“Nana Korobi Yaoki”

“Dia termasuk orang yang paling sukses di antara angkatan kami”, kata teman kantorku sepulang kami mengantarkan temannya ke bandara. “oh… pantes, kaya”, jawabku. “Selain jadi PNS dia juga konsultan di luar…” balas temanku. Temannya ini baru saja pindah (mutasi) ke kantor baru dan datang ke kota ini untuk menjual salah satu rumah mewahnya. “Lalu istrinya juga diajak pindah mas..?” tanyaku. “Dia belum nikah…”jawab temanku. “Apa….?belum nikah….??” ujarku kaget. Padahal temanku yang satu ini anaknya sudah hampir tiga.

Lain lagi dengan seorang akhwat, teman satu diklat. Dia termasuk akhwat yang cerdas dan terampil, teman yang lain bilang dia juga pernah jadi dosen, pendidikannya juga sudah S2. Tapi ya begitu, masih belum diberi kesempatan untuk menikah. Pernah juga saya dikirimi e-mail dari seorang akhwat yang menanyakan masalah ta’aruf, yang kemudian kami berdiskusi di internet saat dia menanyakan beberapa masalah agama kepada saya. Dari situ, saya mengetahui bahwa akhwat ini kuliah S2 di sebuah perguruan tinggi negeri di depok sambil bekerja sebagai seorang trainer di sebuah lembaga terkemuka yang memberikan training motivasi kepada perusahaan maupun organisasi lainnya. Dia berkata sudah lelah dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini, dia ingin menikah dan jadi ibu rumah tangga saja katanya. Dia juga berkata saat ini dia ingin mempelajari agama, meninggalkan kehidupannya yang dulu dengan harapan akan mendapatkan pendamping hidup yang baik. Saat itu, dia juga berpikir tentang mendapatkan tawaran beasiswa S3 ke luar negeri. Dia meminta pendapat kepada saya, apakah harus mengambil beasiswa itu karena jodoh yang dinantinya tidak kunjung datang.

 

Begitulah keadaannya memang, merindukan seorang pendamping hidup adalah fitrah setiap insan. Seorang laki-laki yang dianggap telah mempunyai kemampuan untuk menikah, terlebih lagi telah mengetahui keutamaan sebuah pernikahan dan seorang perempuan yang ingin menjaga kesuciannya tentu wajar bila bercita-cita untuk memilki seorang “teman sejati”. Teman sejati yang bisa dijadikan tempat bermanja, berkeluh kesah, teman bermujahadah, dan mencurahkan kasih sayang.

 

Namun jalan untuk menuju kesana tidaklah semulus harapan yang kita impikan. Begitu banyak cobaan dan rintangan, bahkan untuk hal sakral yang kita dasari dengan niat tulus suci untuk menjalankan sunnah Rasul, menjaga hati dari zina, dan menyempurnakan separuh dien. Allah seringkali mempunyai rencana lain yang tidak sesuai dengan harapan kita. Tak semua niat mulia berakhir dengan dicapainya tujuan yang diharapkan. Justru kadangkala berakhir dengan kegagalan yang berujung pada kekecewaan.

 

Kegagalan demi kegagalan yang kita alami bila tidak kita sikapi dengan baik tentu rasa frustasi yang melanda akan demikian mengalahkan akal sehat kita, sehingga menjadikan kita manusia yang tidak ridha terhadap ketentuan-Nya. Namun, seandainya kita mampu bersabar dan berpikir jernih bahwa dibalik semua itu ada hikmah yang tersembunyi yang dapat kita ambil sebagai pelajaran berharga. Mungkin Allah masih menyayangi kita dengan menahan yang terbaik bagi kita nanti, mungkin Allah masih menginginkan kita untuk memperbaiki diri sebelum mendapatkan yang terbaik menurut-Nya untuk kita. Sehingga Dia masih belum mengijinkan kita untuk menikah dalam waktu dekat.

 

Lalu bagaimana kita mensikapi setiap kegagalan yang telah kita upayakan dalam usaha kita menyempurnakan dien ini. Sabar dalam penantian, itulah kunci utama yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan. Sungguh sangat indah bila kita bisa memaknai kesabaran yang kita jalani terhadap takdir yang telah ditentukan-Nya. Untuk mengisi masa-masa penantian, kita bisa melakukan usaha-usaha perbaikan diri yang dengannya hari-hari penantian kita lebih berarti:

 

1. Memperbanyak amal ibadah,

Seorang muslim/muslimah hendaknya senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan memperbanyak amal ibadah yang telah disyari’atkan. Selain memperbaiki kualitas ibadah wajib, kita juga perlu untuk menambah berbagai ibadah sunnah, dengan menjalankannya maka kita akan senantiasa terhindar dari berbagai macam godaan. Dengan menjalankan ibadah sunnah, hati dan pikiran kita akan selalu ingat kepada-Nya dan tidak lalai sehingga menjerumuskan kita ke dalam perbuatan yang tidak berguna. Sebagai contoh ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi shallahu’alaihi wasallam kepada pemuda yang belum mampu menikah adalah memperbanyak shaum sunnah, karena dengannya dapat menjadi perisai diri dari gejolak syahwat.

 

2. Berdoa dan tawakkal,

Kita tentu telah mengetahu bahwa, rizki, maut, dan termasuk jodoh manusia telah diatur oleh Allah Azza wa Jalla dan Dia Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Yang bisa kota lakukan adalah berikhtiar dan berdoa, kemudian bertawakkal kepada-Nya. Firman-Nya,

“Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan.” (Al-Mukminun: 60)

Hanya kepada Allah kota berserah diri dan mohon pertolongan. Berdoalah agar segera dikatuniai jodoh yang shalih/shalihah, yang baik agamanya, dan bisa membawa kebahagiaan bagi kita di dunia dan akhirat. Ada baiknya doa tersebut dilakukan di waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga malam yang terakhir. Setelah banyak berdo’a, maka bertawakkal dan bersabarlah. Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik. Bukankah Dia akan mengikuti persangkaan hamba-Nya? Maka jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah, pertolongan-Nya pasti akan datang bagi hamba-Nya yang bersabar dari arah yang tidak kita sangka.

 

3. Menuntut ilmu,

Sebagai seorang muslim wajib bagi kita untuk menuntut ilmu, terutama ilmu syar’i. Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Bukankah kita nantinya akan membentuk suatu rumah tangga yang tujuan akhirnya adalah surga, oleh karena itu kita wajib membekali diri kita dengan ilmu yang akan mngantarkan kita menuju suatu rumah tangga yang dibangun guna meraih Jannah-Nya. Dengan ilmu kita bisa memahami apa saja hak dan kewajiban seorang suami/istri dalam keluarga sehingga tercipta keharmonisan yang dilandasi taqwa. Dengan berbekal ilmu, kita insyaallah akan menjadi kepala rumah tangga yang bijak yang dapat memimpin keluarganya dalam koridor syari’at dan istri yang shalihah yang bisa menjaga diri dan kehormatannya serta ibu (madrasah) yang baik bagi anak-anaknya kelak.

 

4. Tingkatkan potensi diri,

Sebagai seorang suami nantinya kita akan dituntut memberikan nafkah bagi keluarga, dan sebagai seorang istri kelak kita juga akan dituntut untuk menjadi seorang yang terampil dan cekatan mengurus rumah. Seorang muslim hendaknya, selalu meningkatkan potensi yang dimiliki guna memperoleh pekerjaan yang dapat menghidupi dirinya dan keluarganya kelak. Misalkan, saat masih berstatus mahasiswa waktu luang bisa kita gunakan untuk membuka bimbingan belajar bagi anak-anak SMP atau SMA, berjualan kecil-kecilan tanpa harus malu asal pekerjaan kita halal. Atau bagi yang sudah berstatus PNS dan pegawai swasta tidak lantas menggantungkan diri dari gajinya semata, kita bisa mencari celah lain dalam mencari penghasilan misalkan dengan merubah suatu hobi yang dimiliki menjadi ladang bisnis baru. Kemudian bagi seorang muslimah, haruslah menyadari bahwa seorang suami akan senang memilki istri yang cekatan dalam menata rumah, membelanjakan harta dengan hemat, serta pandai mengolah masakan. Tidak hanya itu, apabila memiliki ketrampilan lain tentu menjadi nilai lebih tersendiri. Misalnya keahlian yang produktif, seperti menjahit, membuat kue, berkebun/merawat tanaman hias, menulis yang dengannya bisa dijadikan sarana untuk membantu suami mencari nafkah tanpa harus meninggalkan rumah.

 

5. Perbaiki penampilan,

Tak pelak lagi, penampilan yang baik akan sangat mendorong kita untuk mendapatkan jodoh yang kita nantikan. Sudah selayaknya kita pandai untuk merawat diri agar selalu tampak segar dan menyenangkan jika dipandang orang lain. Tapi ingat penampilan yang menarik jangan malah dijadikan sarana untuk menjadi ujub dan malah digunakan sebagai sarana berbuat maksiat. Sedangkan bagi muslimah lebih penting diingat bahwa kecantikan yang dimiliki haruslah dipersembahkan untuk sang suami semata kelak, bukan untuk diumbar sembarangan. Penampilan fisik yang ciamik juga harus diimbangi dengan penampilan akhlak mulia yang islami. “inner beauty” itu istilahnya, yang katanya lebih menunjukkan makna kecantikan yang sesungguhnya. Jangan sampai seseorang berkata kepada kita,”Hatimu tak secantik wajahmu”.

 

 

Nah, bagi kalian yang masih dalam masa pencarian dan penantian jangan pernah berputus asa dan tetap berusaha dengan pikiran positif. Yakinlah dan ridha terhadap ketentuan-Nya dan percaya bahwa pertolongan-Nya suatu saat akan datang. Saya jadi teringat pepatah orang jepang, yang disampaikan seorang akhwat yang gagal berproses dengan saya ketika itu, bunyinya “Nana Korobi Yaoki” yang maknanya kira-kira “jangan pernah berhenti untuk bangkit meski sudah berulang kali jatuh”. Selamat menanti dan semangat..!!!

(Abu Hanif At-Tubany)

5 Responses to “Nana Korobi Yaoki”

  1. ocol says:

    keren bro, tak tunggu fersi rapinya

    pertama, versi tu pake “v” bukan “f”
    kedua, tengkyu ntar kalo uda di warnet saya perbaiki…
    Ketiga, sering2 mampir…

  2. Tigger says:

    assalamualaikum, yupz, blognya udah saya link..

    yupz jazakillah,
    tigger… Semangkaa…!

  3. baru tahu artinya euy…..

    “nana korobi yaoki”

    “tujuh kali jatuh, delapan kali bangkit”

    *semangattttt…….. :green:

  4. pokokmen ganbate lah mas dari tuban………

    ini tulisan lama mas joko….
    sekedar untuk mengenang masa lalu….

  5. Rizki Aji says:

    kalo tulisan lama buat apa saya baca…hehehehe lha wong yang nulis aja masih single fighter…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: