Untitled

Entah kenapa sekarang saya jadi males untuk menulis, padahal semenjak ada si dia, seharusnya saya jadi semangat untuk menulis. Apalagi sudah didukung oleh akses internet dari kartu pascabayar starone saya yang baru. Tapi terbukti, blog ini sudah lama ga ter-update, sudah banyak sarang laba-laba bertebaran sana-sini karena saking tidak terurusnya. Padahal sudah banyak renungan-renungan kloset yang tertumpuk di otak saya, tetapi dasar saya tidak pandai merangkai kata-kata, apabila dipaksakan dari pengennya berkata bijak malah jatuhnya kelihatan aslinya bodoh dan gak berbobot. Seperti tulisan ini contohnya. Sudah beberapa hari ini juga saya juga kehilangan semangat membaca. Belum lagi selesai membaca buku yang satu, sudah males untuk meneruskannya, apalagi beberapa majalah yang saya borong karena ketinggalan beberapa edisi saat saya tugas luar kemaren, belum sempat saya sentuh, malahan keburu lecek-lecek setelah berusaha saya “jajakan” untuk dipinjam teman-teman kantor. Itung-itung sebagai sarana dakwah saya.

Memang ada beberapa hal yang membuat saya agak “sok” sibuk akhir-akhir ini. Lagi asyik dengan hal-hal yang baru, atau memang kondisi saya juga lagi terserang penyakit futur. Entah yang mana tapi mudah-mudahan hal ini tidak berlarut-larut.

Pertama, tugas kantor yang sebentar lagi saya jalani yaitu tugas melakukan pemeriksaan laporan keuangan salah satu pemerintah daerah di Sulawesi Barat yang kemaren juga sudah saya lakukan pemeriksaan pendahuluannya. Yang berbeda disini adalah ketika pemeriksaan pendahuluan kemaren, saya masih di back up oleh 2 orang yang terpercaya dan lebih senior. Sehingga ketua tim saya yang terkenal galak dan sering marah-marah kepada anggota tim yang laen masih bisa terkontrol oleh mereka berdua. Tetapi untuk pemeriksaan mendatang tidak ada yang memback-up saya, maka hal ini sangat mengganggu saya. Belum lagi berangkat, saya sudah terserang stress berat. Pengin rasanya saya tidak usah diikutkan tugas ini. Menyangkut tugas kantor ini yang notabene juga merupakan tugas negara, selain permasalahan dengan Ketua Tim juga banyak sekali permasalahan yang lainnya yang lebih menyiksa batin saya. Banyak sekali syubhat yang menyambar-nyambar disana, bila tidak hati-hati maka saya takut akan terjerumus kedalamnya. Kadang kala saya tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghindari syubhat-syubhat tersebut.

Bisa saya contohkan salah satu contoh sederhananya, sebagai seorang tamu mungkin sudah selayaknya untuk dijamu, namun saat menerima jamuan (makan malam misalnya), batin saya serasa bergejolak. Saya takut sekali jangan-jangan dikarenakan saya makan hidangan yang lumyan mewah ini, ada anak-anak sekolah yang tertimpa atap sekolahnya yang runtuh, ada keluarga miskin yang tidak mendapatkan haknya untuk membeli beras atau minyak goreng murah program pemerintah. Atau bahkan ada keluarga di sudut kota sana yang belum makan selama tiga hari, dan balita-balita yang di vonis menderita gizi buruk!!. Ingin rasanya saya bertanya kepada mereka, bapak, ibu yang saya hormati darimana dana yang bapak/ibu gunakan untuk hal semacam ini? Tapi apa daya, saya ini hanya anggota tim nomor empat, paling bontot, paling gak dipandang. Ingin sekali saya berkata pada ketua tim saya, Ibu ketua tim saya harap cukup sekali saja kita makan malam dengan mereka, toh kita juga sudah diberikan jatah uang makan dari kantor. Tapi apa daya saya cuma anak ingusan yang baru kemaren sore masuk dunia beginian, tidak paham dengan apa yang mereka sebut sebagai perbuatan membina hubungan baik. Contoh diatas hanya contoh kecil saja, masih banyak syubhat yang jauh lebih besar dari sekedar jamuan makan, yang tidak bisa saya sebutkan disini. Dari mulai syubhat harta sampai fitnah wanita. Yang membuat saya berpikir dan tertampar telak di wajah, bahwa seolah-olah kami sedang dicekoki, dibuai, di nina-bobokan dengan semua itu sehingga kita terlupa dengan tugas kita, sehingga mata kita tertutup dari sekian kebusukan yang mereka sembunyikan. Astaghfirullah…..hanya kepadaMu kami memohon perlindungan….. saya sempat dibuat menangis dengan ketidakmampuan saya menerima syubhat tersebut, tapi insyaAllah saya telah berlepas diri dari syubhat tersebut.

Kedua, sekarang saya lagi asyik belajar menjadi webmaster dadakan. Berawal dari keinginan untuk melanggengkan silaturahmi dengan angkatan saya yang sama-sama ditempatkan di instansi ini dan tersebar di seluruh bumi nusantara maka dibuatlah blog ini. Namun seiring waktu rupanya sarana blog sudah tidak relevan lagi dengan antusiasme kawan-kawan yang ada. Maka saya berniat membuatkan mereka sebuah situs. Masih berupa blog angkatan dan ditambah satu lagi sebuah forum yang nantinya diisi oleh alumni almamater yang sama yang kebetulan dinas pada instansi ini. Dengan forum tersebut diharapkan, orang-orang yang masih mempunyai idealisme dan mimpi yang sama bisa saling berinteraksi dan mewujudkan cita-cita yang sama, sebuah birokrasi yang berjalan sebagaimana seharusnya. Alih-alih (seperti kata teman saya) dengan radikal memotong saja generasi diatas kita, alangkah lebih baik jika kita yang InsyaAllah masih segar dan belum terkontaminasi semakin merapatkan barisan membawa panji-panji terdepan demi “merajut kembali masa depan negeri yang terkoyak”. Dan jadilah saya sibuk tanya sana-tanya sini tentang tips n trik mengelola dan membuat suatu website, sampai akhirnya situs pribadi saya terbengkalai.

Ketiga, ehm….ehm…sebenarnya saya agak malu menyebutkan hal ini sebagai bagian dari problem saya akhir-akhir ini. Resolusi besar tahun ini, dan seperti halnya resolusi besar tahun-tahun sebelumnya. Satu cita-cita semenjak saya memutuskan untuk (insyaAllah) hijrah dari dunia saya yang dulu. Satu keinginan yang saya ajukan sebagai alasan supaya kakak perempuan saya dan suaminya mau meminjamkan sedikit hartanya kelak. Resolusi yang masih belum terwujud, setidaknya sampai tulisan ini dibuat. Menikah.

Setelah kegagalan-kegagalan terdahulu (loh berarti banyak yah gagalnya….) yang sempat membuat saya putus asa. Eh ternyata, keinginan itu muncul kembali, memang topik ini sangat menarik untuk dibicarakan. Suatu ketika bisa saja tenggelam tak berbekas, lain waktu muncul secara tiba-tiba dan malah semakin menggebu-gebu. Entah sampai kapan resolusi ini masih harus saya tulis besar-besar dalam peta kehidupan saya, mungkin seperti yang Ibnu Mas’ud Radyiallahu’anhu katakan, ”sekalipun usiaku tersisa 10 hari, maka aku lebih suka menikah, agar diriku tidak membujang ketika bertemu Allah”.

Mungkin alasan-alasan diatas terkesan konyol untuk dituliskan disini, namun setidaknya hal itu mengisi kesenggangan antara posting sebelumnya. Dan membebaskan diri saya dari golongan Blogger angin-anginan. Karena bulan depan saya terpaksa vakum lagi dari blogsphere karena tugas luar kota lagi. Mohon do’anya dari rekan-rekan sekalian agar saya selamat dari syubhat yang ada.

2 Responses to Untitled

  1. stanbpk says:

    Rabb, tsabbit qolbii ‘alaa diinik

    “Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu.” (HR. Tirmidzi, hasan)

    Bertahanlah Kawan….Saya Yakin Kita Bisa… Mewujudkan Mimpi Itu….
    Jangan Pernah Terlena akan Silaunya Dunia
    Mari “Bersama Merajut Masa Depan Negeri Yang Terkoyak”

  2. muza says:

    semoga semua impian bisa diwujudkan dan semoga dimudahkan dalam segala urusan, aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: