimpulan (kesimpulan bahwa di Indonesia belum ada Ulama) dari perkataan Syaikh Ali Hasan Al Halaby (sekarang saya inget) yang merupakan Murid Senior Syaikh Al Albany tentang definisi Ulama yang didengar langsung oleh Ustadz Masrur dari beliau hafizhahullahu ta’ala

    Dengan ini saya akan menutup komentar anda yang menebar syubhat seperti ini, karena saya mengkhawatirkan jika orang lain yang membaca akan terkena syubhat ini sementara belum ada ilmu yang dimilikinya tentang hal itu.
    Sangat membuang waktu untuk meladeni perdebatan seperti ini, sehingga waktu untuk menuntut ilmu jadi terbuang. Adapun saya harus banyak belajar, dan waktu yang ada sangatlah berharga daripada digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat seperti ini.

    Saya sarankan kepada Anda agar mengambil ilmu dari Al-Qur’an dan Assunnah yang Shohih, berguru pada ustadz yang manhajnya lurus, dan membaca kitab para Ulama alim Robbani

    sebagai selingan (bukan rekomendasi utama) baca juga bukunya Hartono Ahmad Jaiz (kumpulannya dalam bentuk chm bisa didonlot di pakdenono)

    dan tips buat anda, sekalian aja halaman ini di bookmark aja daripada setiap hari harus nanya om gugel dengan mengetikkan judul tulisan ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: