Kok Tambah Kurus ya….

Saya pandangi lekat-lekat pantulan citra diri dalam cermin di dinding kamar. Adakah yang berubah dari diri ini setelah sebulan hidup di pulau baru? Hmm… tampaknya saya agak kurusan, dan hal ini dapat saya maklumi. Kepindahan saya kesini terlalu membawa banyak beban pikiran, ditambah lagi dengan jenis dan macam hidangan yang rasanya belum klop di lidah saya yang jawa tulen ini.

Kompilasi yang tepat antara banyak pikiran dan tidak adanya selera makan, jadilah berat badan menurun cukup lumayan. Masih beruntung penyakit maag yang saya derita tidak kambuh, kalau sampai itu terjadi bisa-bisa saya harus dirawat lantaran penyakit tifusku juga pasti akan menyertainya.

Dari mulai masalah yang sangat pribadi juga masalah yang dihadapi oleh kami, angkatan STAN-BPK 2006 yang menurut saya telah banyak didzalimi oleh pejabat-pejabat di sana, khususnya biro kepegawaian (SDM).Sedangkan faktor lain yang mendukung adalah jenis hidangan yang menjadi menu keseharian saya disini.

Kalau dulu di Jakarta, saya masih bisa menikmati beragam aneka masakan dengan beragam citarasa kuliner dan tentu diimbangi dengan harga yang bervariasi pula. Maklum, rumah kos saya dulu masih berada di lingkungan kampus sehingga sangat mudah untuk menemukan warung makan. Tapi begitu pindah kesini, keadaan berubah total. Warung makan yang modelnya seperti di kampus dulu sangat jarang bahkan kalau tidak berlebihan dapat dikatakan hampir tidak ada. Di sepanjang jalan, yang berjejer hanya di dominasi dua jenis, yaitu warung tenda yang menjual ayam goreng, dan berbagai macam ikan bakar itu pun pasti dengan label mas joko, mas edi, mas yudi, mas eko- asli Surabaya (nah lho) kemudian warung yang menjajakan hidangan asli Sulawesi macam cotto Makassar, palu basa, nasi campur/nasi kuning.

Praktis hanya berkutat pada itu-itu saja makanan saya sehari-hari. Seperti ini misalnya, pagi hari-tidak sarapan atau kalau kadang habis belanja dari supermarket sarapan roti untuk beberapa hari ke depan. Siang hari- silahkan pilih menu antara nasi goreng, mie goreng/rebus, soto, dan gado-gado yng dijual warung terdekat dengan kantor dan dengan harga yang terjangkau dan kebetulan ibunya orang jawa. Malam hari- warung dekat kosan Cuma menjual nasi campur, nasi kuning, palu basa, atau sop saudara nama warungnya yang paling sering saya kunjungi adalah nasi kuning begadang (saya kurang begitu tahu maksudnya tapi ternyata begitu banyak warung dengan nama yang sama disini). Sangat membosankan, saya lebih senang kalau berpuasa, sehingga minimal bertemu dengan hidangan itu sekali saja yaitu waktu ‘ifthor (buka).

Untuk hidangan yang cukup dikenal tidak usah saya ceritakan. Nah, sebagai bahan untuk menambah perbendaharaan jenis makanan saya akan menceritakan beberapa yang khas saja. Nasi kuning , adalah kombinasi nasi (kuning), telur rebus bulat, sedikit mie kering di tambah semangkuk kecil kuah seperi rawon dengan isi gajih (lemak-bhs.jawa) atau jeroan, dan sedikit penghias berupa krupuk kecil-kecil. Nasi campur, hampir sama dengan nasi kuning, hanya beda di taburan abon atau kadang orek tempe, plus dua iris kecil daging sapi. Palu basa, nasi di hidangkan dengan semangkuk kuah yang lebih enak daripada kuah nasi kuning dengan isi jeroan layaknya soto betawi. Cotto, mungkin sudah banyak yang tahu jadi ya begitulah tetep saja jeroan lagi-jeroan lagi. Sop saudara, seperti cotto tapi kuahnya sop. Nah, seperi itulah makanan yang biasanya saya santap, membosankan bukan? Saya jadi takut, jangan-jangan baru sebentar disini bisa-bisa saya terkena stroke.

Saya jadi menerawang jauh pada masa-masa saat saya masih di kantor pusat di Jakarta dulu. Orang-orang ruangan punya misi tersendiri yaitu menggemukkan anak magang. Agaknya misi itu tidak berhasil diwujudkan pada saya. Dan juga masa-masa ketika saya diklat dulu, dimana kegiatan utamanya saya pikir adalah MAKAN-MAKAN. Mengapa saya sebut demikian, karena kami tidak pernah menggubris pelajaran di kelas, sedangkan jadwal makan sangat tepat waktu. Sarapan pagi sampai pukul 07.00, jam 09.00 coffe break+snack, 11.30 makan siang, 15.00 coffe break+snack, pukul 18.00 makan malam. Begitulah, jadwal belajar yang Cuma sampai sore itu dikalahkan oleh jadwal makan. Saat itu berat badanku mencapai rekornya, hanya dalam beberapa minggu bobot saya naik sampai enam kilo.

Saya juga jadi ngiri mengingat salah satu topik yang dilontarkan seorang ikhwan di forum diskusi ikhwah stan dengan judul “Setelah menikah, kok tambah ndut…”. Ya…iya….lah… gimana nggak tambah gendut kalo tiap hari ada yang mengurusi, di tambah lagi rasa tentram yang di dapat ketika memadu kasih. Seperti dijelaskan dalam firman-Nya yang banyak dicantumkan di undangan-undangan pernikahan,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Ruum: 21)  

Semua orang juga tahu rasa tentram di hati menjadikan gairah hidup meningkat termasuk mungkin juga nafsu makan, apalagi di tunjang dengan sang istri yang master chef . saya jadi ber-angan, seandainya saya sudah diijinkan menikah oleh Allah dengan orang jawa. Tentu disini saya akan kembali merasakan betapa nikmatnya “masakan rumah”. Tapi takdir-Nya mengatakan lain. Namun, hal itu sedikit terobati karena saat betul-betul menginginkan “masakan rumah” saya cukup sowan ke rumah teman saya, kebetulan suami istri ini keduanya adalah teman baik saya waktu di kampus dulu. Sang istri (yang insyaallah shalihah) yang berasal dari salatiga ini untungnya pintar memasak, sehingga membuatku ketagihan untuk berkunjung selain dikarenakan buah hati mereka yang lucu. Jazakallah khairan katsir untuk mas hendra “Jumbo” Abadi (536/spa/1999) dan Lutvi “upik” Suroya (738/spa/2003)- dari aulia “kaspo” (765/spa/2004) begitu kira-kira spanduk yang akan saya bentangkan untuk mewujudkan rasa terimakasih saya. He..he…

Dan sampai saat tulisan ini ditulis saya baru menemukan satu biji warung jawa, letaknya pun agak jauh dari rumah kos sehingga kalu ada motor baru bisa nongkrong disana. Agaknya, baju koko yang di belikan oleh salah satu rekan kerja di kantor pusat sebagai tanda perpisahan dulu tidak akan kesempitan walaupun saya mengira ukuran yang beliau pilih masih dibawah ukuran yang biasa saya pakai. (Jazakillah buat teh dian)

Ibu….aku ingin pulang….hanya engkaulah juru masak terhebat di dunia. Berjanjilah bu, bila saatnya tiba aku pulang nanti, buatkanlah masakan kesukaanku……

4 Responses to Kok Tambah Kurus ya….

  1. wahdah says:

    Assalam…ya begitulah pengalaman merantau dengan masalah lidah,sulit menyesuaikan terutama lidah jawa.Dulu saya pernah mengalaminya,merantau,akhwat kok gak bisa masak ya.Pas masih di rumah gak ngerasa kalau gak bisa masak.Ada jatah maem sebenarnya dari tempat kerja,tapi….lidahnya belum bisa nerima,maklum lain negara,alhasil tambah kurus.

    Alhamdulillah ya Robb,saya dipertemukan dengan ustadzah di sini yang notabene punya pengalaman yang sama,tapi kita bersama2 belajar memasak.Minta dikirimi buku masakan dari indonesia,terus buka links masak…Alhamdulillah lidah kembali bisa bergoyang.

    So,kalau pengalaman ini bisa antum terapkan…tapi bedanya..ikhwan masa masak???bagi sebagian sih gak pa2.Anyway..mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali.SEkarang dah bisa masak,tinggal pingin apa,bahannya tersedia,penting lagi waktu and mood.
    Barokallohu fik.

    syukron atas sharing pengalamannya mas🙂 ,
    btw tinggal di luar negeri ya mas?
    Wa fiika barakallah…

  2. wahdah says:

    Dik,kakak akhwat lo.KSA

    upss…
    Saya kurang teliti/tidak paham komen sebelumnya, hehe…
    Enak euy, idup di negeri tauhid, sunnah berkibar dimana-mana, duduk langsung di majelis masyaikh…
    Hiks pengen…
    Mba ajarin bahasa arab dong…

  3. wahdah says:

    afwan,kita jarang makai bahasa arab.Lebih sering bahasa inggris.Tapi bisa dikit2 gak bisa semuanya.

    oh gitu ya…Sayang banget padahal bahasa arab bagus buat dipelajari lho…
    Unik…Indah dan tentu saja rumit, hehe
    weleh kok malah chat disini ya, ntar saya email aja ya mba…

  4. Sekarang masih kurus Aulia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: