Memoir of a Sandal’s

Cuaca kota Makassar masih saja kurang bersahabat, malam ini hawa dingin masih menyelimuti kota terbesar di Indonesia timur ini. Shalat isya’ berjamaah baru saja ditunaikan, saya pun berniat kembali ke rumah. Apa mau di kata, ketika saya sampai di ujung pintu masjid tidak kujumpai sepasang sandal gunung merk eiger itu di tempatnya semula. Saya kemudian berinisiatif berputar-putar ke pintu yang lain. Pencarian kemudian saya teruskan ke tempat penitipan sandal dan sepatu, siapa tahu ada yang berbaik hati menaruhnya di tempat yang aman karena sandal saya itu termasuk lumayan. Masih tidak ada juga, “Ah mungkin ada yang meminjamnya untuk ke kamar mandi” pikirku dalam hati. Kamar mandi juga kosong tidak ada yang memakai.

Melihat saya yang kelihatan gelisah, salah seorang jama’ah bertanya “Ada apa..?”. “Ah biasa…nyari sandal saya mas…”jawabku. “Oh.. sudah dicari ke kamar mandi…?”tanyanya. kemudian saya kembali mengulangi untuk mencarinya ke kamar mandi,  hasilnya masih nihil. “Ya sudahlah mas… gak apa-apa..”ujarku. “Jadi gak pake sandal nih pulangnya…, ato pinjem aja ke pengurus, siapa tahu punya….”hibur orang itu. “Ah ga usah mas…”balasku.

Sebenarnya, ada jasa penitipan sandal di masjid itu. Tapi saya seringkali berpikir, kalau setiap kali ke masjid harus menyisihkan seribu rupiah, lumayan juga. Sedangkan saya belum sempat membeli sandal jepit untuk aktivitas di sekitar rumah. Jadilah untuk ke sekian kali saya harus kehilangan sandal gunung sisa-sisa kebanggaan saya sebagai Mapala. Walaupun sandal yang ini belum sempat saya pakai naik gunung, karena hanya untuk mengganti sandal saya yang dulu hilang. Sedangkan sandal saya yang dulu hilang, sangat saya sayangi karena begitu banyak kenangan bersamanya. Betapa tidak, hampir (kalo saya ga salah ingat) sepuluh gunung saya daki dengan sandal itu, termasuk gunung berapi tertinggi dan tertinggi kedua di Indonesia yaitu Kerinci (3801 mdpl) Semeru (3676 mdpl). Sempat putus, namun saya jahit di tukang sol keliling dan hasilnya menakjubkan hingga bertahan sampai beberapa gunung.

Jadilah saya berjalan pulang dengan bertelanjang kaki (nyeker). Dengan menyusuri kurang lebih dua ratus meteran jalan Urip Sumoharjo yang sangat ramai akan berbagai macam kendaraan, layaknya orang kampung dengan baju koko dan celana yang terpaksa harus saya gulung. Akhirnya, saya juga harus mengamalkan penggalan doa yang beberapa waktu yang lalu saya kirimkan kepada teman-teman saya sebagai tausiyah:

 إِنَّا لِلّهِ وَإِ نَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اَللّهُمَّ أجُرْنِيْ فِي مُصِيبَتِي وَا خْلِفْ لِي خَيرً مِنْهَا

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali. Ya Allah, berikanlah pahala kepadaku dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik darinya (dari musibahku).” (HR. Muslim)

Dulu Ummu Salamah radhiyallahu’anha ketika kehilangan Abu Thalhah radhiyallahu’anhu berkata, ‘siapakah diantara kaum mukminin yang lebih baik daripada Abu Thalhah yang temasuk pertama kali hijrah’ kemudian mengucapkan doa ini. Kemudian Allah menggantikannya dengan Rasulullah shallahu’alahi wa sallam.

Semoga memang Allah memberikan kesabaran dan menggantinya dengan yang lebih baik. Amin

Akan tetapi ada yang sedikit mengganjal di hati saya tentang kejadian ini. Saya teringat sebuah hadits tentang larangan untuk tidak mencari barang hilang di masjid sebagai salah satu adab ketika di masjid.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu ia berkata, Rasululullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ سَمِعَ رَخُلًا يَنْشُدُ ضَا لَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لَا رَدَّهَا اللهُ عَلَيكَ فَاِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا

“Barangsiapa mendengar (atau mengetahui) seseorang mencari barang hilang di masjid, hendaklah ia katakana kepadanya:’Semoga Allah tidak mengembalikan barang itu kepadamu, karena masjid itu dibangun bukan untuk kepentingan yang demikian.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain,

Dari Buraidah radhiyallahu’anhu, bahwa seorang laki-laki pernah mencari barang hilang di masjid, lalu bertanya:”Siapa yang menemukan unta merah milikku?” Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Semoga engkau tidak mendapatkan kembali barang itu, karena masjid itu di bangun untuk kepentingan sebagaimana ia di bangun.” (HR. Muslim)

Saya jujur kurang memahami makna hadits ini, apakah apa yang saya lakukan termasuk dalam lingkup yang dimaksud hadits diatas. Mudah-mudahan tidak (wallahu’alam..) saya toh juga tidak menanyakan, tetapi jama’ah yang lain tadi yang bertanya, lalu apakah tidak saya jawab. Dan saya juga tidak mengumumkan kepada yang lain bahwa saya telah kehilangan sandal. Sebab dari penjelasan seorang ustadz dulu yang dilarang adalah mengumumkan berita kehilangan barang. Saya juga belum paham, apakah barang yang hilang di masjid tidak boleh dicari, atau sekedar tidak boleh mencari barang hilang (misal barangnya tidak hilang di masjid, tapi ditempat lain)di masjid. Namun saya  meminta pendapat dari pembaca yang sekiranya mempunyai ilmu untuk memberikan penjelasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: