Bakti kepada Ibunda

August 11, 2008

Jangan tanya berapa usianya, karena sejak lahir, ia tidak pernah dibuatkan selembar surat bernama Akta Kelahiran oleh kedua orang tuanya di kampung. Ia lahir dan besar di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan. Allah mengaruniainya banyak anak. Karena himpitan ekonomi yang mendera ia dan mendiang suaminya memilih hijrah ke kota Makassar, mencoba peruntungan nasib. Guratan usia dan himpitan ekonomi terlihat jelas di wajahnya yang sepertinya tak pernah tersentuh bedak, apalagi lipstik dan wangi-wangian.

Sudah cukup lama ia hidup sendiri, tidak jauh dari perempatan jalan Urip Sumohardjo dan A.P. Pettarani, Makassar. Anak-anaknya, setelah berkeluarga, pergi meninggalkan. Tak ada lagi yang peduli. Dalam kesendiriannya, ia tak mau berpangku tangan apalagi bermalas-malasan. Haram baginya menengadahkan tangan, meminta belas kasihan orang lain, meski hal itu bisa saja dilakukannya. Ia memilih bertahan hidup dengan menjajakan jagung bakar bagi para pengguna jalan. Sebuah nampan lebar, sebotol minyak tanah dan tumpukan kayu bakar tua setia menemaninya. Ia berjualan tak jauh dari rumah reotnya, karena kedua kakinya yang lumpuh, tak mampu lagi menyanggah beban tubuhnya yang mulai renta.

klik untuk lanjut membacanya……

Advertisements

Sandiwara Langit

July 26, 2008

Judul Buku : Sandiwara Langit

Tebal Buku: 200 halaman

Penulis: Al Ustadz Abu Umar Basyier

Penerbit: Shofa Media Publika

Harga: Rp28.000,00

Cerita Saya dibalik buku ini

Saat itu saya sedang ada keperluan untuk berkunjung kembali ke Ibu Kota. Di sana saya memanfaatkan kesempatan untuk bertemu dengan beberapa ikhwan yang selama ini hanya saya kenal via internet (ana uhibbukum fillah). Dan bertemulah kami semua di tempat yang telah disepakati yaitu saat kajian ustadz Abdul Hakim di masjid Al Mubarak Gajah Mada. Setelah kajian usai, kebetulan saya juga berniat untuk pergi ke kwitang di bilangan senen untuk memenuhi kembali hasrat lama saya berbelanja buku di sana seperti dulu kala saat saya masih di kantor pusat. Dan secara kebetulan pula, salah satu ikhwan (abu yahya) bermaksud untuk menitipkan sebuah buku kepada saya untuk diberikan kepada rekannya (abu naufal) yang juga tinggal di Makassar.

Di kwitang kami bertemu kembali dengannya, setelah memberikan buku yang dimaksud ikhwan tadi berpamitan dengan saya, tak lupa saya ucapkan terimakasih atas pertemuannya dan iseng saya tanyakan dimana dia membeli buku tersebut. Kami segera bergegas mencari toko yang dimaksud, karena menurut penuturan ikhwan tadi, di toko ahlussunnah dan toko buyung (yang biasa saya sambangi) telah habis buku tersebut. Karena saya tertarik dengan cerita ikhwan tadi tentang buku ini dan juga di dukung oleh kegemaran saya menikmati tulisan sang ustadz di majalah nikah akhirnya saya putuskan untuk membeli juga.

baca resensi selengkapnya………..


Akhirnya… Cintaku Berlabuh Karena Allah

December 27, 2007

takakkawfalls2_edit.jpg

Awalnya Aku bertemu dengannya di sebuah acara yang di selenggarakan di rumahku sendiri, gadis itu sangat berbeda denga cewek-cewek lain yang sibuk berbicara dengan laki-laki dan berpasang-pasangan. Sedangkan dia dengan pakaian muslimah rapi yang dikenakannya membantu mamaku menyiapkan hidangan dan segala kebutuhan dalam acara tersebut. Sesekali gadis itu bermain di taman bersama anak-anak kecil yang lucu, kulihat betapa lembutnya dia dengan senyuman manis kepada anak-anak. 

Dari sikapnya itulah aku tertarik untuk mengenalnya, akhirnya dengan pede-nya kuberanikan diri untuk mendekatinya dan hendak berkenalan dengannya. Namun, kenyataannya dia menolak bersalaman denganku, dan Cuma mengatakan, “maaf” dan berlalau begitu saja meninggalkanku. Betapa malunya aku dengan teman-temanku yang ada di sekitarku. “ini cewek kok jual mahal banget! Padahal begitu banyak cewek yang justru berlomba-lomba mau jadi pacarku. Dia, kenalan saja tidak mau!” ujarku.

  Read the rest of this entry »


Aku Datang Maisya…!!

December 18, 2007

Aku telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.

Gadis yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. Ada juga yang aku dapatkan dari orang yang aku kenal baik, dan sudah kujalani “prosedurnya”. Tapi ternyata kandas karena aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah.

Akhirnya , aku kenal dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria. Aku mengenalnya dengan perantaraan teman dekatku. Jujur saja, aku telah mendapat biodatanya, juga gambaran wajahnya. Langsung saja kukatakn pada teman dekatku bahwa aku sangat-sangat setuju.

“Eh, ente (kamu) harus ketemu dulu dan tahu dengan baik siapa dia,” kata temanku.

Tapi kujawab enteng, “Tapi ane (aku) langsung sreg kok”.

“Ya sudah, terserah ente aja lah,” sahut temanku sambil geleng-geleng kepala.

Karena aku yakin pacaran jelas-jelas dilarang dalam Islam sebab hal itu adalah jalan menuju zina, aku pun tak menjalaninya. Jangankan zina, hal-hal yang akan mengarahkan kepadanya saja sudah dilarang. Oleh karena itu, aku hanya menunggu waktu kapan ada pembicaraan awal antara aku dan Maisya (akhwat incaranku itu). Sabar deh, sementara ikuti saja seperti air mengalir.

Read the rest of this entry »