Emansisapi (makhluk apa sih….??)

Kita tentu sudah sering mendengar kata atau slogan emansipasi, betapa slogan tersebut seolah-olah telah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan era modern dengan berbagai keterbukaan seperti saat ini. Secara tidak sadar melalui slogan tersebut kita telah digiring menuju suatu pemikiran yang akan menjerumuskan kita dengan berpaling dari ketentuan syari’at.

Untuk mengenal lebih lanjut bagaimana emansipasi tersebut ditinjau dari syari’at Islam, berikut saya tuliskan ulang dengan ringkas artikel dari Majalah Nikah Volume 6 Nomor 8 November 2008 dan artikel-artikel dari Majalah Asysyariah Volume IV Nomor 38 dengan perubahan seperlunya.

 

Emansipasi menurut kamus ilmiah populer didefinisikan sebagai gerakan untuk memperoleh pengakuan persamaan kedudukan, derajat serta hak dan kewajiban dalam hukum bagi wanita. Emansipasi terlahir dari perasaan ketertindasan, keterkungkungan, keterbelakangan, dan ketiadaan harkat yang menjadi belenggu kaum wanita. Kehidupan mereka seakan terpasung ditengah eksploitasi kaum Adam terhadapnya. Sebagian wanita pun menjadi gamang menatap rona kehidupan, 800px-cactus_flower_closeup03.jpghilang keyakinan diri untuk menapaki laju zaman. Di tengah kepungan kemelut, wanita pun tersulut bangkit. Mendobrak tatanan yang ada meneriakkan slogan-slogan persamaan, mencoba memberangus keterpurukan nasibnya berbekal semangat untuk menyetarakan diri dengan kaum Adam. Namun sayangnya mereka seakan lupa batas-batas kesejatian diri sebagai kaum Hawa dan seakan tak mau peduli, bahwa antara pria dan wanita memiliki beragam perbedaan. Entah perbedaan yang bersifat psikis (kejiwaan), emosional, atau yang berkenaan dengan struktur fisik.

Allah Ta’ala telah menetapkan dan menakdirkan bahwa laki-laki tidak sama dengan perempuan. Laki-laki memilki kesempurnaan bentuk fisik dan stamina yang alami. Adapun perempuan, ia lebih lemah fisiknya dibandingkan laki-laki, demikian juga tabiat dan wataknya. Karena seorang perempuan mengalami masa haid, hamil, melahirkan, menyusui serta mendidik generai penerus umat ini. Wanita menjadi bagian dari pria menjadi penyerta sekaligus kenikmatan baginya. Bahkan Allah karuniakan dari nikmat (istri) tersebut nikmat yang berikutnya, yaitu dilahirkannya anak dan cucu. Laki-laki menjadi dipercaya untuk mengatur segala urusan perempuan, menjaga dan memberi nafkah kepadanya dan juga keturunannya.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-nisa’: 34)

Adanya perbedaan dalam bentuk fisik juga menimbulkan adanya perbedaan stamina, kemempuan fisik, intelegensi, daya pikir, emosi, kemauan, etos kerja dan kompetensi. Kedua jenis gender yang berbeda ini, masing-masing menerima beban hukum syari’at dalam skala yang besar. Sungguh keduanya telah ditetapkan dengan kesempurnaan hikmah Allah yang Maha Mengetahui untuk memilki ketidaksamaan dan perbedaan kualitas, untuk memiliki perbedaan keutamaan dalam beberapa hukum syari’at, juga dalam peran dan tugas-tugas masing-masing di antara keduanya. Yakni dalam bentuk fisik, sosok, kemampuan dan kompetensi dalam menjalankan tugas. Masing-masing juga diberi spesialisasi dalam menggeluti berbagai sektor kehidupan agar kehidupan ini menjadi paripurna.

Demikianlah kehendak Allah secara kauni (yang bersifat penciptaan) dan qadari (yang berupa takdir) dalam menciptakan bentuk fisik, struktur tubuh, danbakat alam kepada makhluk-Nya. Ada lagi kehendak Allah yang bersifat amri (perintah), hukmi (kebijakan hukum) dan tasyri’ (ketetapan syariat) di dalam perintah. Kedua bentuk kehendak Allah tersebut saling bertemu demi terciptanya kemaslahatan makhluk dan untuk memakmurkan alam semesta, selain juga demi keteraturan kehidupan individu, kehidupan rumah tangga, dan kehidupan masyarakat secara utuh. Pelajaran yang bisa diambil dari ketentuan hukum yang telah Allah berikan secara khusus kepada laki-laki dan perempuan adalah sebagai berikut:

  1. Beriman dan pasrah terhadap adanya perbedaan-perbedaan antara kaum laki-laki dan perempuan, baik yang bersifat konkrit, abstrak dan nilai keagamaan. Hendaknya masing-masing kita meridhai apa yang telah Allah tetapkan, baik yang bersifat qadrati maupun tuntunan syariat, dengan meyakini bahwa perbedaan-perbedaan ini adalah wujud ke-Maha-Adilan Allah untuk mengatur kehidupan manusia.
  2. Seorang muslim laki-laki dan perempuan tidak boleh berangan-angan mendapatkan apa yang telah Allah berikan secara khusus kepada jenis gender lain, dengan adanya perbedaan-perbedaan yang telah disebutkan. Karena sikap yang demikian sama halnya dengan membenci ketentuan yang telah Allah tetapkan, serta menunjukkan sikap tidak ridha terhadap hukum-hukum dan syariat Allah. Hendaknya seorang hamba memohon karunia dari Rabbnya. Itu merupakan adab yang sesuai dengan syariat yang yang bisa menghilangkan perasaan hasad sekaligus menempa jiwa insan yang beriman. Selain itu juga bisa melatih jiwa seorang mukmin untuk meridhai segala yang telah ditakdirkan oleh Allah. Dengan alasan itu Allah melarang sikap tersebut diatas dalam firman-Nya:

وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُواْ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-nisa’: 32)

  1. Apabila larangan (dalam ayat diatas) berlaku terhadaap sekedar berangan-angan (mendapatkan keutamaan yang Allah lebihkan kepada lain jenis) saja, maka bagaimana pula dengan orang yang mengingkari adanya perbedaan-perbedaan dalam ajaran syariat antara kaum pria dan wanita? Bahkan menyerukan agar perbedaan-perbedaan tersebut dapat dihapuskan, menunutu adanya persamaan dan mempropagandakannya dengan label “emansipasi”. Tidak diragukan lagi bahwa semua itu adalah teori kufur, karena mengandung unsur penentangan terhadap kehendak Allah yang bersifat penciptaan dengan adanya perbedaan-perbedaan yang konkrit maupun abstrak antara kedua jenis kelamin tersebut. Propaganda tersebut juga merupakan bentuk penentangan terhadap dalil-dalil syar’i yang secara tegas menjelaskan perbedaan antara kaum pria dan wanita dalam hukum-hukum yang banyak sekali. Seandainya persamaan itu diberlakukan dalam semua hukum yang ada, padahal antara dua jenis tersebut terdapat perbedaan bentuk fisik dan tingkat kompetensi. Niscaya hal itu bertolak belakang dengan fitrah, dan merupakan bentuk kedzaliman berat terhadap pihak yang lebih dari pihak yang lebih kecil keutamaannya. Hal itu tidak mungkin terjadi sedikit pun dalam syariat Allah yang Maha Adil.

Walaupun telah nyata dalam nash bahwa memang terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Namun para pengusung paham emansipasi masih memiliki dalih dengan ‘memelintir’ ayat-ayat Al Quran demi melegalkan tuntutannya. Daintara ayat yang mereka pelintir adalah firman Allah Ta’ala:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” (Al Baqarah: 228)

Sisi pendalilan mereka tentang ayat ini adalah bahwa Islam tidak membedakan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam semua haknya. Padahal pendalilan seperti itu tidak bisa dibenarkan, karena ayat tersebut masih ada kelanjutannya yang jelaas-jelas menunjukkan keutamaan kaum laki-laki (para suami) atas kaum perempuan (para istri) yaitu:

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya

Mereka juga ‘memelintir’ firman Allah Ta’ala yaitu:

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl: 97)

Sisi pendalilan mereka tentang ayat ini adalah bahwa Allah memberikan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan yang beriman dalam hal pahala, atas dasar itulah tidak ada perbedaan yang mendasar antara laki-laki dan permpuan dalam hak maupun kewajiban kecuali satu kelebihan yaitu memberi nafkah yang merupakan kewajiban suami (laki-laki). Padahal pendalilan mereka ini tidak benar, bahkan bertentangan dengan syariat dan akal sehat. Allah Azza wa Jalla tidaklah melebihkan kaum laki-laki atas kaum perempuan semata-mata hanya karena pemberian nafkah, bahkan lebih dari itu Allah melebihkan mereka disebabkan kepemimpinannya atas kaum perempuan (para istri) sabagaimana firman-Nya:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-nisa’: 34)

Beberapa kerusakan emansipasi:

  1. Sebuah bentuk perang terhadap Islam. Seruan emansipasi menyimpan perseteruan terhadap Islam. Selain itu mencerca, melecehkan, menumbuhkan kebencian dari berbagai sisi terhadap agama. Termuat dalam gerakan emansipasi: kerusakan akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan politik. Secara akibat, gerakan ini memuat seruan terhadap muslim untuk tidak mendekatkan diri kepada Allah. Sunyi dari rasa takut dan pengagungan kepad-Nya. Menumbuhkan dalam hati sebongkah pelecehan dan olok-olok terhadap kebenaran agama. Menjadikan seseorang ragu, menentang dan lari dari agamanya. Dari sisi ibadah, nyata sekali bahwa gerakan ini mengerdilkan, meremehkan terhadap siapapun yang menjaga berbagai bentuk peribadatan (yang selaras syariat)
  2. Merupakan bentuk seruan yang menyeleweng dari Islam. Karena gerakan tersebut melakukan penolakan yang bersifat keimanan pada hukum Allah, yaitu hukum syariat yang terakit pada kekhususan wanita dan pria. Maka gerakan ini telah nyata melakukan pembangkangan terhadap Allah dan Rasul-Nya, atau dalam bentuk melakukan berbagai penafsiran yang menyimpang sesuai dengan kepentingan dan selera gerakan emansipasi. Seperti pernyataan mereka bahwa Islam mendzalimi wanita, membelenggu wanita dengan menyuruh mereka tinggal di rumah dan ungkapan-ungkapan lainnya.
  3. Menyerukan permisivisme (serba boleh) dan menghalalkan segalanya. Sesungguhnya gerakan ini menyerukan keserbabolehan (permisiv) secara mutlak dan bebas tanpa batasan-batasan yang selaras dengan fitrah, akal sehat dan agama.
  4. Merupakab kumpulan dari berbagai macam kekufuran, baik secara keyakinan, ucapan maupun perbuatan
  5. Merupakan wujud seruan kekufuran Yahudi dan Nasrani. Karena senyatanya, gerakan emansipasi yang memperjuangkan hak-hak wanita merupakan program dakwah freemansory Zionis Yahudi, yang bersenyawa dengan orang-orang Nasrani. Dapat deketahui bahwa para penyeru emansipasi (sadar atau tidak) telah taat kepada Yahudi dan Nasrani, mulai dari bentuk organisasi, pernyataan, pendidikan, penyebaran dan dakwahnya dimana semuanya dilakukan sebagai upaya kearah kekufuran.
  6. Meniadakan (menolak) penerapan hukum-hukum syariat.
  7. Membiarkan dan membebaskan perzinaan.
  8. Membolehkan Nikah antara muslimah dengan orang kafir (tentunya dengan dalil kebebasan wanita).
  9. Tasyabbuh (penyerupaan) antara laki-laki dan perempuan (baik dalam cara berpakaian, perilaku dan lain-lain)

Yang perlu kita ketahui dalam masalah ini adalah bahwa wanita tidak akan menjadi nista kedudukannya tanpa emansipasi. Banyak orang menyangka bahwa ketika kita membicarakan perbedaan-perbedaan antara kaum laki-laki dan perempuan, berarti kita menghancurkan hak-hak wanita dan mendiskreditkan kewanitaan mereka. Padahal perbedaan antara kaum pria dan wanita adalah konsekuensi dari tabiat dan fitrah yang telah Allah ciptakan pada keduanya, di samping berbagai kekhususan yang Allah ciptakan pula pada kaum wanita, baik berupa fisik, serta tugas-tugas rumah tangga dan pendidikan anak yang dibebankan kepadanya dalam ruang lingkup keluarga. Semua itu bukanlah penghancur hak-hak wanita, bukan pula pelecehan terhadap peran dan eksistensi wanita. Bahkan tugas tersebut hakikatnya adalah tugas yang sangat penting, pekerjaan mulia yang tidak akan mampu dilakukan pria sehebat apa pun. Namun mereka pria dan wanita sama-sama memilki hak dan kewajiban sendiri-sendiri.

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda,

“Wanita adalah belahan jiwa kaum laki-laki” (riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad)

Artinya, mereka sama dengan kaum laki-laki dalam akhlak, hak dan kewajiban. Kaum wanita mempunyai hak-hak atas suami mereka sebagaimana kaum laki-laki memiliki hak atas mereka, tentunya dengan cara yang baik, hanya saja kaum laki-laki memiliki derajat diatas kaum wanita.

Rasyid ridha menegaskan, “ini merupakan kaidah universal yang menyatakan bahwa kaum wanita sama dengan pria, yakni sama-sama memiliki hak, kecuali satu hal yaitu kepemimpinan.”

Mengenai pembagian warisan seorang perempuan yang lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki, sebabnya adalah kerena laki-laki dibebani mahar dan diwajibkan mencari nafkah meskipun perempuan yang menjadi istrinya sudah kaya. Sementara persaksian seorang perempuan yang hanya dihitung setengah dari persaksian laki-laki sebabnya adalah faktor emosional lebih mendominasi wanita ketimbang akalnya. Terkadang seorang perempuan mudah lupa atau lemah tubuhnya, sehingga perlu diingatkan orang lain. Demikian juga di berbagai masalah lain yang membuktikan bahwa Allah tidak melebihkan laki-laki dari perempuan melainkan karena suatu hikmah dan kebaikan yang Allah inginkan, sebab Allah Maha Mengetahui para hamba-Nya dan apa yang terbaik buat kehidupan mereka. Allah azza wa Jalla berfirman,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (Al-mulk: 14)

Karena Allah menciptakan perbedaan-perbedaan antara kaum perempuan dan laki-laki yang pasti diketahui oleh siapa pun. Oleh sebab itu, orang-orang yang menyuarakan persamaan mutlak antara kedua jenis gender ini, semata-mata menyerukan sesuatu yang tidak ada landasan hukumnya, baik dari dasar fitrah maupun realitas yang dialami oleh umat manusia.

2 Responses to Emansisapi (makhluk apa sih….??)

  1. yanti says:

    Assalamualaykum.

    Mas…. didunia nyata… ada hal-hal yang harus di”jawab” dengan “emansipasi”…
    Miris ya… kalau sempat baca tulisanku tentang “e-mail dari Riyadh” di http://maaini.wordpress.com/

    Wassalammualaykum.

    Saya masih tidak paham, dgn perkataan mba…
    Kenapa harus dijawab dgn sesuatu yg tidak ada dasar hukumnya?

    Mengapa tidak kita kembalikan kepada Qur’an dan Sunnah saja?
    Bagi saya pribadi cukuplah 2 hal tersebut dgn pemahaman yg haq

    Wallahu’alam

  2. yanti says:

    That’s right… saya setuju 100%. Bahwa hanya Al-Qur’an dan Sunnah saja sumber-sumber hukum yang benar.

    Waktu saya “membaca e-mail dari Riyadh” sosok muslimah sebagai sosok yang seharusnya diayomi…. kabur… (tanpa bermaksud apa-apa ini adalah kejadian yang banyak terjadi dibelahan dunia manapun). Dan ketika kedzaliman sudah dalam taraf yang tidak tertahankan…, 3 sikap yang akan diambil oleh seorang hamba Allah. Yang pertama adalah pasrah…dalam ketidak berdayaan. Yang kedua akan berbalik menyerang untuk mempertahankan diri. dan yang ketiga… mengembalikan semuanya pada Allah sang Maha Pencipta.

    Jadi begitulah… ketika Hukum-hukum Allah tidak diterapkan sebagaimana mestinya timbul “jawaban” yang (mungkin) tidak seharusnya… seperti emansipasi yang banyak diserukan oleh wanita-wanita didunia.

    Maaf kalau saya… “gegabah” dalam menulis…
    Maaf…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: