Mengapa Engkau kini berbeda….?

Pemuda tiga puluhan tahun itu, heran benar dengan adiknya. Dulu, adik perempuannya itu begitu enerjik, dan cukup aktif dalam ormas dan partai Islam yang selama ini digandrungi anak-anak muda. Namun kini, setelah dia beberapa tahun hidup di lingkungan orang-orang bermanhaj salaf, dia tidak berminat dengan kegiatan-kegiatannya dulu. Bahkan, ia yang dulu begitu getol ‘berkampanye’ mendukung dan mempromosikan partainya, kini malah seperti tidak suka dengan partainya itu.

Dan sang kakak pun bertanya. “Mengapa engkau kini berbeda?”

Sang adik pun menjawab dengan tulisan,

Abang sayang, Abang tentu tahu, aku menjadi begini, setelah melewati proses yang cukup panjang. Sejak bekerja di lingkungan orang-orang bermanhaj salaf, aku menjadi lebih banyak mengerti tentang hal-hal yang sebelumnya tak kupahami, khususnya dlam soal agama.

Pada awalnya, aku memang kurang ‘sreg’ dengan mereka. Banyak sekali hal-hal yang dianggap bid’ah –menurut pemahaman mereka. Termasuk berpartai. Waktu itu aku benar-benar belum bisa menerima, mengapa partai-sebagai wadah dakwah-dianggap bid’ah?

Kalau mereka bilang bahwa rokok itu haram, aku bisa menerima, karena rokok memang jelas mudharatnya, dan tidak ada sisi positifnya sama sekali. Tapi kalau partai ‘dakwah’ dibilang bid’ah? Nanti dulu.

sakurahealed.pngSungguh, tidak mudah bagiku untuk ‘menerima’ kebenaran itu. Setelah banyak membaca tulisan-tulisan dari asatidz dan ulama ahlussunnah, juga mengikuti kajian mereka, Alhamdulillah, lama-lama aku bisa mengerti. Ternyata, untuk berdakwah itu juga harus menggunakan cara-cara yang sesuai sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam. Dan kita tahu Abang, berpartai bukanlah sunnah. Berpartai hanya akan memecah belah ummat. Lagipula , bukankah dalam demokrasi, yang menang adalah suara terbanyak? Walaupun suara mayoritas itu tidak menyauarakan kebenaran atau al-haq. Tapi dalam demokrasi, ia tetap harus didukung. Begitulah, Abang. Demokrasi bukan dari Islam, dan sangat tidak sesuai dengan Islam. Dulu aku ikut partai, karena aku belum mengerti semua itu.”

Sang kakak berusaha mengerti, walau masih merasa aneh dengan kebenaran itu.

Sementara adik semata wayangnya itu menerawang….mengingat masa itu, saat ia masih menjadi aktivis partai. Ia menyesal, karena dulu sempat di daulat untuk menjadi ketua panitia Hari Kartini, dengan kegiatan Lomba Senam Tera Ibu-ibu. Padahal seandainya ia mau berpikir, saat itu pun seharusnya ia tahu, bahwa senam ibu-ibu di temapt umum seperti itu dengan busana olahraga tentu jauh dari syar’i. memang, mencari massa sering dilakukan dengan berbagai cara. Naudzubillaah….”Ya Allah, ampuni aku,” gumamnya.

(Ummuna)

Tinggen malam hari, Mei 2007
Teriring salam tuk Abangku sayang.

Dari rubrik “Kolom Ummi” Majalah Nikah Vol 6, No.7 Oktober 2007

One Response to Mengapa Engkau kini berbeda….?

  1. abu fathan says:

    kisah menarik dan terharu akyu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: