Jakarta dan Hujan

August 11, 2008

Aku menembus gelap malam

Diantara Rintik hujan

Saat angin Jakarta bertiup dengan kencangnya

Hanya untukmu

Dan ketika rintiknya semakin deras

Aku bertambah bahagia

Hujan telah menahanku untuk tetap disini

Disini

Sampai saat ini pun

Kala hujan turun, aku akan selalu tersenyum

Hujan akan mengenangkanku akan dirimu

(Tengah Malam 21 Rajab 1429 menunggu hujan di bulan Juli)

klik untuk membaca lebih lanjut

Advertisements

Syair Aqidah Muslim

August 2, 2008

Jika pengikut Ahmad adalah wahabi, maka aku akui bahwa diriku wahabi.

Kutiadakan sekutu bagi Tuhan, maka tak ada Tuhan bagiku selain Yang Maha Esa dan Maha Pemberi.

Read the rest of this entry »


Aku dan Gunung-gunung Itu

July 1, 2008

Gunung gunung itu masih gagah berdiri,
tanpa pernah kutaklukkan.
Aku hanya berjalan di tanahnya,
menyusuri hutannya,
menembus kabutnya.

Gunung gunung itu masih tinggi menjulang,
tanpa pernah kutaklukkan.
Aku hanya menapaki puncaknya,
bangga sesaat.
Aku harus turun lagi,
bertempur lagi dengan hari hari yang biasa.

Perjalanan perjalanan itu selalu memukauku.
Setiap gunung memiliki misteri masing masing.
Setiap gunung mempunyai ajaran sendiri.
Banyak nilai yang bisa digali,
dan aku menikmatinya.

Aku tak pernah tahu, mengapa harus mendaki.
Aku tak pernah bisa menjawab, saat orang bertanya,
“Apa sih enaknya naek gunung ?”

yang aku tahu,
gunung gunung itu selalu memberikan damai,
Keheningan yang memabukkan.
Memaksaku untuk datang lagi, dan lagi.
Memaksaku untuk berjalan lagi, dan lagi.
Entah sampai kapan.

Aku tak pernah bisa menjawab,
ketika banyak orang bertanya,
“kenapa harus capek – capek naek gunung, kalo akhirnya harus turun lagi?”

Yang aku tahu,
Gunung gunung itu memberikan hari hari yang berbeda,
memberikan hari hari yang tidak biasa.
Mengajariku untuk terus berjalan ke arah tujuan.
Mengajariku untuk terus berjuang meraih tujuan.
Mengajariku tentang kesabaran,
menunjukkan padaku tentang semangat yang tak boleh padam.
Memberiku kesempatan untuk dekat dengan Langit.

Aku tidak pernah tahu jawabnya,
saat orang bertanya,
“kenapa si, banyak orang yang suka naek gunung ?”

Yang aku tahu,
gunung gunung itu memberiku teman teman baru,
menunjukkan kepadaku tentang manusia-manusia sejati
dengan daya juang yang luar biasa.
Memperlihatkan kepadaku tentang persahabatan alami,
persahabatan yang jujur.
Menunjukkan kepadaku wajah-wajah polos diri,
wajah-wajah yang terbuka, tanpa topeng.

di tempat dingin itu, aku menemukan diriku,
menemukan lemahku,
menemukan rendahku,
menemukan jahatku,
menemukan curangku,
menemukan topengku.

dan aku pun mencibir sombongku,
memaki kerakusanku,
mencemooh kepalsuanku.

diantara basah itu,
aku sadar,
aku adalah kecil.
aku adalah kecil.

Gunung gunung itu masih disitu.
Tanpa pernah kutaklukkan.

endji787/06

Dulu…
Hanya berbekal beberapa puluh ribu
Kini…
Yang aku butuh hanya sedikit waktu

berpuluh kilo aku tempuh
berpuluh kilo di punggungku
dengan badan sekurus itu

ibuku bilang aku tambah gagah
tapi aku tak yakin apakah masih sanggup melangkah

haruku mengingat masa itu
banggaku mengenang jayaku


Dua Sajak Lama

April 27, 2008

Biar blog ini kelihatan aktif, sementara belum ada tulisan yang bisa saya hasilkan. Lebih baik saya muat sajak lama yang saya buat dahulu kala. Walaupun jelek, tapi toh saya sudah berusaha. Maklum saya bukan Chairil Anwar, Soe Hok Gie, Kahlil Gibran, atau Sapardi Djoko Darmono yang puisinya banyak di nukil sama mba Diary Hujan. Bahkan saya juga bukan Soetarji Chalsoem Bachri yang puisinya banyak dinukil guru bahasa SMP saya dulu, salah satunya adalah Syairnya yang dibacanya sambil Mabuk yang berjudul ka-win, yang tidak lain hanya berisi dua suku kata tersebut yang dibolak-balik saja (dasar guru saya dan idolanya sama-sama gila).

Karena saya masih rindu dengan Ibu Kota saya mulai dengan sajak yang saya buat ketika mengadakan rapat di Lantai 10 Gedung BPK-RI Pusat, sekitar pukul 17.25 WIB. Berikut adalah buah keisengan saya di tengah-tengah rapat yang agak serius.

kalo mo tau ke-isengan saya klik saja lagi…..


Mandalawangi, 3 Desember 2006

December 27, 2007

Kabut mulai turun lagi ke lembah ini

Aroma basah tanah, dan hijau lumut terbawa angin

Eddelweissku belum lagi mekar

Tapi kecupan hangat sang embun pun menenangkanku   Read the rest of this entry »


Dalam Pembaringanku Sendiri

December 18, 2007

 

Aku terbungkus kain putih yang suci

Dari ujung kepala hingga ujung kaki

Gelap dalam  pembaringanku sendiri

Tidak ada jalan  kemanapun bagiku disini

 

Makhluk dari cahaya dalam perjalanannya

Mereka akan bertanya kepadaku

Apakah aku mengenal Rabbku?

Apakah aku mengenal Nabi-Nya?

 

Apakah aku berada di jalan yang benar?

Ataukah aku selalu dalam kesesatan?

Benarkah aku takut kepada Allah?

Apakah aku ikhlas ketika beribadah?

  Read the rest of this entry »